Home FILM PENDEK Ketika Film Kehilangan Mengapa

Ketika Film Kehilangan Mengapa

Film Pendek Sammi, Who Can Detach His Body Parts [2025] - Tayang di Netflix

46
0
SHARE
Ketika Film Kehilangan Mengapa

Tahun 2019. Sebuah film pendek diproduksi. Mungkin tak banyak yang tahu tentang film ini. Film tersebut berjudul Hari ke-40 tentang seorang anak yang berjuang di tengah kehilangan kedua orangtuanya.

Saya membuat cerita Hari ke-40 bertahun-tahun sebelumnya sebelum memutuskan untuk menjadikannya sebagai debut penyutradaraan saya. Film pendek menjadi cara saya untuk belajar sekaligus berjuang bagaimana menaklukkan durasi sempit. Dengan durasi singkat biasanya sekitar 15-20 menit, tak hanya tentang apa namun terutama tentang mengapa wajib terjawab dalam film.

Kita tak bisa memungkiri film pendek berjudul Sammi, Who Can Detach His Body Parts dengan mudah menarik perhatian kita. Selain idenya yang liar dan harus diakui brilyan, film pendek ini juga terasa mewah karena melibatkan 2 aktor kaliber, Djenar Maesa Ayu dan Jefri Nichol. Kapan lagi kita bisa menyaksikan Jefri memainkan peran seaneh dan seberani ini jika bukan di film pendek?

Idenya luar biasa menarik. Tentang seorang pemuda yang punya kemampuan untuk melepaskan bagian-bagian tubuhnya begitu saja dan memberikannya ke orang lain. Tapi yang membuatnya lebih menarik justru karena film pendek ini bertutur dari sudut pandang ibu si pemuda. Kelak si pemuda meninggal, sang ibu yang sudah tahu kebiasaan anaknya itu menelusuri kota dan mencari jejak dari orang-orang yang diberi bagian-bagian tubuh oleh anaknya.

Dalam durasi hanya 19 menit kita merasa Sammi, Who Can Detach His Body Parts bergerak dengan ritme cepat yang membuatnya jauh dari kata membosankan. Jika banyak film pendek yang mencoba berlama-lama dengan shot-shot panjang yang berusaha kontemplatif [namun sebagian besar diantaranya gagal], sutradara Rein Maychaelson justru adalah antithesis dari hal-hal tersebut. Durasi singkat diisinya dengan pelbagai peristiwa. Kita melihat ibu yang kehilangan anaknya, kita melihat anak yang telah menjadi mayat dengan tubuh yang sudah tercabik-cabik nyaris tak bersisa, kita melihat bagaimana sang anak memberikan bagian tubuhnya begitu saja ke orang-orang yang bahkan tak dikenalnya. Tapi yang hilang dari film pendek ini sekaligus jadi bagian paling krusial adalah MENGAPA? Mengapa Sammi melakukan pengorbanan sebesar itu? Jika pun apa yang dilakukan Sammi ini ingin menjadi kritik namun jelas kritik itu tak sampai ke penonton.

Pendekatan hiper-realisme modern dalam khazanah film pendek Indonesia seperti film ini bisa saja dianggap segar, unik, liar dan aneh namun seharusnya film pendek tak berhenti di sana. Tetap saja film pendek adalah film di mana penonton seharusnya bisa menangkap apa yang ingin disampaikan oleh pembuatnya tanpa perlu pembuatnya menjelas-jelaskan filmnya melalui wawancara atau rilis media.

Akhirnya memang sebagian penonton bisa saja menganggap film pendek ini pretensius, tak jujur dan sekedar terlihat ingin keren-kerenan saja karena bagian MENGAPA itu yang tak digarap dengan baik. Saya paham bahwa film pendek punya kekhasan untuk menyelipkan pelintiran [plot twist] di akhir film dan bisa saja di bagian inilah walau hanya 30 detik sekalipun kita bisa tahu mengapa Sammi melakukannya.

Tapi walau saya tak bisa memahami keputusan mengapa Sammi melakukan apa yang dilakukannya di film namun saya [berusaha] memahami film ini ingin bercerita tentang apa. Mungkin Rein ingin bercerita tentang seorang ibu yang ingin mengumpulkan kenangan dari anaknya melalui potongan tubuhnya. Mungkin juga Rein ingin bercerita soal pemuda yang punya kapasitas luar biasa untuk mengorbankan dirinya [literally] buat orang lain. Atau bisa jadi Rein ingin bercerita tentang kita yang selalu menyingkirkan keinginan kita demi orang lain yang perlahan membuat diri kita lenyap tak bersisa.

Dan meski film ini kehilangan MENGAPA-nya tentu saja terasa berlebihan jika menganggapnya sebuah film yang buruk. Sammi, Who Can Detach His Body Parts dieksekusi dengan asyik dengan skenario hingga pengadeganan yang matang dan nyaris membuatnya menjadi film yang komplit. Tapi seperti Sammi, ada bagian besar yang hilang dari film ini, yang menjadi jantung dari film ini, yang membuat semuanya tampak terasa superfisial.

Tapi tentu saja menyenangkan melihat film pendek Indonesia mulai menyeberang ke ranah hiper-realisme modern dan menyentuh hal-hal yang tak terbayangkan sebelumnya. Dan tentu saja pula kita berharap keliaran, keberanian, keunikan, kesegaran dan keanehan sedemikian juga tak takut dieksplorasi oleh pembuat film di ranah film panjang. Bolehlah kita berharap kelak ada investor yang cukup gila untuk meng-ekstensifikasi Sammi, Who Can Detach His Body Parts menjadi film panjang yang tayang di bioskop.

 

SAMMI, WHO CAN DETACH HIS BODY PARTS

Produser: Muhammad Ihsan Ibrahim, Astrid Saerong

Sutradara: Rein Maychaelson

Penulis Skenario: Rein Maychaelson, Corenne Ong

Pemain: Djenar Maesa Ayu, Jefri Nichol

Video Terkait: