11 Agustus 1596. Seorang anak meninggalkan dunia untuk selama-lamanya dan meninggalkan kesedihan bagi segenap keluarganya terutama ibunya.
Saya ingat pernah tertegun ketika di sebuah adegan film, seorang ayah yang tengah berduka berseru. “Kehilangan anak bagi orangtua itu seperti melawan takdir. Karena seharusnya anak yang menguburkan orangtuanya bukan sebaliknya.”
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi ayah saya yang harus menguburkan putra yang disayanginya yang meninggal di usia yang baru 27 tahun. Saya tidak bisa membayangkan duka yang harus ditanggung selama bertahun-tahun setelah ditinggal anak yang dicintainya sejak lahir. Dan saya tidak bisa membayangkan bagaimana menjadi Agnes, pun William, yang harus kehilangan Hamnet.
Sang anak bernama Hamnet yang lahir dari pasangan William dan Agnes Shakespeare. Dan Hamnet dinukil dari kisah nyata yang dialami pasangan muda itu. Dan konon dari duka dan kematian itulah menginspirasi mahakarya Shakespeare yang terkenal menembus jaman.
Saya sudah menyukai Chloe Zhao sejak menyutradarai Nomadland [2021]. Di tangannya film tak terkesan “cuma” terasa lebih feminine karena ia perempuan tapi karena di tangannya film terasa liris, dengan gugatan-gugatan mendalam dan memperlihatkan kerapuhan manusia dalam saat-saat paling sulitnya. Tak terhitung berapa banyak film yang terinspirasi dari kisah Shakespeare maupun Hamlet namun Chloe cerdik melihat sebuah sudut pandang yang bisa jadi belum pernah dieksplorasi dalam wujud sinema. Tentang bagaimana sebuah kematian berujung pada sebuah kelahiran. Tentang bagaimana sepeninggal anak dari ayah yang berduka melahirkan mahakarya. Dan bagaimana seorang ibu mencari hikmah dari kesakitannya akan rasa duka.
Sejak layar dibuka kita melihat bagaimana skenario yang dirakit sendiri oleh Chloe bersama Maggie O’Farrell bergerak cepat. Namun dalam kecepatan itu kita juga melihat bagaimana Chloe membingkai cerita sekaligus membumikannya dan menyadarkan kita bahwa Agnes, juga William, adalah manusia biasa. Agnes yang eksentrik dan dijuluki putri penyihir hutan bisa jatuh hati sedemikian cepatnya pada William yang bekerja mengajar anak-anak demi membayar utang ayahnya. Di tahun 1500-an masyarakat Barat masih puritan dan ibu William tak bisa menerima ketika tahu Agnes hamil sebelum menikah. Tapi kita bisa melihat cinta yang menggelora di kedua mata Agnes dan William dan kita tahu tak mungkin memisahkan keduanya.
Cerita terus bergerak cepat memperlihatkan bagaimana keluarga kecil itu pelan-pelan terbangun dimulai dari kelahiran Susanna. Beberapa tahun kemudian lahirlah anak kembar dampit, Hamnet dan Judith. Kehadiran ketiga anak ini bagai cahaya yang berpendar menyinari seantero rumah. Tapi Agnes yang peka melihat ada masalah pada diri William. Sebelum William menyadarinya, Agnes tahu bahwa William akan lebih menemukan dirinya sendiri saat berkiprah di London. Maka sebagai istri yang baik, ia mendorong suaminya menggapai mimpi-mimpinya.
Tapi kebahagiaan itu ternyata tak bertahan lama. Dan dipuncaki dengan kematian Hamnet yang diduga terjangkit penyakit sampar yang di masa itu belum ditemukan obatnya. Keluarga kecil ini goyah. Agnes terus menerus menyalahkan dirinya atas kematian ini. Dan lama kelamaan ia beralih menyalahkan William yang tak hadir di detik-detik terakhir napas putranya.
Chloe lebih banyak memberi panggung pada sosok Agnes di cerita ini dan dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Jessie Buckley. Ia meniupkan ruh ke tubuh Agnes yang sebagian besar dari kita tak mengenalnya melalui literatur. Ia menghidupkan tubuh Agnes sekaligus mengisi jiwanya dengan rasa cinta, bahagia, kesakitan dan duka mendalam. Peran Agnes ini memang luar bisa menantang karena begitu lebarnya rasa demi rasa yang harus dihadirkan oleh Jessie dan harus bisa dirasakan oleh penonton.
Tapi yang membuat saya rispek kepada Chloe betapa ia tak melupakan sosok William. Seorang laki-laki yang sedang menikmati karirnya yang gemilang, seorang suami yang kebingungan menghadapi duka istrinya dan seorang ayah yang tak tahu bagaimana seharusnya menyikapi kematian anaknya. Di tengah berondongan tuduhan dari Agnes soal sosoknya yang tak hadir di rumah, William tengah belajar menata hatinya dari kesakitan itu. Bisa jadi ia mencoba mengenali emosi-emosi yang tak pernah dialaminya sepanjang hidupnya. Dan konon karena situasi yang berlarut-larut itu membuat Williams bisa melahirkan mahakarya yang emosional seperti King John, Romeo & Juliet, Twelfth Night dan terutama Hamlet.
Dan di adegan akhir Hamnet yang luar biasa intens, saya bersama puluhan penonton terisak-isak menangis bersama Agnes dan William dan akhirnya bisa merelakan kepergian Hamnet. Dan saya pun mengingat bagaimana setelah bertahun-tahun saya berhenti menyalahkan ayah saya atas kepergian adik saya dan akhirnya berdamai dengannya.
HAMNET
Produser: Nicolas Gonda, Pippa Harris, Liza Marshall, Sam Mendes
Sutradara: Chloe Zhao
Penulis Skenario: Chloe Zhao, Maggie O’Farrell
Pemain: Jessie Buckley, Paul Mescal, Jacobi Jupe






LEAVE A REPLY