Home SERIAL Dilihat dari Jauh Seperti Komedi, Dilihat Dari Dekat Tragedi

Dilihat dari Jauh Seperti Komedi, Dilihat Dari Dekat Tragedi

Serial Vladimir [2026] - Tayang di Netflix

22
0
SHARE
Dilihat dari Jauh Seperti Komedi, Dilihat Dari Dekat Tragedi

25 Desember 1977. Saat seluruh dunia merayakan Natal dengan bersukacita bersama keluarga, Charlie Chaplin meninggal dengan tenang dalam tidurnya di kediamannya di Swiss.

Charlie Chaplin adalah komedian tak tertandingi hingga hari ini. Karya-karyanya tak saja memikat namun penuh perenungan. Pemikiran-pemikirannya pun terus ditelusuri dan terus saja menjadi relevan hingga hari ini. Salah satu pemikirannya terkenal ketika mengaitkan kehidupan dengan komedi dan tragedi. “Hidup adalah tragedi ketika dilihat dari dekat dan komedi saat dilihat dari jauh.” Ada nuansa satir sekaligus kebenaran di dalamnya yang membuat kita selalu berhenti sejenak dan merenung meskipun ujaran ini telah dikutip dan diucapkan jutaan kali.

Saya mengingat kutipan ini setelah menuntaskan 8 episode serial terbatas berjudul Vladimir. Serial yang setiap episodenya berdurasi pendek 25-30 menit dan bercerita soal fantasi perempuan setengah baya. Di usia 50-an banyak perempuan yang merasa hidupnya berangsur berakhir, kehidupan seksnya memudar dan secara perlahan merasa diri mereka tak lagi diinginkan sekaligus tak lagi terlihat. Saya bukan perempuan, belum sampai berumur 50 tahun, jadi saya tak berupaya mencoba memahami semua itu. Namun melalui Vladimir yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Julia May Jones, kita bisa melihat dan mungkin mencoba memahaminya.

Vladimir berfokus pada karakter tak bernama, seorang profesor sastra perempuan, masih cantik di usianya yang sudah 50-an tahun, namun tengah berada di pusaran badai. Suaminya yang juga sesama profesor sastra, John, sedang diselidiki oleh pihak kampus. Disinyalir John menggunakan kekuasaannya sebagai dosen untuk merayu mahasiswi dan kelak berhubungan seks dengannya. Tak cuma sekali namun John melakukannya berkali-kali dengan beberapa orang.

Di tengah situasi kurang kondusif, kampus kedatangan profesor sastra baru bernama Vladimir. Usianya baru 30-an tahun, ganteng, atletis dan tentu saja cerdas. Sontak saja fantasi dari sang profesor perempuan yang juga seorang penulis meluap-luap. Kehadiran Vladimir adalah sebuah interupsi yang datang di saat yang tepat. Sang profesor perempuan yang baru saja dipandang sebagai korban dari kasus yang dialami suaminya lantas berganti peran menjadi seseorang yang memandang laki-laki muda yang hampir separuh usianya sebagai obyek fantasi seksualnya. Tapi apa yang salah dengan berfantasi? Apa yang salah dengan tetap memiliki hasrat seks yang menggebu-gebu? Namun pertanyaan terbesar yang disodorkan serial terbatas ini adalah apakah sang profesor perempuan akan membiarkan fantasinya tetap hanya berada di benaknya dan tak membiarkannya meronta-ronta keluar? Atau ia akan memberi kesempatan pada dirinya untuk kembali diinginkan dan dilihat oleh seorang pria muda yang tak sekedar ganteng dan atletis namun juga secerdas dirinya?

Tema soal seksualitas perempuan di usia parobaya berpilin dengan relasi kuasa yang menaunginya sebenarnya bukan sesuatu yang baru dalam ranah film. Tahun 2024 lalu kita juga melihat seorang CEO perempuan yang terlibat kisah asmara terlarang yang intens dengan seorang pegawai magang pria di film Babygirl. Tapi yang membuat Vladimir buat saya menarik adalah ketika Julia selaku kreator membungkusnya dengan pendekatan komedi sekaligus menyuguhkan perspektif breaking fourth wall kepada tokoh utama. Pendekatan komedi menjadi menarik karena kita melihat pupusnya keinginan untuk melihat hal ini dalam kacamata serba serius sementara pendekatan berbicara ke kamera ada dalam bingkai komedi itu dan bisa menegaskan bagaimana karakter protagonisnya ingin membuat garis batas yang jelas antara [sekedar] hasratnya dan apa yang menjadi dampak dari hasratnya kelak di dunia nyata.

Maka sebagaimana Nicole Kidman yang meyakinkan di Babygirl yang sama-sama sudah menginjak usia 50 tahunan, Rachel Weisz melakukannya di level berbeda di Vladimir. Ia bisa membicarakan segala hasrat terpendam hingga fantasi terliarnya dengan berbicara langsung ke kamera [mewakili penonton] sehingga kita bisa masuk jauh ke dalam dirinya. Pendekatan ini bisa saja dianggap berisiko bagi penonton yang tak terbiasa namun saya yakin penonton hari ini lebih tertarik dengan pendekatan non-konvensional.

Pendekatan komedi berpadu dengan breaking fourth wall ini juga menarik karena kita bisa melihatnya dalam perspektif yang dibicarakan Charlie Chaplin. Dari jauh kita bisa melihat apa yang dibicarakan, dikhawatirkan dan dirasakan oleh sang profesor perempuan sebagai komedi. Tapi ketika kita melihatnya dari jarak yang lebih dekat ternyata ada sejumlah tragedi di sana-sini yang terjadi. Terasa komedi ketika kita melihat hasrat, fantasi dan realitas nyaris bercampur aduk namun di sisi lain terasa sebagai tragedi ketika kita melihat apa yang sudah dialami sang profesor perempuan. Bagaimana rasanya menjadi dirinya dengan segenap label yang dilekatkan padanya akibat ulah sang suami? Bagaimana ia bisa menghindar dari stigmatisasi atas kuasa yang juga dimilikinya? Dan tentu saja bagaimana ia merespon situasi serba kikuk dimana orang-orang di sekelilingnya menuntutnya untuk sekedar menyenangkan suara mayoritas?

Saya membayangkan sekiranya apa yang dialami oleh sang profesor perempuan terjadi di Indonesia, apa yang bakal terjadi? Apakah ia masih bisa membela diri? Apakah ia masih bisa menyelamatkan karir yang sudah dibangunnya hampir 30 tahun? Dan bagaimana cara ia bisa keluar dari segala badai tersebut? Atau jangan-jangan ia akan cuma jadi sekedar simbol cancel-culture yang sedang marak terjadi di berbagai belahan dunia?

Vladimir tak sekedar menarik tapi juga bisa jadi memicu diskursus seputar feminisme, relasi kuasa hingga seksualitas perempuan. Dan walau 8 episodenya tak menawarkan letupan-letupan ala drama Cina yang sedang merajalela, ia menawarkan sejumlah perenungan. Saya bukan perempuan, saya belum berusia 50 tahun namun melalui Vladimir saya bisa mencoba memahami konstruksi rumit yang menandai perjalanan seorang perempuan.

 

VLADIMIR

Produser: Chris Pavoni

Sutradara: Shari Springer Berman, Francesca Gregorini, Robert Pulcini, Josephine Bornebusch

Penulis Skenario: Jeanie Bergen, Matthew Capodicasa, Julia May Jones, Collette Burson, Susan Soon He Stanton

Pemain: Rachel Weisz, Leo Woodall, John Slattery

Video Terkait: