Harmoni Indonesia - Suasana Minggu, 3 Mei 2026, sepenuhnya hangat ketika ribuan orang mulai berdatangan. Dari berbagai penjuru Jabodetabek, Karawang, hingga Bandung mereka menuju satu titik perjumpaan: Pesta Partangiangan PPRH Siahaan. Sebuah perhelatan yang sempat terhenti selama enam tahun, kini kembali digelar dengan semangat yang tak surut, bahkan meluap. Panitia menargetkan kehadiran 2.000 orang. Namun angka itu segera terlampaui. Hampir 3.000 orang hadir, terdiri dari sekitar 2.400 orang dewasa dan 600 anak-anak. Deretan kursi yang disiapkan tak lagi cukup menampung antusiasme. Sebagian berdiri, sebagian lain rela berdesakan bukan karena terpaksa, melainkan karena rindu akan kebersamaan yang lama tertunda. Di balik kelancaran acara, berdiri sosok Pdt. M. Pardamean Siahaan, M.Th., yang dipercaya sebagai ketua panitia. Ia bukan hanya memimpin secara organisatoris, tetapi juga menjaga agar perayaan ini tetap berakar pada makna rohani: syukur dan persekutuan.
Acara dibuka dengan ibadah syukur pada pukul 09.20 WIB. Pdt. Janfrido M. Siahaan Alumni STT Jaffray Jakarta didampingi Pdt. Demak Siahaan sebagai liturgos. Tema yang diangkat, “Keluarga Allah adalah Benteng Kasih” (Roma 12:10), terasa menemukan konteksnya di tengah kerumunan itu—sebuah refleksi tentang keluarga yang tak sekadar terikat darah, tetapi juga nilai. Pesta Bonataon, dalam tradisi Batak, bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah pengingat kolektif akan perjalanan panjang tentang penyertaan Tuhan di masa lalu, pergumulan hari ini, dan harapan yang dititipkan pada masa depan. Di sana, identitas tidak hanya dirayakan, tetapi juga dirawat.
Nama-nama donatur disebut dengan penuh hormat. Keluarga Otto Hasibuan, keluarga Mayjen (Purn.) Franzent Siahaan, keluarga Manuara Siahaan yang anggota DPRD DKI Jakarta , hingga keluarga Ferdinand Siahaan, menjadi bagian dari jejaring solidaritas yang menopang acara ini. Namun lebih dari sekadar dukungan materi, kehadiran mereka menegaskan satu hal: kebersamaan masih menjadi nilai yang hidup.Menjelang siang hingga sore , suasana mencair. Panggung hiburan diisi lagu-lagu pujian yang dibawakan oleh para penyanyi dari kalangan sendiri. Bukan soal kualitas panggung, melainkan keintiman yang tercipta. Lagu-lagu itu dinyanyikan bukan untuk ditonton, tetapi untuk dirasakan bersama.
Di sela-sela acara, tortor tarian khas Batak menjadi medium komunikasi yang tak membutuhkan kata. Gerak tubuh, uluran tangan, dan irama gondang menghadirkan makna tentang saling menghormati dan melayani. Tradisi itu bertahan, bahkan di tengah zaman yang terus berubah. Acara berlangsung padat, namun terasa singkat bagi mereka yang hadir. Di penghujung acara, tersisa lebih dari sekadar kelelahan fisik. Ada rasa pulang pada akar, pada keluarga, pada iman. Pesta Bona Taon selesai dalam hitungan jam. Namun pesan yang diusungnya tentang keluarga sebagai benteng kasih menyisakan pekerjaan panjang. Sebab pada akhirnya, yang diuji bukanlah kemeriahan acara, melainkan bagaimana nilai itu hidup dalam keseharian.
Di tengah dunia yang kian individualistis, Bonataon Siahaan seperti mengingatkan: bahwa kebersamaan, sejauh ini, masih dirawat dengan sukacita (sapta )







LEAVE A REPLY