Home FILM Ketika Walt Disney Studio Membalikkan Prasangka Rasisme

Ketika Walt Disney Studio Membalikkan Prasangka Rasisme

Film The Little Mermaid [2023] - Tayang di Disney Plus

19
0
SHARE
Ketika Walt Disney Studio Membalikkan Prasangka Rasisme

Tahun 2022. Walt Disney Studio merilis teaser perdana dari film The Little Mermaid. Dan sejarah mencatat betapa banyaknya ujaran kebencian yang ditujukan pada film ini.

Teaser perdana tersebut dirilis sejak 10 September 2022 dan langsung panen dislike. Tercatat tak kurang 3,5 juta dislikes dari teaser berdurasi 1 menit 23 detik itu yang ditonton lebih dari 28 juta kali tersebut. Bisa jadi menjadi teaser dari sebuah film yang mencatat sejarah dengan dislike terbanyak. Semata karena Walt Disney Studio dinilai punya agenda tersendiri ketika memberi peran utama kepada seorang aktris berkulit hitam bernama Halle Bailey. Tapi pertanyaan yang sesungguhnya muncul adalah apakah betul Walt Disney Studio punya genda tertentu? Dan apakah betul filmnya seburuk itu hanya karena prasangka rasisme?

Saya justru menonton The Little Mermaid karena ingin membuktikan prasangka rasisme itu. Hanya orang berpikiran tak logis yang membenarkan prasangka tanpa dasar. Maka hari itu, Rabu 24 Mei, saya meluncur ke Cinere Bellevue di sore hari. Dan surprise, bioskop dibanjiri para orangtua yang membawa anak-anaknya menyaksikan film tersebut.

Saya pun menyaksikan The Little Mermaid tanpa ekspektasi, melepaskan semua prasangka yang digembar-gemborkan banyak orang dan menguasai internet selama berbulan-bulan. Dan di luar dugaan, sudah cukup lama saya tak menyaksikan film semenyenangkan The Little Mermaid

Padahal bisa jadi kita semua tahu paling tidak tahu dasar cerita dari kisah putri duyung dan pangeran tampan itu. Tapi tak apa kita berkenalan ulang dengan mereka. Ariel adalah putri bungsu dari raja laut, Triton. Berbeda dengan kakak-kakaknya yang digambarkan penurut, Ariel yang sekilas tampak kalem selalu penuh rasa ingin tahu dan tak ragu-ragu menuruti rasa penasarannya. Sudah lama ia penasaran dengan dunia manusia. Meski selalu dilarang oleh ayahnya untuk membiarkan penasaran itu terus tumbuh, Ariel justru sengaja memeliharanya. Hingga suatu ketika, rasa penasaran itu menemukan jawabannya.

Di tengah lautan yang tengah mengamuk, sebuah kapal yang dinakhodai pangeran tampan bernama Eric terkena musibah. Kapal tersebut dilalap api dan membuat para awak kocar-kacir menyelamatkan diri. Sementara Eric memastikan semua awak dalam kondisi selamat sampai ke sekoci, ia melihat seekor anjing di tengah kapal yang perlu diselamatkan. Dan tanpa ragu ia kembali ke kapal tanpa peduli dengan nyawanya sendiri.

Dan kita sudah tahu kelanjutan cerita ini. Ariel akan menyelamatkan Eric dan Eric penasaran dengan sosok sang penyelamat. Tapi The Little Mermaid tentu berjalan tak sesederhana itu. Ariel yang setelah menyelamatkan Eric justru semakin penasaran dengan dunia manusia tahu bahwa inilah saatnya ia untuk membayar rasa penasarannya, berapapun harganya. Termasuk melepaskan hal paling berharga dari dirinya: suaranya yang merdu.

Saya rasa semua prasangka rasisme itu lenyap ketika kita melihat bagaimana cerdiknya Rob Marshall sebagai sutradara menyelipkan ide soal keragaman manusia. Rasanya baru kali ini kita melihat putri duyung dari beragam ras. Tak hanya berkulit putih atau hitam, juga berkulit kuning dan cokelat. Dan apapun agenda Walt Disney Studios soal itu, saya rasa tak ada masalah sama sekali terkait hal tersebut. 

Dan terutama pemilihan Halle Bailey sebagai Ariel adalah pilihan yang tepat. Sebagai sesama sutradara, saya memaklumi bagaimana Rob terpikat dengan sosok Halle. Ia tak cuma cantik dan punya kualitas loveable, tapi juga ia bersuara merdu dan berhasil berakting dengan baik. Kini kita melihat Ariel seperti layaknya remaja biasa yang selalu penasaran, selalu ingin menabrak peraturan demi peraturan yang mengekang dan kadang tak peduli dengan segala resiko yang melibatkan orang lain termasuk ayahnya. Sama seperti kita melihat Eric yang juga seperti layaknya remaja biasa yang ingin lepas dari bayang-bayang gelar dan orangtuanya dan ingin menjadi dirinya sendiri.

Tapi pencuri perhatian dari The Little Mermaid bisa jadi adalah Sebastian. Diisi suarakan oleh Daveed Diggs dengan aksen ala Karibia, kita melihat sosok kepiting yang sok patuh, kocak, penyayang dan punya rasa peduli yang tinggi. Sekali lagi kita melihat bagaimana seekor binatang “dimanusiakan” oleh Rob Marshall sedemikian asyiknya dengan segala tingkah polahnya yang seringkali menyebalkan dan selalu berhasil memancing tawa. 

Saya kira Walt Disney Studios berhasil membuat masyarakat terperangah. Mereka berhasil membalikkan ujaran kebencian dan prasangka rasisme menjadi pujian demi pujian atas sebuah film yang menyenangkan, menghangatkan hati, dengan visual spektakuler dan lagu-lagu yang ditata merdu dan indah. Semoga kita semua memulai dari sekarang berhenti untuk membenci sesuatu yang tak kita pahami, berhenti untuk membenci sesuatu atas dasar prasangka rasisme dan terutama berhenti membenci sesuatu tanpa alasan yang cukup penting dan bisa dipertanggungjawabkan secara moral.

 

THE LITTLE MERMAID

Produser: John DeLuca, Rob Marshall, Lin-Manuel Miranda, Marc Platt

Sutradara: Rob Marshall

Penulis Skenario: David Magee Sutradara: Rob Marshall

Pemain: Halle Bailey, Jonah Hauer-King, Melissa McCarthy

Video Terkait: