Home Agama Masjid Penuh di Awal, Merenggang di Tengah

Masjid Penuh di Awal, Merenggang di Tengah

36
0
SHARE
Masjid Penuh di Awal, Merenggang di Tengah

Oleh : H. Roni Haldi, Lc


Iman yang kadang seperti sinyal kuat di awal, hilang di tengah

Ramadhan selalu datang seperti tamu agung yang disambut dengan penuh hormat. Di malam pertama, masjid terasa berbeda. Lampu-lampu menyala lebih terang. Karpet digelar lebih rapi. Suara anak-anak, orang tua, pemuda, bercampur menjadi satu suasana yang sulit dijelaskan: hangat, hidup, dan penuh harapan.

Shalat saf-saf memanjang sampai ke teras. Bahkan terkadang meluber hingga ke halaman. Orang-orang berdiri rapat, seolah tidak ingin memberi ruang kosong di rumah Allah.

 

Di malam itu, kita merasa menjadi umat yang sangat kuat.

Semua datang. Yang jarang terlihat di masjid pun hadir. Yang biasanya sibuk dengan urusan dunia tiba-tiba punya waktu untuk berdiri lama dalam shalat. Imam takbir terasa menggugah, bacaan Al-Qur'an terasa menyentuh, dan hati pun berbisik pelan, "Inilah Ramadhan yang kita rindukan."

Namun Ramadhan bukan hanya tentang awal yang semarak. la juga menguji kesetiaan kita di tengah perjalanan.

Hari demi hari berlalu.

Malam demi malam berganti.

Perlahan-lahan, sesuatu mulai berubah.

Saf yang dulu penuh, kini mulai renggang. Ruang yang dulu sesak, kini menyisakan banyak tempat kosong. Orang-orang yang pada malam pertama datang berbondong-bondong, kini sebagian tidak lagi terlihat.

Masjid masih berdiri megah. Lampunya tetap terang.

Imam masih membaca ayat-ayat yang sama indahnya.

Tapi jamaahnya tidak lagi seramai malam pertama.

Fenomena ini bukan hal baru. Hampir setiap Ramadhan kita menyaksikannya. Semangat yang membara di awal, perlahan-lahan meredup di tengah.

 

Iman kita kadang memang seperti sinyal.

 

Di awal Ramadhan, sinyalnya penuh. Lima batang sekaligus. Hati terasa dekat dengan Allah. Shalat terasa ringan. Tilawah terasa nikmat. Bahkan bangun sahur pun terasa mudah.

 

Namun memasuki pertengahan Ramadhan, sinyal itu seperti mulai melemah.

 

Satu batang.

Kadang dua.

Kadang hilang sesaat.

 

Kesibukan mulai mengambil alih. Rasa lelah mulai terasa. Rutinitas harian kembali menuntut perhatian. Tarawih yang dulu terasa ringan kini mulai terasa panjang. Al-Qur'an yang dulu dibaca setiap malam kini mulai tertunda

 

Dan kita pun mulai berdialog dengan diri sendiri.

 

"Malam ini istirahat dulu saja."

"Besok saja ke masjid lagi."

"Tarawih di rumah juga boleh."

 

Tidak ada yang salah dengan shalat di rumah. Namun jika alasan itu hanya menjadi cara halus untuk memanjakan kemalasan, maka di situlah Ramadhan sedang menguji kejujuran kita.

 

Allah tidak membutuhkan ramai atau sepinya masjid.

Tetapi hati kita membutuhkan masjid untuk tetap hidup.

Masjid adalah tempat kita menambatkan iman yang sering kali goyah oleh dunia.

 

Ketika masjid penuh di awal Ramadhan, itu tanda bahwa hati kita masih peka terhadap panggilan Allah. Tetapi ketika masjid mulai merenggang di tengah Ramadhan, itu menjadi cermin: seberapa kuat sebenarnya tekad kita untuk bertahan.

 

Ramadhan bukan perlombaan siapa yang paling bersemangat di awal. la adalah perjalanan panjang yang menuntut ketekunan sampai akhir.

Banyak orang bisa berlari cepat di garis start. Tetapi tidak semua mampu bertahan sampai garis finish. Padahal kemuliaan Ramadhan justru tersembunyi di penghujungnya.

 

Di sepuluh malam terakhir, ada malam yang bernilai lebih baik dari seribu bulan. Malam yang tidak akan pernah ditemukan oleh mereka yang berhenti di tengah jalan.

 

Oleh karena itu, jangan biarkan iman kita seperti sinyal yang hilang di tengah perjalanan.

 

Jika di awal Ramadhan kita mampu memenuhi masjid, maka di pertengahan Ramadhan kita seharusnya mampu menjaga konsistensi. Bahkan jika jamaah semakin sedikit, biarlah kita termasuk yang tetap bertahan.

 

Karena Allah tidak menilai keramaian, melainkan kesetiaan. Dan mungkin, di suatu malam yang sunyi ketika masjid tidak lagi seramai dulu, ketika saf tidak lagi rapat seperti awal

 

Ramadhan, ketika hanya sedikit orang yang masih berdiri dalam shalat malam-di situlah Allah sedang memandang hamba-hamba yang tetap setia.