Tahun 2017. Untuk pertama kalinya saya bekerjasama dengan Alim Sudio. Alim mencoba mengembangkan cerita asli saya berjudul Reuni.
Cerita tersebut masih berwujud scene plot dan masih teronggok di komputer hingga saat ini. Di tahun 2019 barulah saya berkesempatan menyutradarai skenario film pendek yang ditulis Alim berjudul The Dessert.
Salah satu kelebihan Alim yang saya sukai adalah bisa membelokkan cerita ke arah yang lebih baik tanpa mengubah ceritanya secara besar-besaran. Sepertinya Alim tak pernah punya niat untuk mengubah sesuatu yang menurutnya sudah baik, ia hanya mencoba membuatnya menjadi lebih baik.
Dan Alim melakukan hal yang sama ketika berkesempatan mengadaptasi skenario dari 2 film sukses, Miracle in Cell No 7 dan Perfect Strangers. Oleh Alim, esensi sekaligus kekuatan cerita sama sekali tak dihilangkan, justru ditambahkannya dengan bumbu-bumbu lokal yang membuat racikannya terasa bekerja lebih maksimal.
Khususnya di Miracle in Cell No 7, racikan Alim terbukti jitu. Bisa jadi juga berkat penyutradaraan solid dari sutradara sekelas Hanung Bramantyo. Jam terbang Hanung yang cukup tinggi membuatnya bisa melihat bahwa film tersebut bercerita soal pengampunan. Alim menyatakannya dengan jelas dalam skenario yang diadaptasinya, Hanung mengeksekusinya dengan lebih jelas lagi melalui keterampilan bercerita visual dan Vino G Bastian yang berada di depan kamera menjadi ujung tombak kesuksesan film tersebut.
Ketika mendengar Miracle in Cell No 7 bakal dibuat ulang di Indonesia, saya menjadi salah satu orang yang sangat khawatir. Saya berkali-kali menonton filmnya di bioskop dan di layanan streaming dan berkali-kali pula selalu berurai airmata. Dan saya kira semangat membuat ulang semestinya adalah semangat untuk menghadirkan filmnya kembali minimal dengan kualitas yang sama, syukur-syukur bisa lebih baik.
Di luar dugaan memang Miracle in Cell No 7 versi Indonesia menurut saya bahkan lebih berhasil dari versi aslinya. Penampilan Vino G Bastian patut diberi kredit khusus untuk keberaniannya memainkan peran sulit tersebut dengan baik.
Dan setelah Miracle in Cell No 7, Alim rupanya kembali menulis skenario adaptasi film Korea sukses lainnya, Hello Ghost. Berbeda dengan Miracle in Cell No 7, saya justru tak pernah menonton versi asli dari Hello Ghost sehingga saya dihindarkan dari keinginan untuk membanding-bandingkan satu sama lain.
Satu hal yang saya pelajari selama mulai menjadi sutradara [dan masih terus belajar entah sampai kapan] adalah visi sutradara dalam membuat sebuah film menjadi perkara paling penting. Sutradara diserahi tanggung jawab untuk menyutradarai film tertentu betul-betul karena ia memahami ceritanya, berempati dengan karakter-karakter yang ada di dalamnya, lebih baik lagi jika pernah mengalami masalah-masalah yang ada di filmnya sehingga membuat ia tahu bagaimana mengeksekusi film ini menjadi khas dan berbeda dari karya-karyanya sebelumnya.
Dan itu yang terlihat jelas di Hello Ghost. Indra Gunawan yang tampak solid saat menyutradarai Dear Nathan seperti kehilangan kegairahannya dalam membesut film yang menyoroti soal bunuh diri, isu yang sangat penting dibicarakan saat ini. Kresna, tokoh utamanya, adalah seseorang yang kehilangan gairah hidup. Ia kehilangan semuanya hingga tak bersemangat lagi melanjutkan hidup. Saya membayangkan masa sebelum Kresna bertemu hantu-hantu menjadi masa-masa gelap yang mungkin selaiknya hadir lewat gambar-gambar bernuansa muram, paduan baju dari Kresna dengan mono color dan segala yang ada di apartemennya seberantakan hidupnya. Dan ketika mulai bertemu hantu-hantu, warna-warni mulai hadir dan puncaknya ketika Linda hadir mewarnai kehidupan Kresna membuat segalanya menjadi lebih teratur dan lebih ceria.
Visi sutradara juga akan sangat membantu Onadio Leonardo yang ketiban beban berat memainkan peran sekompleks itu. Saya tahu Onadio sudah berusaha keras, setidaknya terlihat di beberapa adegan yang terasa jujur dan sampai ke hati. Tapi Onadio perlu dibantu habis-habisan agar keseluruhan film bisa bekerja maksimal.
Saya kira materi Hello Ghost jauh lebih menantang dan lebih menarik dari Miracle in Cell No 7. Ia bicara isu besar soal bunuh diri yang perlu dibicarakan dengan hati-hati. Ia bicara soal keluarga yang perlu dibicarakan dengan hati yang penuh. Dan membuat film ini punya beban lebih berat untuk berhasil dari Miracle in Cell No 7.
Tapi tentu saja Hello Ghost bukan karya yang buruk. Dengan segala kelemahannya, ia masih bisa membuat penonton tertawa dan menangis di saat bersamaan. Sayangnya memang saya hanya hampir tertawa dan menangis terkecuali di adegan penutup yang sebatas menitikkan setetes dua tetes airmata. Saya membandingkan rasanya ketika menonton Miracle in Cell No 7 yang membuat saya terus menerus menangis tak karuan mengingat dua anak perempuan saya yang berada jauh di Makassar.
Karenanya bagi rumah produksi yang berniat membuat film ulang buat, mungkin perlu memikirkan ulang tujuannya membuat jenis film tersebut. Apakah sekedar ingin mencari untung atau betul-betul ingin membuat film yang sampai ke hati penonton. Dua hal yang susah-susah gampang bisa dicapai di saat bersamaan.
HELLO GHOST
Produser: Frederica
Penulis Skenario: Alim Sudio
Sutradara: Indra Gunawan
Pemain: Onadio Leonardo, Enzy Storia, Indro Warkop






LEAVE A REPLY