<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> 
  <rss version="2.0"><channel> 
				<title>RSS Harmoni Indonesia - Aktual,Terpercaya dan Lengkap</title> 
				<description>https://harmoniindonesia.my.id/</description>
				<link>https://harmoniindonesia.my.id/</link> 
				<language>id-id</language><item>
						                <title>Buku Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara: Memahami Kedudukan, Nilai, dan Implementasi </title>
						                <link>https://harmoniindonesia.my.id/berita/detail/buku-pancasila-dalam-kehidupan-berbangsa-dan-bernegara-memahami-kedudukan-nilai-dan-implementasi-</link>
						                <description>Harmoni Indonesia - Dalam momentum peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026, sebuah karya akademik yang relevan dengan tantangan kebangsaan masa kini resmi diluncurkan, yaitu buku "Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara: Memahami Kedudukan, Nilai, dan Implementasi Pancasila" karya Dr. Sapta Baralaska Utama Siagian, M.Th,Alumni PPRA RI Lemhannas RI Angkatan 54 Tahun 2016 dan Editor Dr Ardianus Hulu MPd Dosen STT Biblika Jakarta. Buku ini diterbitkan oleh PT Ganesha Kreasi Semesta yang telah ber ISBN dan hadir sebagai kontribusi nyata dalam memperkuat pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai luhur Pancasila di tengah era digital dan globalisasi. 

Dalam buku setebal lebih dari 300 halaman ini, penulis Dr Sapta Baralaska Utama Siagian yang juga Pencerama Ahli Madya Utama di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mengupas secara komprehensif berbagai aspek Pancasila, mulai dari sejarah perumusan, kedudukan sebagai dasar negara, implementasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, hingga tantangan Pancasila di era digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Buku ini disusun dengan pendekatan multidisipliner yang mengintegrasikan perspektif historis, filosofis, yuridis, dan sosiologis. Lahirnya buku ini dilandasi oleh keprihatinan terhadap berbagai tantangan kebangsaan yang muncul akibat penetrasi ideologi transnasional, polarisasi sosial, intoleransi, radikalisme, serta derasnya arus informasi digital yang memengaruhi generasi muda Indonesia. Oleh karena itu, buku ini hadir sebagai sarana edukasi sekaligus penguatan karakter kebangsaan yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.  Kehadiran buku ini diharapkan dapat menjadi referensi penting bagi mahasiswa, dosen, guru, peneliti, aparatur pemerintah, tokoh masyarakat, serta seluruh warga negara yang memiliki kepedulian terhadap masa depan Indonesia. Sebagai buku ajar Pendidikan Pancasila, karya ini juga dirancang untuk mendukung implementasi pendidikan karakter dan penguatan wawasan kebangsaan  Melalui buku ini, Dr. Sapta Baralaska Utama Siagian mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan Pancasila bukan sekadar hafalan, melainkan pedoman hidup yang membimbing langkah bangsa menuju Indonesia Emas 2045 yang maju, adil, makmur, dan bermartabat. (spts)
</description>
					                </item><item>
						                <title>Yosua Intelejen terbaik dunia menaklukan Tanah Perjanjian</title>
						                <link>https://harmoniindonesia.my.id/berita/detail/yosua-intelejen-terbaik-dunia-menaklukan-tanah-perjanjian</link>
						                <description>Harmoni Indonesia - Dunia akademik, teologi, dan kepemimpinan Indonesia kembali mendapatkan kontribusi pemikiran baru melalui hadirnya buku “Yosua Sang Intelejen Tuhan: Strategi Ilahi dalam Menaklukkan Tanah Perjanjian” karya Dr. Sapta Baralaska Utama Siagian, M.Th.  Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Ganesha Kreasi Semesta dan menawarkan pendekatan segar dalam memahami Kitab Yosua melalui perspektif intelijen strategis, kepemimpinan, dan manajemen modern.  Dalam buku ini, Yosua tidak hanya dipandang sebagai tokoh Alkitab atau panglima perang Israel, melainkan sebagai figur pemimpin visioner yang mengintegrasikan iman, strategi, keberanian, dan kecerdasan dalam menjalankan mandat Tuhan. Penulis memperkenalkan konsep “Hermeneutika Strategis”, yakni pendekatan interdisipliner yang menghubungkan teks Alkitab dengan teori intelijen, kepemimpinan, dan strategi kontemporer. 

