BANDUNG,01 MARET 2026 – Oki Prasetiawan, mengungkapkan bahwa peristiwa hipotetis pembunuhan Ayatullah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, akan menjadi titik balik yang mengubah peta geopolitik tidak hanya untuk Iran sendiri, tetapi juga berdampak luas pada stabilitas regional dan global. Berikut adalah paparan mendalam dari analisisnya:
"SUKSESISI AKAN MENJADI TITIK KRITIS, POTENSI PEREBUTAN KEKUASAAN TIDAK DAPAT DIHINDARI"
Menurut Oki Prasetiawan, mekanisme suksesi pemimpin tertinggi Iran telah diatur secara jelas dalam Konstitusi negara tersebut. "Majelis Ulama yang terdiri dari 88 ulama terpilih adalah lembaga yang berwenang memilih pemimpin baru. Secara teoritis, proses ini dirancang untuk berjalan cepat guna menjaga stabilitas nasional," ujarnya.
Namun, dia menekankan bahwa dinamika kekuasaan di dalam negeri akan menjadi faktor penentu utama. "Ada beberapa kelompok utama yang siap bersaing. Pertama, kelompok pendukung Mojtaba Khamenei, putra Ayatullah Khamenei yang telah lama diasosiasikan dengan struktur kekuasaan. Kedua, kelompok yang dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang memiliki peran penting dalam keamanan dan kekuasaan negara. Ketiga, kelompok reformis yang mungkin melihat kesempatan ini untuk mendorong perubahan arah kebijakan," jelasnya.

Oki juga menjelaskan posisi Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam skenario tersebut. "Presiden akan menjalankan fungsi pemerintahan harian secara sementara, namun perlu dipahami bahwa kekuasaan presiden di Iran tetap terbatas dibandingkan pemimpin tertinggi yang sah. Ia akan berperan sebagai pelengkap hingga proses suksesi selesai," katanya.
"DI DALAM NEGERI, STABILITAS SOSIAL DAN EKONOMI AKAN MENJADI PRIORITAS UTAMA"
Menurut analisisnya, langkah pertama yang akan diambil oleh pihak berwenang adalah mengkonsolidasikan kekuasaan dan menjaga ketertiban. "IRGC dan seluruh lembaga keamanan akan segera meningkatkan tingkat pengawasan di seluruh negeri. Mereka akan mengambil tindakan tegas terhadap elemen yang mencoba memanfaatkan situasi untuk mengganggu stabilitas," ujar Oki.
Dia menambahkan bahwa narasi kebangsaan dan agama akan menjadi alat penting untuk menyatukan rakyat. "Pemerintah akan menyajikan pembunuhan sebagai serangan terhadap keutuhan negara Islam Iran, dengan harapan dapat mengurangi potensi perpecahan dan meningkatkan dukungan rakyat terhadap rezim yang ada atau yang baru terbentuk," katanya.
Dalam bidang ekonomi, Oki melihat bahwa langkah antisipatif akan segera diambil. "Iran telah lama menghadapi tantangan ekonomi akibat sanksi internasional. Dalam situasi krisis pasca-pembunuhan, pemerintah kemungkinan akan meningkatkan subsidi untuk kebutuhan dasar seperti makanan dan energi, serta mencari bantuan dari negara sekutu seperti Rusia dan China untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional," jelasnya.
Terhadap kebijakan dalam negeri yang akan datang, Oki menyatakan bahwa arahnya sangat bergantung pada faksi yang mendominasi pasca-Khamenei. "Jika kelompok konservatif tetap berkuasa, kita akan melihat kelanjutan kebijakan agama dan sosial yang ketat. Namun jika kelompok reformis berhasil mendapatkan pijakan yang kuat, bisa ada upaya nyata untuk membuka ruang kebebasan sipil dan meninjau kebijakan terkait hak asasi manusia yang selama ini menjadi perhatian internasional," paparnya.
