Home FILM Mengitari Hong Kong Bersama Lola Amaria

Mengitari Hong Kong Bersama Lola Amaria

Film Minggu Pagi di Victoria Park [2010]

18
0
SHARE
Mengitari Hong Kong Bersama Lola Amaria

Tahun 2010. Di saat perfilman Indonesia mulai diserbu dengan genre horor/komedi seks, Lola Amaria dengan gagah berani datang dengan filmnya yang berbeda.

Film tersebut berjudul Minggu Pagi di Victoria Park yang kini ditayangkan kembali di Netflix. Sebuah potret yang cukup dekat tentang gambaran bagaimana Tenaga Kerja Wanita [TKW] bekerja keras di negeri orang demi keluarga di kampung halaman nan jauh.

Lola sebagai sutradara selalu berani memberikan isu-isu berbeda dan menarik di setiap film yang disutradarainya. Dan isu-isu itu tak sekedar menarik dan berbeda tapi juga penting. Dari Minggu Pagi di Victoria Park kita jadi tahu bagaimana para TKW menjalani hari demi hari yang awalnya penuh impian lantas terpuruk ke jurang yang dalam dan tak bisa kembali ke negeri sendiri. Mereka bukan sekedar angka atau mereka yang diberi julukan pahlawan devisa tapi mereka juga adalah ibu, kakak dan adik seseorang di Indonesia.

Mayang pada awalnya juga tak pernah berpikir untuk menjadi TKW di Hong Kong. Namun adiknya yang hilang kontak di sana, Sekar, membuatnya mengambil salah satu keputusan paling penting dalam hidupnya. Mayang memutuskan menjadi TKW, mencari penghidupan demi menghidupi keluarga sekaligus mencari adiknya yang menghilang sekian lama.

Tapi Sekar tak sekedar menghilang. Ia juga terlibat masalah di negeri asing. Ia tak bisa bekerja secara legal, tak bisa lagi menghidupi dirinya dan membenamkan dirinya ke dalam masalah demi masalah. Dan apa yang dialami Sekar rupanya memang dialami cukup banyak TKW di Hong Kong yang membuat masalah ini menjadi penting dibicarakan. Jika pahlawan devisa seperti Sekar terlibat masalah, di mana peran negara?

Dan Minggu Pagi di Victoria Park memberi porsi yang seimbang bagi negara yang diwakili Gandi yang bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia [KBRI]. Gandi menjadi semacam Bapak TKW yang mengayomi ratusan ribu orang yang bekerja keras membanting tulang demi keluarga. Gandi pula menjadi semacam simbol bahwa negara hadir dalam kasus yang melibatkan warganegaranya di luar Indonesia.

Lola membongkar masalah demi masalah yang terasa dekat dengan apa yang dialami oleh para TKW di sana. Bagaimana sulitnya membagi waktu dengan pekerjaan yang ketat dan mencoba membantu menyelesaikan masalah yang menimpa adiknya di sana. Semarah apapun Mayang pada Sekar, tetap saja Sekar adalah adiknya. Hubungan darah diantara mereka tak bisa dihilangkan begitu saja atas nama amarah. 

Dan Mayang mengitari jengkal demi jengkal Hong Kong demi mencari Sekar. Tapi ia tak saja bertemu Sekar, ia bertemu dengan begitu banyak TKW dengan tingkah polah yang khas, dengan masalah masing-masing, dengan segala kekenesannya. Mayang tahu ia tak boleh mudah menyerah menunaikan amanat dari orangtuanya. Mayang tahu ia harus menyelamatkan adiknya, apapun resikonya. Tapi bagaimana jika Sekar memang tak ingin diselamatkan oleh kakaknya sendiri?

Duet akting Lola Amaria dan Titi Sjuman menjadi obor yang menerangi keseluruhan film ini. Tampilan fisik keduanya sudah berubah sepenuhnya, tingkah laku mereka pun menjadi sedemikian alamiahnya dan keduanya menghilang ke dalam peran masing-masing. Dalam film, yang kita lihat bukan lagi Lola melainkan Mayang yang berwatak lembut dan lebih sabar dengan segala upaya pencarian yang dilakukannya. Kita juga tak lagi melihat Titi melainkan Sekar yang meski lelah berlari namun terus memutuskan untuk kucing-kucingan dengan masalah demi masalah yang terus mendatanginya.

Minggu Pagi di Victoria Park menjadi salah satu film penting yang pernah dibuat karena berhasil memotret realitas yang terjadi pada pekerja perempuan dari tanah air di Hong Kong. Sebuah film yang rasanya masih relevan jika kita tonton 10 tahun mendatang dengan segala problematika para TKW yang kadang berputar seperti lingkaran setan.

Dan Victoria Park menjadi pertemuan dari segalanya. Ketika amarah bertemu dengan kesabaran maka semuanya menjadi luruh. Ketika kesumpekan bertemu dengan kesenangan maka semuanya menjadi lenyap. Victoria Park menjadi simbol bahwa sebuah tempat bisa memiliki banyak makna. Victoria Park bukan sekedar taman terbuka umum namun ia juga tempat untuk menghilangkan kegelisahan, merawat kerinduan dan menjaga kebahagiaan. Dan koneksi sesama manusia menjadi kuncinya dan taman sekedar menjadi tempat keberlangsungannya. Dan kita memahami betapa Victoria Park menjadi sebuah persinggahan hati, sebuah pertemuan jiwa dan sebentuk cara menjaga rasa rindu.

Video Terkait: