Home FILM Hantu Nu Gui Dan Sebuah Niat Baik

Hantu Nu Gui Dan Sebuah Niat Baik

Film Perempuan Bergaun Merah [2022]

15
0
SHARE
Hantu Nu Gui Dan Sebuah Niat Baik

Tahun 1971. Film horor berjudul Lisa dirilis dan setelahnya hantu perempuan menguasai jagat horor negeri ini hingga hari ini.

Berkat Lisa, hantu perempuan dinilai lebih mengerikan dibanding hantu laki-laki. Dengan beragam motivasi yang bisa dibuat apapun oleh pembuat filmnya, hantu-hantu itu menggerayangi ratusan judul film horor Indonesia hingga hari ini. Dua hantu paling terkenal, sundel bolong dan kuntilanak, juga selalu digambarkan sebagai hantu perempuan.

Meski masih mengusung hantu perempuan, Perempuan Bergaun Merah yang tayang di Disney Plus datang dengan sebuah niat baik. Memperkenalkan hantu baru dalam khazanah horor Indonesia. Namanya Nu Gui yang berasal dari legenda urban Cina. Sejenis hantu perempuan yang dianggap menjadi salah satu hantu paling menakutkan karena memiliki kekuatan besar yang sulit dikalahkan. Nu Gui muncul ketika seorang perempuan melakukan bunuh diri setelah dianiaya atau diperlakukan dengan kejam oleh seseorang. Apabila si perempuan mengenakan baju merah ketika bunuh diri maka ia akan bangkit kembali sebagai Nu Gui yang melakukan pembalasan dendam paling mengerikan.

William Chandra yang menulis skenario sekaligus menyutradarai cerita berbasis legenda urban Cina ini berangkat dari niat baik. Ada upaya untuk memberi kesegaran pada medium film horor yang begitu gampang jenuh dengan cerita yang begitu-begitu saja dan terutama hantu yang juga begitu-begitu saja. Tapi niat baik memang seringkali tak cukup. Perlu upaya lebih besar untuk membuat semesta cerita yang selain menyajikan kesegaran ide juga bisa menampilkan cerita yang menghindar dari klise, ditulis dengan rapi dan terutama tak menghina logika dan pada akhirnya bisa dieksekusi dengan baik.

Sayangnya memang Perempuan Bergaun Merah hanya punya niat baik itu. Basis cerita soal Nu Gui tak dipoles dengan cerita yang lebih menarik. Yang tersaji sebuah cerita yang [sekali lagi] klise tentang perempuan yang diperkosa dan lantas balas dendam. Familiar dengan ide ini? Yess, ide serupa juga sudah pernah dicomot oleh legenda sundel bolong.

Padahal legenda Nu Gui bisa bergema lebih lantang jika misalnya menyorot soal tragedi 1998 dengan banyaknya tragedi dan kemelut di dalamnya yang sebagian diantaranya menyorot warga keturunan. Cerita bisa tetap setia dengan ide soal kemunculan Nu Gui namun dipertajam dengan latar soal perempuan yang diperkosa beramai-ramai di tengah aksi demonstrasi misalnya. Cerita pun bisa sedikit bergeser ke isu politik dan sosial yang bisa menambah kesegaran ide. Campuran politik dan sosial tak perlu pekat tapi cukup mendorong cerita ke arah yang menarik dan menyegarkan.

Padahal Perempuan Bergaun Merah tampak sekali dibuat sebagai film horor dengan biaya besar. Ada sosok Timo Tjahjanto pula di jajaran produser yang sayangnya justru seperti tak punya kendali dengan lemahnya skenario. Padahal skenario adalah cetak biru sebuah film. Ketika membaca lembar demi lembar skenario dan sudah tercium kelemahan demi kelemahan, mengapa tak menambah waktu lebih untuk memperbaikinya terlebih dahulu ketimbang terburu-buru disajikan setengah matang seperti ini?

Dan karena skenario adalah cetak biru sebuah film maka akan berimbas pada banyak hal. Departemen akting pun terasa seperti lesu darah. Karakterisasi setiap tokoh sungguh lemah dan kekurangan motivasi. William beruntung diberi privilege mengarahkan Tatjana Saphira, Refal Hady hingga Dayu Wijanto namun di sini ketiganya pun tak mampu menutupi lemahnya skenario. Sampai film berakhir, kita tak pernah tahu apa aktifitas Dinda [tokoh utama di film ini yang diperankan Tatjana], begitu pula tokoh-tokoh lainnya. Kedekatan Dinda dan Kara [yang menjadi korban di film ini] pun tak cukup membuat kita percaya bahwa Dinda akan melakukan apapun untuk mencari Kara. Keterkaitan antara satu tokoh dengan lainnya pun sangat minim sehingga sekali lagi kedekatan sesama karakter tak pernah betul-betul hadir. Mereka seakan hanya sesama orang asing yang dihadirkan demi menggerakkan cerita.

Niat baik menyajikan Nu Gui adalah satu hal tapi tak dibarengi dengan totalitas untuk secara konsisten menyajikan nuansa Tionghoa yang pekat. “Perempuan Bergaun Merah” pun terasa sekedar mendompleng hantu itu untuk menempatkannya di cerita yang tak spesifik dibuat untuk dirinya. Sayang sekali.

Setelah meledak luar biasanya KKN di Desa Penari tahun lalu, bioskop Indonesia pun dibanjiri dengan puluhan film horor. Sebagian besar diantaranya dibuat seadanya, dengan biaya seadanya, dengan niat seadanya. Perempuan Bergaun Merah perlu diapresiasi yang meski hadir dengan skenario seadanya namun datang dengan biaya produksi yang besar dan dengan niat yang baik. Jelas tak seburuk film-film horor gaje yang belakangan mendominasi bioskop tapi niat baik memang tak selalu cukup. Tak bisa menjadi patokan untuk menghasilkan film berkualitas baik.

Video Terkait: