JAKARTA,10 MARET 2026 – TNI Angkatan Udara melakukan pembahasan terkait konsep gerilya udara sebagai strategi pertahanan masa depan, yang bertujuan untuk menghadapi perang modern yang semakin kompleks dan berlarut.
Konsep tersebut menjadi fokus dalam Focus Group Discussion (FGD) Staf Ahli Kasau Tahun Anggaran 2026 dengan tema "Reformulasi Gerilya Udara dalam Menghadapi Perang Berlarut", yang diselenggarakan di Markas Besar TNI Angkatan Udara (Mabesau) Cilangkap pada hari Selasa (10/3/2026).

PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS MENUNTUT PENYESUAIAN STRATEGI
Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI M. Tonny Harjono, S.E., M.M., menegaskan bahwa perubahan lingkungan strategis global dan perkembangan teknologi militer telah menjadikan konflik bersenjata semakin kompleks dan bersifat multi-domain. Kondisi tersebut menuntut kekuatan udara yang tidak hanya memiliki daya tempur tinggi, tetapi juga ketahanan operasi, fleksibilitas, serta kemampuan pemulihan yang cepat.
"Konsep gerilya udara perlu direformulasi sebagai pendekatan operasional yang mampu menjaga keberlangsungan daya tempur udara di tengah dinamika perang yang terus berkembang," jelas Kasau dalam sambutannya.
BEBERAPA ASPEK PENTING DALAM REFORMULASI KONSEP
Lebih lanjut, Kasau menekankan pentingnya beberapa aspek kunci dalam upaya reformulasi konsep gerilya udara, antara lain penguatan infrastruktur pangkalan, fleksibilitas pola operasi, ketahanan logistik, serta kemampuan pemulihan fasilitas secara cepat.
Selain itu, sinergi dengan industri pertahanan nasional dan pemanfaatan teknologi modern juga menjadi bagian krusial, seperti penerapan sistem tanpa awak, sensor, komando digital, serta kemampuan peperangan elektronik untuk meningkatkan daya tahan operasi udara.
Melalui FGD ini, diharapkan dapat diperoleh rumusan konsep yang adaptif dan aplikatif, yang selanjutnya akan mendukung peningkatan kesiapan TNI Angkatan Udara dalam memperkuat sistem pertahanan negara.(red)









LEAVE A REPLY