Home Ekonomi Harga minyak dunia melonjak dampak perang Iran, bagaimana dampaknya ke harga BBM subsidi?

Harga minyak dunia melonjak dampak perang Iran, bagaimana dampaknya ke harga BBM subsidi?

21
0
SHARE
Harga minyak dunia melonjak dampak perang Iran, bagaimana dampaknya ke harga BBM subsidi?

Jakarta - Perang Iran versus Israel yang dibackup Amerika Serikat, langsung berdampak pada harga minyak dunia yang melonjak. Penyebabnya adalah jalur distribusi minyak dari negara Timur Tengah via Selat Hormuz ditutup oleh Iran.

 

Kondisi kenaikan harga minyak dunia akan berdampak ke Indonesia. Harga BBM nonsubsidi sudah mengalami kenaikan.

 

Sementara itu, pemerintah Indonesia menyatakan BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan harga. Hal tersebut tentu akan tetap akan dipengaruhi faktor eksternal, yakni jika perang Iran - Israel berlangsung dalam waktu lama.

"Kalau harga BBM yang subsidi, yang bensin Pertalite, itu mau (harga minyak dunia) naik berapa pun, tetap harganya sama sebelum ada perubahan dari pemerintah," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, dalam Konferensi Pers Perkembangan Terkini Timur Tengah dan Implikasi Terhadap Sektor ESDM, yang digelar di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa.

 

Menurut dia, dalam waktu dekat pemerintah akan menaikkan harga jual BBM nonsubsidi seperti Pertamax. Penyesuaian harga ini akan naik mengikuti fluktuasi harga minyak mentah dunia.

 

Saat ini harga minyak sudah naik menjadi 78-80 dolar AS per barel, melebihi asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, yakni 70 dolar AS per barel.

 

Seperti diketahui, Indonesia mengimpor minyak sekitar 1 juta barel per hari, sehingga kenaikan harga minyak dunia langsung membebani APBN dengan potensi pembengkakan subsidi energi.

Keuntungan

Bahlil mengatakan, di sisi lain, Indonesia juga memperoleh tambahan pendapatan dari kenaikan harga minyak dunia dari produksinya.

 

"Karena Indonesia kan berkontribusi kurang lebih sekitar 600 ribu barel per hari. Nah, selisih ini yang sedang kami hitung," katanya.

 

Perhitungan tersebut, kata Bahlil, akan dilakukan dengan hati-hati sebab terkait dengan subsidi energi di dalam negeri.

 

Hingga saat ini, setelah rapat Dewan Energi Nasional, pemerintah belum berencana untuk menaikkan harga BBM bersubsidi.

Rute Alternatif

 

Bahlil menyampaikan Indonesia tahun ini mengimpor LPG 7,8 juta ton.

 

Sebesar 70 persen dari total impor tersebut berasal dari Amerika Serikat, dan sebesar 30 persen berasal dari Timur Tengah.

 

LPG yang diimpor dari Timur Tengah berasal dari kilang milik Saudi Aramco.

 

"Maka, alternatifnya, kami alihkan lagi supaya tidak mengambil risiko. Sebagian kami alihkan untuk kita belanja di negara yang tidak ada kaitannya dengan Selat Hormuz," demikian Bahlil.