Tahun 2023. Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba di sebuah wawancara dengan Los Angeles Times, penulis novel LA Confidential, James Ellroy, menyerang film yang mengadaptasi novelnya tersebut. Yang lebih menarik lagi secara khusus ia menyerang penampilan akting Russell Crowe, salah satu pemeran di film tersebut, yang disebutnya “impoten”.
Tapi benarkah tuduhan tersebut? Seingat saya saat pertama kali menontonnya lebih dari 20 tahun lalu, justru penampilan Russell yang bersinar lah yang membuka pintu bagi aktor Australia ini ke Hollywood. Dan beberapa tahun setelahnya Russell beroleh sorotan meriah berkat aktingnya yang karismatik di Gladiator.
Kini kita semua tahu Russell adalah aktor peraih piala Oscar. Ia dinominasikan sebanyak 3 kali dan membawa pulang piala tersebut pada tahun 2001. Perannya sebagai mantan jenderal Romawi, Maximum, di Gladiator tak saja memenangkan hati puluhan juta penonton di seluruh dunia namun juga memenangkan hati juri AMPAS [yang bertugas memilih nominee hingga pemenang Academy Awards]. Kini nama Russell sinonim dengan akting kaliber bahkan di film paling komersial sekalipun. Tentu saja kita masih mengingat bagaimana intensitas aktingnya yang luar biasa sebagai pastur Gabriel di film horor berjudul The Pope’s Exorcist [2023]. Film yang "cuma" berbiaya 18 juta dollar mendatangkan keuntungan hingga hampir 5 kali lipat dari biaya produksinya bisa jadi juga karena faktor Russell Crowe.
Dan Nuremberg yang memberinya peluang berhadapan dengan sesama peraih piala Oscar, Rami Malek, sekali lagi membuktikan bagaimana Russell adalah salah satu aktor terbaik di generasinya. Sebagai tangan kanan Hitler, Hermann Goring, Russell menghipnotis sejak menit pertama kita melihatnya. Dengan tubuh tambun dan dengan wajah yang dihiasi banyak kerutan, kita melihat Russell bertransformasi menjadi Hermann. Dan di tangannya kita sulit sekali mendefinisikan bagaimana sesungguhnya Hermann yang pernah menyetujui pembantaian puluhan ribu orang Yahudi di Jerman.
Nuremberg memilih berfokus pada pertarungan ideologi dan psikologis antara Herman dan psikiater muda, Douglas Kelley, yang ditunjuk untuk berkomunikasi dengannya. Kita melihat bagaimana kedua manusia beda generasi, beda pemahaman dalam banyak hal, mencoba saling mengerti satu sama lain. Douglas, juga dunia, tentu saja ingin tahu manusia seperti apa Hermann Goring itu. Maka dalam rentang waktu yang sempit sebelum Hermann dan sejumlah petinggi Nazi lainnya diadili di mahkamah internasional terkait kejahatan perang, Douglas mesti bersiasat tak sekedar mengenali Hermann namun juga meraih kepercayaannya.
Maka James Vanderbilt selaku sutradara memilih pendekatan seperti yang dilakukan Jonathan Demme di Silence of the Lambs [1991] tatkala detektif muda, Clarice Starling, ditugas melakukan eksaminasi terhadap penjahat berbahaya, Hannibal Lecter. Perlahan terbangun komunikasi di antara keduanya, perlahan terbangun rasa saling percaya di antara keduanya dan perlahan pula terbangun rasa saling mengagumi.
Sebagaimana Douglas pada akhirnya kita pun susah mengidentifikasi Hermann. Ia manusia yang kompleks, rumit dan tentu saja tidak hitam putih. Sebagai tangan kanan Hitler, ia seorang jenderal yang akan melakukan apapun demi prinsip yang diyakininya termasuk melenyapkan nyawa puluhan ribu orang sekalipun. Tapi sebagai manusia biasa, ia adalah seorang suami dan ayah yang baik. Selain tentu saja berkat skenario yang memberi ruang untuk melihat lapisan-lapisan emosi Hermann, Russell memperlihatkan kapasitas aktingnya dan membuat kita yakin bahwa Hermann bisa saja tak bersalah. Bisa saja ia tak tahu banyak hal. Bisa saja ia sekedar menjalankan tugas.
Hanya di tangan aktor kaliber kita bisa melihat bagaimana karakter manusia serumit Hermann Goring masih bisa menarik simpati kita sebagai penonton. Untungnya memang Russell dapat lawan main setangguh Rami yang juga bisa memperlihatkan kerapuhan dan kegundahannya. Sebagai Douglas kita bisa memahami bagaimana frustrasinya ia ketika tahu bahwa ia harus mengkhianati kepercayaan yang terlanjur diberikan Hermann padanya. Sebagai Douglas kita bisa memahami bagaimana kecewanya ia ketika tahu pemerintah berlaku tak adil pada istri dan anak Hermann yang tak bersalah. Perang hampir selalu membutakan mata banyak orang namun seharusnya ia tak membutakan rasa kemanusiaan kita.
Dan di dunia nyata bisa jadi kita pernah bertemu dengan sosok seperti Hermann. Tak hanya karismatik dan cerdas namun ia juga bisa sangat manipulatif. Ia bisa dengan mudah memainkan peran yang dibutuhkan, dari menjadi pemimpin yang keji hingga menjadi suami dan ayah yang baik di saat bersamaan. Saya pun mengingat bagaimana penulis asal Jepang, Keigo Higashino, mengomentari soal kompleksitas manusia itu di dalam bukunya, Keajaiban Toko Kelontong Namiya. “Manusia tercipta demikian kompleks, tanpa disadari tidak hanya mulut yang keras berteriak, tetapi juga isi kepala yang bisa jadi lebih berisik”.
NUREMBERG
Produser: Bradley J Fischer, George Freeman, Cherilyn Hawrysh, Istvan Major, Richard Saperstein, William Sherak, Frank Smith, Benjamin Tappan, James Vanderbilt
Sutradara: James Vanderbilt
Penulis Skenario: James Vanderbilt
Pemain: Russell Crowe, Rami Malek, Michael Shannon






LEAVE A REPLY