Home tokoh Siswandi Bekerja dengan senyap untuk kemajuan BPJS

Siswandi Bekerja dengan senyap untuk kemajuan BPJS

Sekitar 96% warga Jawa Barat sudah terdaftar dalam program JKN (sekitar 49 juta jiwa)

155
0
SHARE
Siswandi Bekerja dengan senyap untuk kemajuan BPJS

Harmoni Indonesia -  Angka itu terus naik, pelan tapi pasti. Kepesertaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Jawa Barat sudah mendekati cakupan semesta. Di balik statistik yang kerap dikutip dalam forum resmi, ada kerja administratif, negosiasi lapangan, hingga penanganan krisis harian yang jarang terlihat. Di titik itu, nama Siswandi berada. Sosok yang penuh wibawa dan baik hati adalah Alumnus PPRA angkatan 54 Tahun 2016 adalah Pribadi pekerja keras. Sebagai yang perna menjabat Deputi Direksi Wilayah V BPJS Kesehatan, ia memikul tanggung jawab mengelola implementasi JKN di provinsi dengan populasi terbesar di Indonesia. Wilayah yang luas, kepadatan tinggi, dan disparitas layanan kesehatan menjadi kombinasi tantangan yang tidak sederhana. Bagi Siswandi, JKN bukan sekadar instrumen kebijakan. Ia menyebutnya sebagai “jaring pengaman” sosial. Pernyataan itu bukan retorika. Dalam praktiknya, setiap gangguan layanan—antrean panjang, keterbatasan tempat tidur, hingga klaim yang tersendat—berujung pada satu hal: akses masyarakat terhadap layanan kesehatan. “Yang terpenting adalah memastikan masyarakat tetap bisa mengakses layanan kesehatan dengan mudah dan adil,” ujarnya dalam berbagai kesempatan.
Namun, capaian kepesertaan yang tinggi justru membuka babak baru persoalan. Ketika hampir seluruh warga sudah terdaftar, fokus bergeser: dari ekspansi menuju kualitas. Sistem dituntut bekerja lebih cepat, lebih akurat, dan lebih manusiawi. Di sinilah koordinasi menjadi kerja utama. Setiap hari, Siswandi dan jajarannya berhadapan dengan pemerintah daerah, manajemen rumah sakit, hingga fasilitas kesehatan tingkat pertama. Persoalan teknis kerap muncul tiba-tiba—mulai dari lonjakan pasien hingga kendala administratif—dan menuntut respons cepat. Di sisi lain, ada isu yang lebih sensitif: integritas sistem. Ia terlibat dalam upaya pencegahan kecurangan (fraud) yang dapat menggerus keberlanjutan program. Transparansi, menurutnya, bukan sekadar prinsip, tetapi kebutuhan. Meski demikian, kompleksitas JKN tidak berhenti pada sistem. Di lapangan, kebijakan bertemu dengan realitas manusia. Pasien datang dengan kecemasan, keluarga membawa harapan, dan tenaga medis bekerja di bawah tekanan. Dalam situasi itu, keputusan administratif kerap beririsan dengan dimensi kemanusiaan. Momentum seperti arus mudik Lebaran menjadi contoh nyata. Mobilitas tinggi membuat peserta berpindah wilayah dalam waktu singkat. Layanan kesehatan harus tetap tersedia tanpa terganggu batas administratif. Siswandi memastikan mekanisme lintas daerah berjalan, meski tekanan meningkat. Pengalaman kerjanya di berbagai wilayah sebelum Jawa Barat membentuk pendekatannya: adaptif. Ia memahami bahwa satu kebijakan tidak selalu cocok untuk semua daerah. Karakter lokal, kapasitas fasilitas, hingga kondisi sosial ekonomi memengaruhi cara layanan dijalankan. Di tengah meningkatnya ekspektasi publik terhadap layanan kesehatan, Siswandi memilih jalur kerja yang nyaris tak terdengar. Ia bukan figur yang menonjol di ruang publik. (sapta)