Home agama Khataman Kitab Nashoihul Ibad: Warisan Nasehat Ulama untuk Membangun Akhlak Mulia Umat.

Khataman Kitab Nashoihul Ibad: Warisan Nasehat Ulama untuk Membangun Akhlak Mulia Umat.

52
0
SHARE
Khataman Kitab Nashoihul Ibad: Warisan Nasehat Ulama untuk Membangun Akhlak Mulia Umat.

BLITAR--Nuansa  syahdu  dalam  kebersamaan menyelimuti acara khataman Kitab Nashoihul Ibad yang dilaksanakan Rabu sore di Pondok Pesantren Muta’allimin, Kota Blitar. Acara yang dihadiri Kapolres Blitar Kota, 
AKBP Kalfaris Triwijaya Lalo, S.I.K., M.I.K. dan undangan lainnya ini berlangsung bersamaan dengan buka bersama, menjadi momen yang penuh makna bagi seluruh jamaah yang selama ini rutin mengkaji kitab tersebut setiap Sabtu pagi. 

Rais Syuriyah PCNU Kota Blitar sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Muta’allimin, KH. Muhtar Lubby, M.A sang pembalah Kitab, menyampaikan ulasan mendalam tentang kandungan dan inti ajaran kitab klasik karya Syekh Nawawi al-Bantani ini.
 
Kitab Nashoihul Ibad merupakan salah satu karya agung Syekh Nawawi al-Bantani, ulama besar asal Banten yang pernah menjabat sebagai Imam Masjidil Haram dan dijuluki “Bapak Kitab Kuning Indonesia”. Kitab ini berisi 1055 nasihat yang bersumber dari Al-Qur’an, Hadis, ucapan para sahabat, dan petuah ulama salaf, disusun dengan cara yang unik berdasarkan hitungan angka sehingga mudah diingat dan dicerna.
 
KH. Muhtar Lubby menjelaskan bahwa inti ajaran Kitab Nashoihul Ibad berpusat pada pembentukan akhlak mulia dan penyucian hati. Syekh Nawawi al-Bantani menekankan pentingnya menjauhi sifat-sifat tercela seperti riya’, ujub, sombong, dan tamak, serta mengajarkan nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, tolong-menolong, dan kasih sayang sebagai pondasi masyarakat yang harmonis.

 “Kitab ini bukan sekadar kumpulan nasihat, melainkan panduan praktis untuk menjalani kehidupan spiritual dan sosial sesuai tuntunan Islam,” ujar Gus Lubby panggilan akrabnya.
 
Selain itu, kitab ini juga membahas berbagai aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari adab beribadah, cara menghadapi cobaan, mengendalikan emosi, hingga kewajiban seorang muslim dalam berinteraksi dengan sesama. Salah satu poin penting yang disoroti adalah penekanan pada kesiapan menghadapi akhirat. Syekh Nawawi mengingatkan umat untuk tidak terlena dengan duniawi dan senantiasa mempersiapkan diri dengan amal saleh," sitirnya.
 
Gus Lubby, juga menyoroti cara penyusunan kitab yang sangat efektif. Dengan mengelompokkan nasihat berdasarkan angka—seperti dua indikasi tingkat makrifat, tiga cara menghilangkan kesusahan, empat hal sedikit yang terasa banyak, dan seterusnya—Syekh Nawawi membuat ajaran-ajaran ini mudah diingat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Ini menunjukkan kecerdasan dan kebijaksanaan Syekh Nawawi dalam menyampaikan ilmu agar bisa dijangkau oleh semua kalangan,” tambahnya.
 
Acara khataman ini menjadi bukti keberlanjutan tradisi keilmuan Islam di Blitar. Selama ini, kajian Kitab Nashoihul Ibad setiap Sabtu pagi di Pondok Pesantren Muta’allimin telah menjadi wadah bagi masyarakat untuk memperdalam pemahaman agama dan membentuk karakter yang baik. KH. Muhtar berharap, melalui kajian dan khataman ini, nilai-nilai yang terkandung dalam kitab tersebut dapat terus diwariskan dan dipraktikkan oleh generasi penerus.
 
Khataman Kitab Nashoihul Ibad bukan sekadar acara penutupan kajian, melainkan momen refleksi dan penguatan iman. Kata-kata bijak Syekh Nawawi al-Bantani yang tertuang dalam kitab ini tetap relevan dan menjadi cahaya bagi umat Islam di setiap zaman. 

Semoga warisan ilmu ini terus menjadi pedoman bagi kita semua untuk menjadi insan yang berakhlak mulia, taat kepada Allah, dan bermanfaat bagi sesama. 

Mari kita terus melestarikan tradisi kebaikan dan ilmu agama, agar warisan ulama terdahulu tetap hidup dan memberikan manfaat bagi dunia dan akhirat.*Imam Kusnin Ahmad*