BIDIK PERISTIWA JAKARTA – Pandangan tentang hubungan antara perdamaian dan keadilan yang dikemukakan oleh mantan Presiden Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tetap relevan sebagai pondasi pemikiran dalam membangun keharmonisan berbangsa dan bernegara. Kutipan "Perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi" menjadi pijakan penting dalam memahami esensi perdamaian yang sesungguhnya.
Menurut pemikiran Gus Dur, perdamaian sejati tidak mungkin terwujud secara utuh tanpa diiringi dengan terwujudnya keadilan, pengakuan penuh terhadap hak asasi manusia, serta kesetaraan antar seluruh lapisan masyarakat. Konsep perdamaian yang hanya didasarkan pada pemaksaan atau penekanan konflik tanpa menyelesaikan akar masalah ketidakadilan, menurutnya, hanyalah bentuk ketakutan yang tersembunyi di balik kedamaian yang tampak, bukan harmoni yang tumbuh dari kesadaran bersama akan nilai-nilai keadilan.

Pemikiran ini mengingatkan bahwa upaya mencapai perdamaian harus diiringi dengan langkah-langkah konkret untuk memperbaiki struktur yang tidak adil, memberikan akses yang setara terhadap sumber daya dan kesempatan, serta memastikan bahwa setiap warga negara mendapatkan perlindungan hukum yang sama. Tanpa dasar keadilan yang kokoh, apa yang dianggap sebagai perdamaian akan mudah runtuh ketika ketidakadilan yang tersembunyi muncul ke permukaan.
Gus Nuril Mba (Dr. KH. Nuril Arifin Husein), tokoh agama, aktivis, pengamat sosial, serta Pimpinan Pondok Pesantren Soko Tunggal – juga dikenal sebagai salah satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) terkemuka dan sahabat dekat Gus Dur – menambahkan tanggapan terkait pemikiran tersebut. "Kata-kata Gus Dur bukan hanya sekadar filosofi, melainkan panggilan untuk bertindak. Kita seringkali terburu-buru mencari kedamaian yang tampak luar, namun melupakan bahwa keadilan adalah pondasinya. Setiap kali ada konflik, baik di lingkungan kecil maupun skala besar, kita harus mulai dari mengatasi ketidakadilan yang menjadi akar masalah," ujarnya.
Sebagai tokoh agama yang juga menjunjung tinggi nilai-nilai multikultural dan nasionalisme religius, Gus Nuril menyoroti dimensi spiritual yang menjadi pijakan utama dalam memahami hubungan antara perdamaian dan keadilan. "Di Ponpes Soko Tunggal, kita ajarkan bahwa nilai keadilan tidak dapat dipisahkan dari ajaran agama yang mengajarkan tentang rasa kasih sayang, kepedulian, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Spiritualitas yang sejati tidak hanya mengajarkan kedamaian batin, tetapi juga mendorong kita untuk berjuang agar keadilan terwujud di tengah masyarakat," jelasnya.
Menurutnya, nilai-nilai spiritual tersebut menjadi landasan yang memperkuat komitmen untuk membangun perdamaian yang bermakna, sejalan dengan ajaran Islam sebagai agama rahmatan lil'alamin. "Ketika setiap individu memiliki pondasi spiritual yang kokoh, kesadaran akan pentingnya keadilan akan tumbuh secara alami. Perdamaian yang kita cita-citakan harus mampu menjawab kebutuhan akan keadilan bagi semua pihak, tanpa memihak atau mengabaikan kelompok mana pun – dan ini sejalan dengan ajaran agama yang mengajarkan bahwa semua manusia adalah saudara sebangsa dan seiman, serta sesuai dengan semangat Bhineka Tunggal Ika yang menjadi dasar negara kita," tambah Gus Nuril Mba.
Kutipan Gus Dur juga menjadi panggilan bagi seluruh elemen bangsa untuk selalu mengedepankan prinsip keadilan dalam setiap langkah pembangunan dan penyelesaian konflik, baik di tingkat lokal maupun nasional. Hanya dengan demikian, perdamaian yang dibangun akan memiliki kekuatan yang tahan lama dan memberikan manfaat yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia.(red)










LEAVE A REPLY