Home Seni & Budaya BEBAN BELIS DI TENGAH BADAI DUNIA: APAKAH KITA SEDANG MEMBANGUN KELUARGA ATAU MEMBANGUN HUTANG?

BEBAN BELIS DI TENGAH BADAI DUNIA: APAKAH KITA SEDANG MEMBANGUN KELUARGA ATAU MEMBANGUN HUTANG?

Budaya

28
0
SHARE
BEBAN BELIS DI TENGAH BADAI DUNIA: APAKAH KITA SEDANG MEMBANGUN KELUARGA ATAU MEMBANGUN HUTANG?

Keterangan Gambar : Yosua. B. Pasa

BEBAN BELIS DI TENGAH BADAI DUNIA: APAKAH KITA SEDANG MEMBANGUN KELUARGA ATAU MEMBANGUN HUTANG?

Dunia di luar Sumba sedang panas. Perang di Timur Tengah membuat harga minyak melambung, nilai Rupiah melemah, dan harga beras di pasar kita makin tak masuk akal. Ibarat seekor kuda beban, ekonomi kita saat ini sedang kurus dan sakit-sakitan.

Namun, di tengah kondisi ini, kita di Sumba masih memikul beban adat yang sangat berat: Budaya Belis. Mari kita hitung jujur-jujuran pakai angka, supaya kita sadar seberapa besar "gunung" yang sedang kita daki.

1. Hitungan Kasar: Biaya yang Dihabiskan
Berdasarkan harga pasar saat ini, mari kita lihat estimasi pengeluaran untuk satu urusan adat pembelisan yang standar di Sumba:

A. Pihak Laki-Laki (Membawa Hewan)

Kuda Belis (Misal 10 Ekor): 10 x Rp8.000.000 = Rp80.000.000
Kerbau Belis (Misal 5 Ekor): 5 x Rp13.000.000 = Rp65.000.000
Sapi/Babi untuk Konsumsi: ± Rp30.000.000
Parang & Lain-lain: ± Rp5.000.000
ESTIMASI TOTAL: Rp180.000.000

B. Pihak Perempuan (Membalas dengan Perabotan & Kain)

Babi Besar (Misal 2 Ekor): 2 x Rp18.000.000 = Rp36.000.000
Perabotan (Lemari, Springbed, Sofa): ± Rp25.000.000
Kain Tenun (Misal 20 Lembar): 20 x Rp750.000 = Rp15.000.000
Piring, Gelas, Perlengkapan Dapur: ± Rp10.000.000
ESTIMASI TOTAL: Rp86.000.000

TOTAL PUTARAN UANG: ± Rp266.000.000 (Hampir 300 Juta Rupiah!)

2. Realita Pahit: "Gotong Royong" atau "Arisan Hutang"?
Yang paling berbahaya adalah fakta bahwa uang ratusan juta ini bukan berasal dari tabungan pribadi, melainkan hasil sumbangan kerabat (keluarga besar). Di Sumba, kita menyebutnya gotong royong, tapi secara ekonomi, ini adalah Hutang Sosial.

Saat paman atau sepupu menyumbang 1 ekor kuda, itu artinya di masa depan kita wajib mengembalikan 1 ekor kuda yang harganya mungkin sudah naik dua kali lipat.

Kita memulai hidup baru bukan dengan modal usaha, tapi dengan daftar hutang yang panjang kepada seluruh keluarga besar.

3. Dampak di Tengah Krisis Ekonomi Dunia
Kenapa kebiasaan ini berbahaya di tahun 2026 ini?

Nilai Rupiah Melemah: Dulu harga babi 10 juta sudah besar, sekarang sudah 20 juta. Kalau kita terus memaksakan jumlah ekor yang sama seperti jaman dulu, beban kerja kita harus dua kali lebih keras hanya untuk bayar adat.

Kebutuhan Pokok Terabaikan: Uang 300 juta itu setara dengan biaya kuliah sampai sarjana untuk 4-5 anak Sumba. Atau bisa untuk membangun 2 rumah tembok yang layak. Namun, uang itu habis dalam pesta beberapa hari saja.

Kerapuhan Sosial: Saat krisis dunia memicu harga beras naik, keluarga baru di Sumba tidak punya tabungan karena semua ternak sudah habis untuk belis. Akhirnya, banyak keluarga muda terjepit kemiskinan sejak hari pertama menikah. Suami isteri memilih merantau ke Kalimantan dan Malaysia demi tutup hutang belis. Anak-anak ditinggal di rumah mertua tanpa mendapatkan kasih sayang dari orangtua.

4. Insight: Saatnya Adat yang Memberdayakan, Bukan Memperdaya
Adat Belis adalah bentuk penghormatan kepada perempuan, itu sangat mulia. Tapi, apakah menghormati harus dengan cara menyiksa ekonomi keluarga?

Langkah Nyata untuk Tokoh Adat & Generasi Muda:

Bicara Jujur: Jangan malu untuk bilang, "Kondisi ekonomi lagi susah, kita kurangi jumlah hewan, yang penting makna adatnya sampai."

Adat Modern: Mengalihkan sebagian biaya belis menjadi tabungan pendidikan atau modal usaha bagi pasangan baru. Itu jauh lebih menghormati perempuan daripada menghabiskan ternak di lapangan pesta.

Prioritas: Ingat, harga sembako tidak akan turun karena kita potong banyak kerbau. Dunia tidak peduli seberapa besar pesta kita, tapi dunia akan menjepit kita kalau kita tidak punya tabungan.

Penutup:
"Mari kita cintai budaya Sumba dengan cara yang cerdas. Jangan sampai kita gagah di mata orang saat pesta, tapi menangis di dalam kamar saat anak minta uang sekolah karena semua ternak sudah habis dibawa pergi belis."

Setuju tidak, Kaka dorang? Apakah sudah saatnya kita duduk bersama atur ulang aturan belis supaya tidak mencekik leher anak cucu kita? ????

Penulis: Yosua B. Pasa