Home FILM Heli Yang Menghilang, Hilal Yang Akhirnya Ditemukan

Heli Yang Menghilang, Hilal Yang Akhirnya Ditemukan

Film Mencari Hilal [2015] - Tayang di Vidio

15
0
SHARE
Heli Yang Menghilang, Hilal Yang Akhirnya Ditemukan

Tahun 2015. Salah satu film religi Indonesia yang tak menceramahi, apalagi menghakimi dirilis di bioskop. Dan masih jadi salah satu film religi Indonesia kontemporer terbaik.

Judul filmnya Mencari Hilal yang kini bisa ditonton di Bioskop Online. Sebuah road movie mengesankan tentang kesenjangan generasi tua dan muda, ayah dan anak, agamis dan sekuler dan hal-hal di antaranya.

Sebagaimana road movie pada khususnya, Mencari Hilal juga tentang sebuah perjalanan transformatif. Sang ayah, Mahmud, di usia senjanya tetap ingin berjuang menegakkan Islam secara kaffah. Ia merasa tertampar ketika mendengar isu sidang Isbat dari Kementerian Agama yang menelan biaya hingga 9 milyar rupiah. Mahmud terkenang saat pesantren tempatnya menimba ilmu masih berdiri dan bagaimana mereka mencari hilal tanpa perlu melibatkan uang, hanya sebuah usaha yang tulus untuk umat.

Mahmud ingin kembali mengulang semuanya dan melakukan perjalanan panjang menemukan hilal. Tapi ia sudah tak muda lagi. Maka Mahmud diperbolehkan anak sulungnya melakukan perjalanan asal ia didampingi Heli, si anak bungsu.

Heli sudah lama menghilang dari rumah yang membuatnya gerah. Ia tak tahan dengan pandangan ayahnya yang menganggap Islam sebagai satu-satunya solusi dalam hidup. Dan pertentangan itu membuatnya keduanya kini berada di kutub berlawanan. Entah untuk menentang ayahnya atau tidak, tapi kini Heli berada di jalur sekuler liberal. 

Premis ini mau tak mau memang mengingatkan kita pada film Prancis, Le Grand Voyage, besutan Ishmael Ferroukhi. Sang ayah yang sudah uzur ingin menunaikan ibadah haji tapi ia ingin menempuhnya lewat jalan darat. Anak sulung keberatan dengan keinginan ayahnya namun ayahnya yang keras kepala susah sekali dikalahkan. Maka kompromi yang dicapai adalah sang ayah akan berhaji ditemani si anak bungsu. Masalahnya si anak bungsu sama sekali tak agamis, ia lahir dan besar di Prancis yang sekuler dan tak paham dengan keinginan ayahnya. Sepanjang perjalanan, benturan demi benturan terjadi di antara keduanya. Sebuah komentar tentang bagaimana sulitnya menyamakan perspektif antara dunia lama dan dunia baru, antara keinginan untuk meninggalkan segala keduniawian dan malah terpuruk jauh ke dalamnya. 

Maka Reda, sebagaimana Heli, mengambil jalan berbeda dari ayah-ayah mereka. Tapi seiring perjalanan, kita tahu bahwa ayah dan anak sesungguhnya mirip. Mereka punya kesamaan sikap, kesamaan soal keteguhan hati, juga kesamaan dalam memandang nilai-nilai kemanusiaan yang dilakoni dalam kehidupan sehari-hari. Maka kegiatan mencari hilal bagi Mahmud tak lagi sesederhana menemukan petunjuk tentang awal Ramadan. Ini juga tentang pertemuannya kembali dengan si anak hilang.

Sebuah perjalanan. Dua transformasi. Dan kedua orang yang menjalaninya tak lagi sama setelahnya. Mereka bersusah payah menapaki perjalanan itu, mengeraskan hati untuk tak saling meninggalkan, mengukuhkan tekad untuk kelak bisa menerima satu sama lain dengan lebih baik. Karena hidup terus berjalan dan semestinya kita memang perlu terus mengupayakan diri yang lebih baik.

Sebuah perjalanan tentu tak melulu bicara soal jarak yang bisa dihitung. Bisa saja ia bicara soal jarak hati yang sudah lama saling menjauh. Dua hati yang sudah lama berusaha saling melepaskan, berusaha saling merelakan walaupun sesungguhnya tak akan benar-benar ikhlas melakukannya.

Dan dalam perjalanan, mungkin kita akan belajar banyak hal. Mungkin kita akan belajar soal silver lining, hikmah di balik segala peristiwa. Bahwa sebuah peristiwa tak terjadi begitu saja, selalu ada makna tertentu di baliknya. Tuhan tak menciptakan apapun, tak membiarkan peristiwa apapun, terjadi tanpa makna. Dan setelah belajar soal hikmah, mungkin kita bisa mulai belajar soal ikhlas. Sebuah keikhlasan untuk saling memahami, saling percaya dan kelak saling memaafkan.

Maka kita melihat Mahmud melakukan perjalanan paling bermakna di penghujung hidupnya. Agar ia tak lagi mencar-cari sesuatu yang hilang itu. Heli kini ditemukannya kembali, bersamanya menemaninya melakukan perjalanan melintasi tempat, waktu dan kenangan demi kenangan. Seorang ayah kini menemukan kembali anaknya yang hilang, anaknya yang sudah berubah dan perlu ia ikhlasnya untuk menerima seutuhnya.

Di akhir Ramadan, sembari mengingat kisah Heli dan Mahmud, mata saya basah membaca sepenggal kalimat dari buku On The Road karya Jack Kerouac. “Kami berpaling pada selusin langkah, karena cinta adalah duel, dan saling memandang untuk terakhir kalinya.”

Video Terkait: