Dua Sayap Kebangsaan: Menatap Harmoni Islam dan Pancasila Dari Masa ke Masa
Artikel Umum Islami

Dua Sayap Kebangsaan: Menatap Harmoni Islam dan Pancasila Dari Masa ke Masa

June 01, 2026 3 min read
CMS Profile
Published on June 01, 2026
Last updated: Jun 01, 2026
Dua Sayap Kebangsaan: Menatap Harmoni Islam dan Pancasila Dari Masa ke Masa

Dua Sayap Kebangsaan: Menatap Harmoni Islam dan Pancasila Dari Masa ke Masa

"Menerima Pancasila bukanlah kompromi keimanan, melainkan sebuah kesepakatan luhur untuk menjaga rumah besar bernama Indonesia. Menjadi Muslim yang taat secara otomatis menjadikannya seorang Pancasilais yang sejati."

Dua Sayap Kebangsaan: Menatap Harmoni Islam dan Pancasila Dari Masa ke Masa

 

Perjalanan mendampingkan Islam dan Pancasila di Indonesia tidak selalu berjalan mulus. Di balik kedamaian yang kita rasakan hari ini, ada sejarah panjang yang menuntut kedewasaan spiritual dan kejernihan berpikir para ulama terdahulu untuk mengakhiri sebuah era ketegangan ideologis. 

 

Romantika Sejarah: Ketegangan yang Dipicu Politik Orde Baru

 

Memasuki era 1980-an, stabilitas politik menjadi komoditas utama pemerintah Orde Baru. Melalui UU Organisasi Kemasyarakatan, negara memaksakan doktrin Asas Tunggal Pancasila kepada seluruh elemen bangsa, termasuk ormas-ormas Islam.

 

Kebijakan sepihak ini sempat melahirkan benturan batin dan kecurigaan dua arah: 

- Skeptisisme Umat: Muncul kekhawatiran teologis bahwa penguasa ingin mereduksi kesucian wahyu agama (Al-Qur'an dan Sunnah) untuk disetarakan dengan ideologi buatan manusia.  

- Represi Penguasa: Negara dengan mudah melabeli kelompok-kelompok kritis yang menolak penyeragaman asas ini sebagai gerakan subversif atau anti-pemerintah. 

 

Khittah Situbondo 1984: Solusi Teologis dari Jantung Pesantren

 

Kebuntuan sejarah ini akhirnya berhasil diselesaikan bukan lewat jalur konfrontasi, melainkan melalui kedalaman ijtihad para kiai. Pada Muktamar NU ke-27 di Situbondo tahun 1984, KH. Achmad Siddiq bersama Gus Dur melahirkan rumusan historis yang mencerahkan: 

 

Pancasila adalah platform dasar dalam bernegara, sedangkan Islam adalah akidah keagamaan. Keduanya berjalan seiring dan tidak perlu saling mengalahkan."

 

Para ulama menegaskan bahwa Sila Ketuhanan Yang Maha Esa*adalah cerminan dari prinsip Tauhid. Dengan demikian, menerima Pancasila bukanlah bentuk kompromi keimanan, melainkan sebuah kesepakatan luhur kalimatun sawa untuk menjaga rumah besar bernama Indonesia. 

 

Wajah Baru Hari Ini: Nilai Pancasila Sebagai Amal Saleh

 

Saat ini, pertentangan lama tersebut telah sepenuhnya usai. Umat Islam Indonesia telah naik kelas dalam memandang ideologi negara melalui perspektif yang lebih substantif: 

 

- Konsensus yang Suci ( Darul Ahdi wa Syahadah ): Indonesia dipandang sebagai kesepakatan mulia para pendiri bangsa (termasuk para ulama). Tugas umat hari ini adalah membuktikannya lewat kontribusi nyata syahadah yang membawa maslahat. 

- Spiritualisasi Ideologi: Kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan tidak lagi dilihat sebagai konsep sekuler, melainkan implementasi langsung dari ajaran universal Islam Rahmatan lil 'Alamin.

- Perisai Keragaman:** Di tengah arus radikalisme transnasional dan polarisasi dunia digital, Pancasila disadari sebagai tali pengikat yang paling sakti dalam menjaga keutuhan bangsa. 

 

Kesimpulan

 

Refleksi Kesaktian Pancasila bagi umat Islam hari ini adalah tentang merayakan kedewasaan. Pancasila adalah warisan spiritual dari para leluhur yang harus dihidupkan lewat tindakan nyata: menegakkan keadilan, merawat kemanusiaan, dan menjaga keutuhan bangsa. Ditulis oleh Gus Isqowi Maestro Dzikir & Muhasabah, Founder Rumah Dai, dan Pengasuh Majlis Pulang.

Tags

#education

Related Articles

HIDUP BERSAMA ALLAH
Artikel Umum Islami Apr 21, 2026

HIDUP BERSAMA ALLAH

Gus Isqowi adalah pemandu dzikir dan muhasabah yang menghadirkan ketenangan hati. Undang untuk acara...

Read More →
Chat with us on WhatsApp