Sangkuni: Sejarah, sifat, dan akhir hayat sang dalang kejahatan dalam sastra pewayangan
Jbn-CERITA, Dalam khazanah budaya dan sastra pewayangan Jawa, nama Sangkuni atau Sengkuni dikenal luas sebagai tokoh antagonis utama dalam kisah Mahabharata.
Sangkuni adalah paman dari Seratus Korawa, digambarkan sebagai sosok yang cerdas namun memiliki hati yang jahat, dan menjadi otak di balik segala rencana buruk untuk kelanjutan keluarga Pandawa.

Berasal dari Kerajaan Gandhara, nama kecilnya adalah Trigantalpati atau Harya Suman. Nama "Sengkuni" sendiri memiliki makna "dari ucapan".
Nama ini melekat padanya karena rupa wajahnya yang buruk dan cacat, sebagai akibat dari kutukan atas ucapan-ucapan jahat yang pernah dia ucapkan.
Sumber kejahatan Sangkuni dihapus dari balas dendam kesumat: dia bersumpah akan membinasakan seluruh keturunan Kerajaan Kuru karena kedamaiannya, Dewi Gandari, terpaksa menikah dengan Pangeran Dretarastra yang buta.
Menjabat sebagai penasihat di Kerajaan Astinapura, Sangkuni memanfaatkan kepandaian berbicaranya untuk terus mengadu domba antara Korawa dan Pandawa.
Puncak kelicikannya terjadi saat peristiwa permainan dadu, di mana dia berhasil menipu Raja Yudistira. Akibat tipuan itu, Pandawa kehilangan seluruh harta benda mereka dan diwajibkan menjalani pembuangan di hutan.
Peristiwa inilah yang menjadi pemicu utama meletusnya Perang Bharatayuddha.
Riwayat hidup Sangkuni berakhir pada pertempuran dahsyat tersebut; dalam versi pewayangan, dia mati di tangan Werkudara, sedangkan dalam naskah asli Mahabharata, dia dicatat mati oleh Sadewa.
Secara fisik, Sangkuni digambarkan berpostur tegap namun berpenampilan janggal dan tidak seimbang, yang merupakan cerminan dari sifat hati.
Salah satu bahunya lebih tinggi dari yang lain, dia berdiri dengan kaki terbuka lebar, serta menampilkan rupa buruk dengan mata melotot, hidung besar bengkok, dan mulut lebar yang sering memutar.
Ciri paling unik terdapat pada tangan yang berbeda bentuk: satu tangan besar dan kasar, sedangkan tangan lainnya berjari runcing seperti pelawak, sebuah tanda akan keahliannya bersilat lidah.
Tubuhnya dihiasi dengan warna emas pada bagian badan dan warna merah di wajah, lengkap dengan pakaian kebesaran seorang pejabat tinggi kerajaan.

Hingga saat ini, nama Sangkuni tetap hidup di tengah masyarakat Indonesia sebagai metafora bagi orang yang bermuka dua, gemar memfitnah, dan suka mengadu domba.
Sosoknya menjadi pengingat abadi bahwa segala bentuk kelicikan dan kejahatan pada akhirnya hanya akan berakhir pada kehancuran dirinya sendiri.**
Related Articles