Menurut Dr. Sapta Baralaska Utama Siagian, buku ini lahir dari keprihatinan terhadap krisis integritas dan visi kepemimpinan di era modern. Di tengah dunia yang semakin bergantung pada teknologi dan data besar, manusia sering kehilangan arah moral dan spiritual dalam mengambil keputusan. Karena itu, buku ini hadir sebagai refleksi bahwa kepemimpinan sejati harus berakar pada nilai-nilai ilahi dan integritas karakter.  Editor buku ini adalah Komjen Dr. Martinus Hukom, Perna menjabat Kepala BNN dan Juga Kepala Densus Anti Teror 88 Mabes Polri,sosok Intelejen terbaik dinegeri ini. Melalui karya ini, Dr. Sapta Baralaska Utama Siagian mengajak pembaca untuk melihat bahwa strategi, intelijen, dan kepemimpinan bukan sekadar urusan duniawi, melainkan bagian dari panggilan ilahi untuk menghadirkan transformasi bagi bangsa, gereja, dan masyarakat. (spts )

 
</description>
					                </item><item>
						                <title>Menggugat Fraksi, Mengusik Oligarki</title>
						                <link>https://harmoniindonesia.my.id/berita/detail/menggugat-fraksi-mengusik-oligarki</link>
						                <description>Harmoni Indonesia -  Advokat senior, Saor Siagian, resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Hukum ke-50 di Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI) setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul “Reformasi Sistem Perwakilan Rakyat dengan Pembubaran Fraksi dalam DPR demi Memulihkan Kedaulatan Rakyat Berlandaskan Demokrasi Pancasila dan Konstitusi” Ruang sidang itu semula tenang.hingga satu pernyataan dalam disertasi doktoral memecah kelaziman: fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat sebaiknya dibubarkan. Gagasan itu datang dari Saor Siagian tajam, ringkas, dan mengundang tanya. Di tengah sistem politik yang telah lama bertumpu pada partai, usulan tersebut terdengar seperti mengguncang fondasi rumah yang sudah berdiri puluhan tahun. Selama ini, fraksi adalah jantung kerja parlemen. Di sanalah sikap politik dirumuskan, disiplin partai ditegakkan, dan arah kebijakan dipagari. Namun, bagi Saor, justru di titik itu persoalan bermula. Fraksi dinilai menjadi kepanjangan tangan elite partai membatasi kebebasan anggota dewan, bahkan kerap mengaburkan mandat utama sebagai wakil rakyat. Ia menilai, ketika keputusan politik lebih ditentukan oleh garis partai ketimbang aspirasi konstituen, maka demokrasi kehilangan rohnya. Wakil rakyat berubah menjadi “perpanjangan struktur”, bukan suara publik. 

Dalam logika itulah, pembubaran fraksi bukan sekadar perubahan teknis, melainkan upaya memangkas mata rantai oligarki politik. Gagasan ini tentu tak berdiri tanpa risiko. Sistem parlemen modern, termasuk di Indonesia, dirancang dengan basis kepartaian. Fraksi berfungsi menjaga keteraturan, mempercepat konsolidasi, dan menghindari fragmentasi. Tanpanya, DPR bisa berubah menjadi arena individu tanpa koordinasi—penuh suara, tetapi minim arah. Sejumlah pengamat menilai, usulan tersebut lebih tepat dibaca sebagai kritik akademik ketimbang resep kebijakan instan. Sebab, membongkar fraksi berarti menyentuh jantung sistem politik: relasi antara partai, parlemen, dan kekuasaan. Perubahan semacam itu menuntut revisi besar, bukan hanya pada tata tertib DPR, tetapi juga desain demokrasi itu sendiri. Meski demikian, resonansi gagasan ini tak bisa diabaikan. Di tengah meningkatnya kecurigaan publik terhadap dominasi partai dan praktik oligarki, kritik terhadap fraksi menemukan momentumnya. Ia menjadi cermin memantulkan pertanyaan lama yang belum terjawab: sejauh mana wakil rakyat benar-benar mewakili rakyat? Disertasi Saor Siagian mungkin tidak serta-merta mengubah wajah parlemen. Namun, ia telah membuka ruang diskusi yang kerap dihindari. Tentang siapa yang sesungguhnya berkuasa di balik kursi legislatif. Dan tentang kemungkinan betapapun kecilnya mengembalikan parlemen kepada mereka yang diwakilinya.

 (sapta siagian )
</description>
					                </item><item>
						                <title>Benteng Kasih di Tengah Riuh Bonataon Siahaan</title>
						                <link>https://harmoniindonesia.my.id/berita/detail/benteng-kasih-di-tengah-riuh-bonataon-siahaan</link>
						                <description>Harmoni Indonesia -  Suasana Minggu, 3 Mei 2026, sepenuhnya hangat ketika ribuan orang mulai berdatangan. Dari berbagai penjuru Jabodetabek, Karawang, hingga Bandung mereka menuju satu titik perjumpaan: Pesta Partangiangan PPRH Siahaan. Sebuah perhelatan yang sempat terhenti selama enam tahun, kini kembali digelar dengan semangat yang tak surut, bahkan meluap. Panitia menargetkan kehadiran 2.000 orang. Namun angka itu segera terlampaui. Hampir 3.000 orang hadir, terdiri dari sekitar 2.400 orang dewasa dan 600 anak-anak. Deretan kursi yang disiapkan tak lagi cukup menampung antusiasme. Sebagian berdiri, sebagian lain rela berdesakan bukan karena terpaksa, melainkan karena rindu akan kebersamaan yang lama tertunda. Di balik kelancaran acara, berdiri sosok Pdt. M. Pardamean Siahaan, M.Th., yang dipercaya sebagai ketua panitia. Ia bukan hanya memimpin secara organisatoris, tetapi juga menjaga agar perayaan ini tetap berakar pada makna rohani: syukur dan persekutuan.

Acara dibuka dengan ibadah syukur pada pukul 09.20 WIB. Pdt. Janfrido M. Siahaan Alumni STT Jaffray Jakarta  didampingi Pdt. Demak Siahaan sebagai liturgos. Tema yang diangkat, “Keluarga Allah adalah Benteng Kasih” (Roma 12:10), terasa menemukan konteksnya di tengah kerumunan itu—sebuah refleksi tentang keluarga yang tak sekadar terikat darah, tetapi juga nilai. Pesta Bonataon, dalam tradisi Batak, bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah pengingat kolektif akan perjalanan panjang tentang penyertaan Tuhan di masa lalu, pergumulan hari ini, dan harapan yang dititipkan pada masa depan. Di sana, identitas tidak hanya dirayakan, tetapi juga dirawat.

Nama-nama donatur disebut dengan penuh hormat. Keluarga Otto Hasibuan, keluarga Mayjen (Purn.) Franzent Siahaan, keluarga Manuara Siahaan yang anggota DPRD DKI Jakarta , hingga keluarga Ferdinand Siahaan, menjadi bagian dari jejaring solidaritas yang menopang acara ini. Namun lebih dari sekadar dukungan materi, kehadiran mereka menegaskan satu hal: kebersamaan masih menjadi nilai yang hidup.Menjelang siang hingga sore , suasana mencair. Panggung hiburan diisi lagu-lagu pujian yang dibawakan oleh para penyanyi dari kalangan sendiri. Bukan soal kualitas panggung, melainkan keintiman yang tercipta. Lagu-lagu itu dinyanyikan bukan untuk ditonton, tetapi untuk dirasakan bersama.
Di sela-sela acara, tortor tarian khas Batak menjadi medium komunikasi yang tak membutuhkan kata. Gerak tubuh, uluran tangan, dan irama gondang menghadirkan makna tentang saling menghormati dan melayani. Tradisi itu bertahan, bahkan di tengah zaman yang terus berubah. Acara berlangsung  padat, namun terasa singkat bagi mereka yang hadir. Di penghujung acara, tersisa lebih dari sekadar kelelahan fisik. Ada rasa pulang pada akar, pada keluarga, pada iman. Pesta Bona Taon   selesai dalam hitungan jam. Namun pesan yang diusungnya tentang keluarga sebagai benteng kasih menyisakan pekerjaan panjang. Sebab pada akhirnya, yang diuji bukanlah kemeriahan acara, melainkan bagaimana nilai itu hidup dalam keseharian.
Di tengah dunia yang kian individualistis, Bonataon Siahaan seperti mengingatkan: bahwa kebersamaan, sejauh ini, masih dirawat dengan sukacita (sapta )
</description>
					                </item><item>
						                <title>SMOKER Caffee & Eatery menjual rasa dan Kualitas</title>
						                <link>https://harmoniindonesia.my.id/berita/detail/smoker-caffee--eatery-menjual-rasa-dan-kualitas</link>
						                <description>Harmoni Indonesia - Di sebuah ruas jalan Raya Pondok. Gede No.1, RW.3, Halim Perdanakusuma, Kec. Makasar, Kota Jakarta Timur,, Smoker - Smokehouse and Coffee berdiri yang pertama menyergap bukanlah desain interior, melainkan aroma: asap kayu yang hangat, pekat, dan mengundang lapar.
Di sinilah konsep smokehouse—yang lazim ditemui di Amerika—diterjemahkan ke dalam konteks kafe Kepulan tipis aroma brisket yang dipanggang perlahan menjadi semacam “iklan diam” bagi pengunjung menu andalan mereka tak jauh dari teknik memasak yang mengandalkan waktu dan kesabaran. Daging sapi diproses berjam-jam hingga teksturnya lunak, seratnya mudah terurai, dengan lapisan rasa asap yang meresap hingga ke dalam. Ribs, brisket, dan olahan smoked lainnya menjadi tulang punggung menu. Di antara itu, kopi hadir sebagai penyeimbang—mengikat konsep kafe yang tidak sepenuhnya serius sebagai restoran berat.
Smoker mengambil jalur yang relatif berbeda. Ia tidak menjual kemewahan, juga bukan sekadar tempat “instagramable”. Daya tarik utamanya justru pada rasa yang spesifik—smoky, kuat, dan konsisten. Sesuatu yang tidak selalu mudah ditemukan di kota Jakarta. bagi sebagian orang, penantian itu justru menjadi bagian dari ritus: seporsi daging asap yang dimasak dengan waktu panjang. Pada akhirnya, Smoker - Smokehouse and Coffee bukan sekadar kafe. Ia adalah penanda bahwa selera masyarakat terus bergerak mencari sesuatu yang lebih dari sekadar kenyang. Mencari pengalaman. Dan di sini, pengalaman itu datang dalam bentuk asap. (sapta )
</description>
					                </item><item>
						                <title>Mengabdi di Udara dan Ilmu: Jejak Sovian Aritonang</title>
						                <link>https://harmoniindonesia.my.id/berita/detail/mengabdi-di-udara-dan-ilmu-jejak-sovian-aritonang</link>
						                <description>Harmoni Indonesia -  Di tengah tuntutan profesionalisme militer yang kian kompleks, hadir figur perwira yang tidak hanya menapaki karier di langit pengabdian, tetapi juga di ranah akademik. Sovian Aritonang, seorang perwira tinggi TNI Angkatan Udara berpangkat Marsekal Pertama (Marsma), dikenal sebagai sosok yang memadukan disiplin militer dengan kedalaman intelektual.juga Pribadi yang takut akan Tuhan. Dalam struktur Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara, pangkat Marsma menandai posisi strategis sebagai perwira tinggi bintang satu. Peran yang diemban tidak hanya berkutat pada operasi udara, tetapi juga mencakup perumusan kebijakan, pembinaan sumber daya manusia, hingga penguatan kelembagaan. Pada hari Rabu 22 April 2026 di Aula Merah Putih Sidang Senat terbuka UNHAN melakukan Pengukuhan Guru Besar Tetap Bidang Fisika atas nama Prof Dr Ir Sovian Aritonang S.Si, MSi dengat pangkat Marsekal Pertama. Gelar akademik Profesor dan Doktor yang disandangnya menunjukkan komitmen kuat terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Di tengah dinamika tugas negara  ia tetap menekuni dunia akademik sebuah langkah yang mencerminkan pentingnya integrasi antara praktik lapangan dan kajian ilmiah. Kehadiran figur seperti Sovian dinilai mampu menjembatani dua dunia tersebut. Latar belakang militer dan akademik memberi nilai tambah dalam pengambilan keputusan strategis. “Pemimpin militer masa kini tidak cukup hanya kuat di lapangan, tetapi juga harus mampu membaca perubahan global secara komprehensif,” ujar seorang pengamat pertahanan. Jejak Sovian Aritonang menjadi representasi dari arah baru profesionalisme militer Indonesia: adaptif, intelektual, dan berorientasi masa depan.
Di tengah tantangan geopolitik dan perkembangan teknologi pertahanan, sosok seperti Sovian menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah institusi tidak hanya ditentukan oleh alutsista, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusianya. (sapta )
</description>
					                </item><item>
						                <title>Siswandi Bekerja dengan senyap untuk kemajuan BPJS</title>
						                <link>https://harmoniindonesia.my.id/berita/detail/siswandi-bekerja-dengan-senyap-untuk-kemajuan-bpjs</link>
						                <description>Harmoni Indonesia -  Angka itu terus naik, pelan tapi pasti. Kepesertaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Jawa Barat sudah mendekati cakupan semesta. Di balik statistik yang kerap dikutip dalam forum resmi, ada kerja administratif, negosiasi lapangan, hingga penanganan krisis harian yang jarang terlihat. Di titik itu, nama Siswandi berada. Sosok yang penuh wibawa dan baik hati adalah Alumnus PPRA angkatan 54 Tahun 2016 adalah Pribadi pekerja keras. Sebagai yang perna menjabat Deputi Direksi Wilayah V BPJS Kesehatan, ia memikul tanggung jawab mengelola implementasi JKN di provinsi dengan populasi terbesar di Indonesia. Wilayah yang luas, kepadatan tinggi, dan disparitas layanan kesehatan menjadi kombinasi tantangan yang tidak sederhana. Bagi Siswandi, JKN bukan sekadar instrumen kebijakan. Ia menyebutnya sebagai “jaring pengaman” sosial. Pernyataan itu bukan retorika. Dalam praktiknya, setiap gangguan layanan—antrean panjang, keterbatasan tempat tidur, hingga klaim yang tersendat—berujung pada satu hal: akses masyarakat terhadap layanan kesehatan. “Yang terpenting adalah memastikan masyarakat tetap bisa mengakses layanan kesehatan dengan mudah dan adil,” ujarnya dalam berbagai kesempatan.
Namun, capaian kepesertaan yang tinggi justru membuka babak baru persoalan. Ketika hampir seluruh warga sudah terdaftar, fokus bergeser: dari ekspansi menuju kualitas. Sistem dituntut bekerja lebih cepat, lebih akurat, dan lebih manusiawi. Di sinilah koordinasi menjadi kerja utama. Setiap hari, Siswandi dan jajarannya berhadapan dengan pemerintah daerah, manajemen rumah sakit, hingga fasilitas kesehatan tingkat pertama. Persoalan teknis kerap muncul tiba-tiba—mulai dari lonjakan pasien hingga kendala administratif—dan menuntut respons cepat. Di sisi lain, ada isu yang lebih sensitif: integritas sistem. Ia terlibat dalam upaya pencegahan kecurangan (fraud) yang dapat menggerus keberlanjutan program. Transparansi, menurutnya, bukan sekadar prinsip, tetapi kebutuhan. Meski demikian, kompleksitas JKN tidak berhenti pada sistem. Di lapangan, kebijakan bertemu dengan realitas manusia. Pasien datang dengan kecemasan, keluarga membawa harapan, dan tenaga medis bekerja di bawah tekanan. Dalam situasi itu, keputusan administratif kerap beririsan dengan dimensi kemanusiaan. Momentum seperti arus mudik Lebaran menjadi contoh nyata. Mobilitas tinggi membuat peserta berpindah wilayah dalam waktu singkat. Layanan kesehatan harus tetap tersedia tanpa terganggu batas administratif. Siswandi memastikan mekanisme lintas daerah berjalan, meski tekanan meningkat. Pengalaman kerjanya di berbagai wilayah sebelum Jawa Barat membentuk pendekatannya: adaptif. Ia memahami bahwa satu kebijakan tidak selalu cocok untuk semua daerah. Karakter lokal, kapasitas fasilitas, hingga kondisi sosial ekonomi memengaruhi cara layanan dijalankan. Di tengah meningkatnya ekspektasi publik terhadap layanan kesehatan, Siswandi memilih jalur kerja yang nyaris tak terdengar. Ia bukan figur yang menonjol di ruang publik. (sapta)
</description>
					                </item><item>
						                <title>Merawat Jati Diri di Tengah Disrupsi</title>
						                <link>https://harmoniindonesia.my.id/berita/detail/merawat-jati-diri-di-tengah-disrupsi</link>
						                <description>Harmoni Indonesia  -  Sabtu siang itu, 18 April 2026, aula Perpustakaan Nasional Republik Indonesia tak sekadar menjadi ruang seremonial. Ia menjelma panggung kecil bagi sebuah kegelisahan besar: ke mana arah karakter bangsa ketika perubahan datang berlapis-lapis—teknologi, sosial, hingga geopolitik? Peluncuran buku Unlock Potensi Dirimu karya Vita Soemarno yang digelar oleh Yayasan Jatidiri Bangsa Indonesia berlangsung dalam suasana yang hangat sekaligus reflektif. Dibungkus dalam tradisi halal bihalal, forum itu seperti ingin mengatakan: pembangunan tidak melulu soal masa depan, tapi juga rekonsiliasi nilai di masa kini. Di tengah derasnya disrupsi, narasi pembangunan sering kali terjebak pada logika pertumbuhan—angka-angka ekonomi, proyek infrastruktur, dan jargon digitalisasi. Namun, di ruang itulah, narasi lain mencoba disisipkan: bahwa fondasi bangsa tak bisa dilepaskan dari karakter.  .Buku setebal 200 halaman itu menawarkan sesuatu yang kerap dianggap klise, namun justru jarang dipraktikkan: mengenali diri, membangun integritas, menetapkan tujuan hidup, hingga merenungkan makna keberadaan. Lima gagasan yang diusungnya terdengar sederhana, tetapi di tengah krisis keteladanan, justru terasa relevan. Bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, wacana tentang penguatan nilai-nilai Pancasila kembali mengemuka. Ia hadir bukan sebagai slogan, melainkan kebutuhan terutama ketika ruang publik dipenuhi polarisasi dan pragmatisme. Yayasan Jatidiri Bangsa Indonesia, yang telah menerbitkan delapan karya, tampaknya membaca celah itu. Mereka tidak sekadar memproduksi buku, tetapi mencoba membangun ekosistem gagasan: bahwa kecerdasan intelektual tanpa kedewasaan moral hanya akan melahirkan kemajuan yang rapuh. Acara itu berakhir seperti kebanyakan peluncuran buku: foto bersama, ucapan terima kasih, dan harapan. Namun, pertanyaan yang tersisa justru lebih penting: apakah wacana tentang karakter akan berhenti sebagai diskursus, atau benar-benar menjelma praktik? ( Sapta )
</description>
					                </item><item>
						                <title>Laksamana Muda (Purn) Budi Kalimantoro Nahkodai Yayasan Jati Diri Bangsa</title>
						                <link>https://harmoniindonesia.my.id/berita/detail/laksamana-muda-purn-budi-kalimantoro-nahkodai-yayasan-jati-diri-bangsa</link>
						                <description> Harmoni Indonesia  Budi Kalimantoro dipercaya memimpin Yayasan Jati Diri Bangsa (JDB) untuk periode 2025–2030. Purnawirawan TNI Angkatan Laut tersebut dikenal aktif mendorong penguatan nilai kebangsaan melalui pendidikan karakter dan kajian strategis di tengah dinamika global. Alumnus Akademi Angkatan Laut (AAL) 1988 dan peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) 54 Lemhannas RI tahun 2016 itu saat ini juga terlibat sebagai tenaga pengajar di Lemhannas RI. Seusai purna tugas dari militer, Budi tetap berkiprah dalam ruang publik dengan menyampaikan gagasan terkait wawasan nusantara dan pembinaan karakter bangsa.
“Penguatan jati diri bangsa menjadi kunci dalam menghadapi tantangan globalisasi dan perubahan sosial yang cepat,” ujarnya dalam sejumlah forum kebangsaan.