"LUAR NEGERI, REAKSI AKAN BERBENTUK DIPLOMATIK DAN POTENSI TINDAKAN BALAS"
Sebagai pengamat kebijakan internasional, Oki Prasetiawan mengungkapkan bahwa secara otomatis Iran akan menunjuk negara tertentu sebagai dalang pembunuhan. "Kita bisa yakin bahwa Amerika Serikat dan Israel akan menjadi target tuduhan utama, bahkan sebelum ada bukti konklusif yang ditemukan. Ini bukan hanya soal mencari keadilan, tetapi juga soal membangun narasi yang dapat memperkuat posisi dalam negeri dan mendapatkan dukungan dari kalangan internasional yang bersimpati," katanya.
Menurutnya, tindakan balas bisa terjadi melalui dua jalur. "Pertama, melalui jalur diplomatik – Iran akan mencari dukungan dari sekutu seperti Rusia dan China untuk menuntut penyelidikan internasional yang independen dan mengajukan keluhan resmi ke Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kedua, melalui kelompok sayap yang didukung Iran seperti Hizbullah di Lebanon, Hamas di Palestina, atau elemen di Yaman. Tindakan balas bisa berupa serangan rudal, operasi khusus, atau aktivitas yang meningkatkan ketegangan di wilayah Timur Tengah," jelasnya.
Oki juga menguraikan kemungkinan perubahan kebijakan luar negeri Iran. "Arah kebijakan luar negeri akan sangat bergantung pada kekuasaan yang muncul. Jika konservatif tetap berkuasa, sikap anti-AS dan anti-Israel akan tetap menjadi landasan kebijakan. Namun jika reformis berkuasa, kita bisa melihat upaya untuk membangun dialog konstruktif dengan negara Barat terkait isu-isu krusial seperti program nuklir Iran dan resolusi konflik regional," ujarnya.
Dia menambahkan bahwa kerja sama dengan negara sekutu akan semakin diperkuat. "Iran akan fokus untuk memperluas kerja sama dengan Rusia dan China dalam bidang energi, militer, dan perdagangan. Tujuan utamanya adalah mengurangi ketergantungan pada blok Barat dan memperkuat posisi geopolitiknya di kawasan," katanya.
Terhadap kemungkinan sanksi baru dari internasional, Oki menyatakan bahwa Iran telah siap menghadapinya. "Mereka akan mempercepat langkah-langkah untuk diversifikasi mata uang dan mencari alternatif sistem perdagangan internasional yang tidak bergantung pada dolar AS. Selain itu, Iran akan berusaha mendapatkan dukungan dari negara berkembang dengan menekankan bahwa pembunuhan pemimpin negara adalah pelanggaran terhadap prinsip kedaulatan dan hukum internasional," jelasnya.
"DAMPAK REGIONAL DAN GLOBAL AKAN SANGAT SIGNIFIKAN"
Menurut Oki, dampak pertama yang akan terasa adalah peningkatan ketegangan di Timur Tengah. "Wilayah ini sudah cukup rentan dengan berbagai konflik. Pembunuhan Khamenei akan menjadi pemicu yang membuat ketegangan meledak, dengan risiko bentrokan langsung antara Iran dengan negara-negara musuhnya semakin tinggi. Stabilitas negara sekitar seperti Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman akan semakin terganggu," paparnya.
Dia juga mengingatkan tentang dampak pada pasar energi global. "Timur Tengah adalah salah satu produsen minyak terbesar di dunia. Ketidakpastian yang muncul akan membuat harga minyak global melonjak tajam, yang pada gilirannya akan berdampak negatif pada ekonomi global – terutama negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi," katanya.
Dalam skala global, Oki melihat bahwa hubungan antara AS dan Iran akan semakin memburuk. "Risiko konflik militer yang lebih besar akan mengubah peta aliansi politik dan militer di seluruh dunia. Selain itu, ada kekhawatiran serius bahwa Iran akan mempercepat langkah-langkah dalam program nuklirnya sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan internasional, yang berpotensi meningkatkan risiko penyebaran senjata nuklir," ujarnya.
Tak kalah pentingnya, dampak pada pergerakan migrasi dan pengungsi juga menjadi perhatian utama. "Konflik yang semakin memburuk di Timur Tengah akan menyebabkan lonjakan jumlah orang yang mencari perlindungan di negara-negara lain. Ini akan memberikan beban tambahan yang signifikan bagi negara-negara penerima dan berpotensi mengganggu stabilitas sosial serta ekonomi mereka," jelasnya.(red)










LEAVE A REPLY