Home FILM The Kite Runner dan Persahabatan John dan Ahmed

The Kite Runner dan Persahabatan John dan Ahmed

Film Guy Ritchie\\

14
0
SHARE
The Kite Runner dan Persahabatan John dan Ahmed

Tahun 2013. Seorang penulis berkebangsaan Amerika-Afganistan, Khaled Hosseini, mengguncang dunia literasi dengan novel perdananya berjudul The Kite Runner.

Sekilas membaca novel The Kite Runner, kita mungkin melihatnya sekedar sebagai kisah coming of age. Novel tersebut juga bisa dibaca sebagai kisah persahabatan semata. Tapi begitu kamu menggali lebih dalam sembari menahan air mata di setiap lembar halamannya, kamu akan tahu bahwa The Kite Runner adalah sebuah kisah tentang penebusan diri.

Guy Ritchie’s The Covenant sedikit banyak mengingatkan pada kisah Amir dan Hassan di novel The Kite Runner [yang juga sudah difilmkan, tentu saja]. Bagaimana persahabatan kedua bocah terjalin, bagaimana mereka menjalani hari demi hari dengan dinamika hubungan yang rumit, bagaimana kelak Amir merasa tersaingi hingga sengaja mencelakai Hassan yang selalu membelanya mati-matian dan pada akhirnya tentang bagaimana Amir yang sudah dewasa menebus rasa bersalah yang dipendamnya selama bertahun-tahun dan kembali ke Agfanistan mencari Hassan.

Seperti novel The Kite Runner, Guy Ritchie’s The Covenant bisa saja dipandang sebagai film perang antara Amerika dan Afganistan yang menjadi perang terlama sejak Amerika mengalami peristiwa 11 September 2001. Tapi begitu mengikuti filmnya dengan lancar, kita tahu film tersebut adalah sebuah kisah tentang balas budi.

John Kinley mirip dengan Amir dan Ahmed adalah Hassan di Guy Ritchie’s The Covenant. John adalah komandan dari pasukan kecil dimana Ahmed bertugas sebagai penerjemah. Banyak warga lokal yang terjun menyabung nyawa menjadi penerjemah dengan harapan bisa mendapatkan visa dan kelak memulai hidup baru nan damai di tanah Amerika. Begitu pula Ahmed. Sosoknya dengan kepala botak, karismatik, bicara seperlunya, sulit untuk tak menarik perhatian. Padahal Ahmed memang sekedar ingin menjalankan tugasnya sebaik-baiknya. Apalagi ia masih punya istri dan seorang bayi yang belum lagi berusia setahun menunggunya di rumah.

John memandang Ahmed sebagai penerjemah biasa hingga suatu hari Ahmed menyelamatkan pasukannya dari sebuah pengkhianatan. Kepercayaan John pada Ahmed toh tak langsung terbangun. John dengan arogansi Amerika-nya masih memandang Ahmed sebagaimana majikan pada pelayannya. Persis seperti dinamika hubungan yang rumit antara Amir dan Hassan di novel The Kite Runner.

Tapi dinamika hubungan yang rumit itu luluh lantak seketika tatkala pasukan Taliban menyerang mereka. Satu demi satu pasukan dari John diterjang timah panas dan membuat mereka meregang nyawa. Mereka tak berdaya mengatasi serangan bertubi-tubi dari pasukan Taliban yang tiba-tiba muncul dari mana-mana. Dan keduanya terkepung begitu saja.

Seperti saya ketika menyaksikan filmnya, John pun mungkin berpikir bahwa Ahmed akan melakukan cara yang mudah. Menyerah pada Taliban dan sekaligus menyerahkan pada mereka. Mungkin ia masih bisa diampuni. Mungkin istri dan anaknya masih bisa diselamatkan. Tapi Ahmed melakukan hal di luar dugaan. Ia bertahan melindungi John hingga titik darah penghabisan dan kelak membuat John merasa berutang budi padanya.

Guy Ritchie’s The Covenant menjadi film yang sama sekali keluar dari pakem yang biasa dilakukan Guy Ritchie. Sutradara asal Inggris ini terkenal dengan gaya penyutradaraan yang seringkali berlebihan melebihi substansi, mengedepankan cerita-cerita nyeleneh yang memang jadi ciri khasnya. Tapi kali ini Guy kembali ke traditional filmmaking: berpegang teguh pada cerita yang kuat, tanpa memadukannya dengan sinematografi dengan gaya berlebihan dan hasilnya adalah sebuah film perang dengan sudut pandang menarik, dengan kisah persahabatan yang tiada tanding dan mungkin akan terus diingat sebagai salah satu film terbaiknya.

Juga karena berpegang teguh pada traditional filmmaking, maka Guy banyak bertumpu pada dinamika hubungan yang ditunjukkan Jake Gyllenhaal dan Dar Salim yang memainkan dua karakter kunci. Jake sudah sering kita saksikan dalam beberapa film berlatar militer dan ia memang seorang aktor yang intens. Tapi sekali lagi di sini ia menampakkan jangkauan akting yang lebih luas daripada yang biasa ditunjukkannya. Rasa frustasi, kerapuhan dan kemarahannya bisa dirasakan oleh penonton. Kita bisa merasakan apa yang dirasakan John soal bagaimana pemerintah yang sering berjanji namun cenderung tak punya niat baik untuk menepatinya.

Tapi bintang Guy Ritchie’s The Covenant tentu saja adalah Dar Salim, seorang aktor berkebangsaan Denmark – Irak. Dar dengan penampilan yang mudah menarik perhatian masih bisa menghilang menjadi Ahmed sepenuhnya. Seorang warga Afganistan, seorang suami, seorang ayah, seorang penerjemah dan seorang sahabat sejati. Seharusnya memang Jake Gyllenhaal yang merasa beruntung karena Guy Ritchie sudah memilih Dar Salim sebagai lawan mainnya yang tangguh.

Soal balas budi mungkin adalah perkara pelik dan sulit dimengerti adalah generasi sekarang. Jika berada di posisi John, sebagian besar orang akan dengan mudah melupakan apa yang dilakukan seseorang kepadanya sebegitu hebatnya. Tapi di Guy Ritchie’s The Covenant kita bertemu dua manusia hebat di tengah perang yang mengamuk dan merontokkan kemanusiaan.

Video Terkait: