New York, I Love You merupakan salah satu installment dari rencana 5 film yang memotret cinta di 5 kota tercantik di dunia. Setelah Paris, kini giliran New York (berikutnya ada Rio De Janeiro, Jerusalem, dan Shanghai). Berbeda dengan film pendahulunya yang seakan berdiri sendiri-sendiri, kini New York, I Love You mencoba untuk 'bersentuhan' antara satu film dengan film lainnya. Maka jangan heran jika ada pemeran di satu segmen yang juga muncul di segmen lain. Segmen demi segmen juga seakan tak terasa berkat editing yang cekatan. Mata pun dibuai keindahan New York dengan berbagai identitas yang menempel padanya.
Dengan format film pendek yang digabung (total ada 10 film didalamnya), maka New York, I Love You memang lebih tepat jika dimaknai sebagai fragmen tentang cinta dalam berbagai kadarnya. Bagi saya, dibanding Paris, Je T'aime, New York, I Love Youterasa lebih cair. Film ini lebih mengedepankan semangat bermain-main dan banyak memunculkan kejutan-kejutan menarik. Memang masih terasa kacamata sutradara sebagai orang asing yang melihat New York, kecuali Brett Ratner di segmen yang dibintangi James Caan yang terasa kental citarasa New York-nya (tepukan panjang untuk Caan yang bermain cemerlang dan meyakinkan).
Dari 10 film yang bersesakan di dalamnya, New York, I Love You menyimpan berbagai potensi yang bisa dimaknai berbeda-beda. Coba simak segmen arahan Shunji Iwai yang menampilkan Orlando Bloom dan Christina Ricci. Keduanya berhubungan via telepon sepanjang segmen dan baru bertemu di ending cerita. Tapi siapa yang bisa menyangkal kekuatan ceritanya? Ini mengingatkan kita pada adegan telepon semalam suntuk antara Orlando Bloom (juga) dengan Kirsten Dunst di film Elizabethtown (2005). Yang diobrolkan pun macam-macam, mulai dari musik, Dostoyevsky sampai John Lennon.
Lantas ada segmen yang dibesut Yvan Attal, sutradara asal Prancis. Segmen ini dimainkan dengan energi tepat oleh duet Ethan Hawke dan Maggie Q. Film ini mencuatkan aroma sensual tersendiri lewat obrolan panjang Hawke yang nyerocos tanpa henti, ditingkahi bahasa tubuh Maggie yang seperti merespon omongan Hawke. Lalu segmen ini jadi lebih menyenangkan dengan ending yang membuat penonton tersenyum simpul. Aroma sensual namun dengan kadar berbeda (yang ini lebih membuat jantung berdegup) diperlihatkan dalam segmen yang disutradarai Allen Hughes. Disini kita bisa melihat betapa Bradley Cooper bukan hanya sekedar bintang film dengan modal wajah rupawan. Ia pun ternyata sanggup memanfaatkan waktu sempit dengan berakting maksimal. Narasi yang disampaikannya sendiri begitu hidup dilatari adegan yang dimainkannya.
Segmen yang bisa jadi menjadi favorit adalah besutan Joshua Marston. Tentang pasangan suami istri di tengah 63 tahun perkawinan mereka, masih saja beradu debat. Dalam perjalanan kaki di Coney Island, mereka beradu argumen dalam banyak hal. Rasanya sulit untuk tak tertawa mendengar Eli Wallach dan Cloris Leachman (dalam permainan yang luar biasa menarik, membuat kita percaya mereka pasangan sungguhan) mempersoalkan soal lambatnya sang suami menapakkan kakinya. ‘Pick up your feet! ‘ kata Cloris yang langsung disambut suara ketus sang suami, ‘I am picking them up, ‘ kemudian yang dibalas lagi oleh Cloris dengan tak kalah ketusnya, "No, you're shuffling".
New York, I Love You juga menjadi pertunjukan directorial debut menjanjikan dari Natalie Portman. Seorang aktris muda yang banyak dikagumi berkat integritasnya pada profesinya itu, mulai mencoba duduk di belakang layar. Dan ia memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Segmennya yang memperlihatkan cinta kasih seorang ayah dengan putrinya (yang sama sekali tak mirip) itu tak hanya inspiring, tapi juga heartwarming.
Maka tiap membuka bulan Februari, New York, I Love You menjadi pilihan tepat untuk memaknai cinta. Atau melihat lagi cinta dari sudut pandang yang berbeda.






LEAVE A REPLY