Yayasan Jati Diri Bangsa merupakan lembaga yang bergerak di bidang penguatan nilai-nilai kebangsaan, kepemimpinan, dan karakter nasional. Organisasi ini menghimpun sejumlah tokoh nasional dari berbagai latar belakang, di antaranya Suryadi Sudirja, Kiki Syahnakri, Komaruddin Hidayat, serta Marzuki Darusman. Dalam aktivitasnya, yayasan ini mengembangkan berbagai program, mulai dari pendidikan karakter berbasis Pancasila, pelatihan kepemimpinan bagi generasi muda dan profesional, hingga kajian geopolitik dan ketahanan nasional. Selain itu, JDB juga rutin menggelar forum diskusi, seminar nasional, serta menerbitkan kajian ilmiah.
Budi menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk akademisi, militer, dan pemerintah, dalam menjaga ketahanan ideologi dan budaya bangsa. “Kita perlu membangun kesadaran kolektif agar nilai persatuan dan integritas tetap menjadi fondasi utama Indonesia,” katanya. Ke depan, Yayasan Jati Diri Bangsa diharapkan mampu melahirkan pemimpin-pemimpin berintegritas yang tidak hanya memiliki kapasitas intelektual, tetapi juga komitmen kuat terhadap nilai-nilai kebangsaan ( sapta )
</description>
					                </item><item>
						                <title>Kasad: Persatuan Kunci Wujudkan Indonesia Maju dalam Momentum Paskah TNI AD</title>
						                <link>https://harmoniindonesia.my.id/berita/detail/kasad-persatuan-kunci-wujudkan-indonesia-maju-dalam-momentum-paskah-tni-ad</link>
						                <description>Harmoni Indonesia -  Jenderal Maruli Simanjuntak selaku Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) menegaskan bahwa kemajuan Indonesia hanya dapat dicapai apabila seluruh elemen bangsa bersatu dan mengesampingkan perbedaan.
Penegasan tersebut disampaikan Kasad saat menghadiri peringatan Paskah bersama prajurit, PNS, dan anggota Persit Kartika Chandra Kirana wilayah Jakarta dan sekitarnya di Aula Jenderal Besar A.H. Nasution, Markas Besar Angkatan Darat, Kamis (9/4/2026). Menurut Kasad, peringatan hari besar keagamaan harus dimaknai sebagai momentum untuk saling menghormati, memperkuat persaudaraan, serta membangun kebersamaan. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh prajurit dan ASN TNI AD untuk terus menjaga solidaritas, baik dalam pelaksanaan tugas maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Peringatan Paskah yang turut dihadiri Ketua Umum Persit Kartika Chandra Kirana Ny. Uli Simanjuntak berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan. Kegiatan tersebut mengusung tema: “Paskah Mewujudkan Penguatan Iman serta Solidaritas Prajurit dan ASN TNI AD yang Prima dalam Rangka Mendukung Indonesia Maju.”

Dalam sambutannya, Kasad menekankan bahwa perayaan Paskah tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial keagamaan, melainkan momentum strategis untuk memperkokoh kebersamaan dalam mendukung tugas pengabdian kepada bangsa dan negara. “Momen-momen seperti ini untuk kita saling mengingatkan. Perayaan Paskah ini kita harapkan mampu menumbuhkan nilai-nilai keimanan yang kuat, serta membangun solidaritas yang kokoh dalam mendukung pelaksanaan tugas pokok TNI AD secara optimal. Kalau kita mau maju, berarti harus sama-sama mengesampingkan perbedaan untuk Indonesia maju,” ujar Kasad. Ibadah Paskah dipimpin sebagai Liturgos  oleh Pendeta Letkol CAj Godlif Yohanes STh  dan turut dihadiri Wakil Uskup TNI-Polri Romo Kolonel (Sus) Yos Bintoro, Pr., serta Kotbah dipimpin oleh Sekretaris Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia Romo Aloysius Budi Purnomo. Rangkaian kegiatan juga diisi dengan renungan, penyalaan lilin Paskah oleh Kasad bersama Ketua Umum Persit KCK, serta doa bersama yang dipimpin Pendeta Etika Saragih dari PGI (sapta )
</description>
					                </item></channel>
  	</rss>