Tahun 1988. Gombloh meninggal dunia dan Tetris lahir di Rusia.
Rusia pernah menjadi simbol Komunisme terakhir. Dalam sistem seketat komunisme sekalipun, kreatifitas rupanya masih bisa lahir. Dalam hidup serba terkungkung dan teratur, seorang programmer komputer bernama Alexey Pajitnov menciptakan Tetris. Sebuah permainan yang kelak mengubah dunia selamanya.
Mungkin Tetris diciptakan sebagai semacam eskapisme bagi Alexey. Dengan hidupnya yang rutin, ia perlu sesuatu untuk membuat api dalam dirinya tetap menyala. Dan ia menciptakan Tetris semula hanya untuk menyenangkan dirinya sendiri. Alexey hidup dengan seorang istri dan dua anak laki-laki yang lucu. Tapi Alexey hidup dengan trauma sepanjang usianya. Komunisme pernah merusak keluarganya sedemikian parah. Reputasi ayahnya tercoreng dan membuat keluarganya porak poranda. Dan ia menyalahkan Komunisme.
Hingga hari ini, salah satu hantu paling menakutkan di negeri ini bisa jadi Komunisme. Hantu yang sesekali perlu dibangkitkan untuk kepentingan tertentu. Setelah peristiwa G30S/PKI di tahun 1965 yang disinyalir membinasakan ratusan ribu orang di negeri ini, Komunisme menjelma sejenis hantu. Ia tak pernah benar-benar tampak namun terasa selalu membayangi.
Maka kelahiran Tetris di Rusia adalah anomali. Di negara yang begitu kaku dan dingin lahir sebuah permainan yang menceriakan dari anak-anak hingga orangtua. Sebuah permainan yang sanggup menjadi candu dan membuat seseorang betah memainkannya selama berjam-jam.
Dan “Tetris” yang tayang di Apple TV juga sesungguhnya sebuah anomali. Ini bukan film tentang seorang penemu seperti “Jobs” rilisan tahun 2013 dari sutradara Joshua Michael Stern. Juga bukan film tentang proses penciptaan sebuah layanan media sosial seperti “The Social Network” rilisan tahun 2010 dari sutradara David Fincher. “Tetris” adalah sebuah film tentang bagaimana seorang pembuat gim berjuang mendapatkan hak edar dari Tetris dan memperjuangkan si pembuat gim-nya agar mendapatkan royalti.
Dengan premis seperti itu, maka sejak awal “Tetris” sudah berusaha untuk tampil segar dan menarik. Ia tak mencoba mengulang formula sukses. Sutradara Jon S Baird bahkan berani mengulik soal Komunisme secara tebal di dalam setiap aspek filmnya. Dan poin itulah yang justru menjadikan “Tetris” lebih dari sekedar sebuah kisah tentang gim legendaris sukses yang masih terus dimainkan hingga hari ini.
Tetris tak akan dikenal luas di seluruh dunia tanpa perjuangan sesama pembuat gim berdarah Indonesia – Belanda bernama Henk Rogers. Henk lah yang pertama kali melihat permainan itu di sebuah pameran di Las Vegas. Instingnya segera berbicara bahwa permainan tersebut akan menuai sukses besar. Dan segera saja Henk mengambil keputusan besar: mempertaruhkan segalanya untuk sebuah permainan bernama Tetris.
Dan kita tahu dengan pertaruhan sebesar itu, perjuangan Henk akan terus menerus diuji. Skenario dengan cemerlang membagi film dalam babakan yang dinamakan Level – sebagaimana yang biasa dimainkan dalam gim. Dan dengan ilustrasi musik yang khas dan tempo film yang berjalan cepat, kita melihat bagaimana kalang kabutnya Henk memperoleh hak distribusi Tetris dan terutama bagaimana ia juga melihat betapa Alexey mengambil resiko besar atas permainan yang diciptakannya itu. Dan di tengah-tengah itu, ia masih harus bergelut dengan urusan keluarga dan terus meyakinkan sang istri bahwa ia mengambil tindakan yang benar.
Kita lantas melihat persahabatan yang tumbuh diantara Henk dan Alexey. Mereka tidak lagi sekedar dekat karena urusan bisnis. Henk yang tinggal di banyak tempat, dari Indonesia, Amerika hingga Jepang, berurusan dengan Alexey yang seumur hidup tinggal di apartemennya. Dan Tetris bukan sekedar permainan lagi bagi Alexey. Tetris menjelma menjadi pintu eskapisme buatnya untuk berani keluar dari lingkungan yang mengungkung dan selalu memelototinya secara ketat. Tetris menjadi pintu eskapisme bagi Alexey untuk keluar dari Rusia yang diyakini sebentar lagi ambrol dengan sistem Komunisme-nya.
“Tetris” membuat kita percaya bahwa ketika dua orang bersama-sama mengambil resiko besar pada akhirnya resiko itu akan berbuah manis. Henk dan Alexey yang berasal dari kutub dunia yang berbeda bisa saling memahami dan menghormati. Dua sosok visioner dipersatukan oleh sebuah kecintaan akan permainan, sebuah penghormatan kepada kreatifitas. Kelak Komunisme terbukti runtuh dari Rusia, Cina hingga Eropa Timur meski hingga hari ini, di waktu-waktu tertentu, ia masih bisa muncul sebagai hantu di Indonesia.
Sayup-sayup saya seperti mendengar Mayakovski, seorang penyair Rusia, meneriakkan sederet syair tentang mengapa ia memilih Komunisme.
Kaum proletar
sampai ke Komunisme
dari bawah
lewat jalan rendah tambang-tambang,
lewat sabit
dan sekop
tapi aku
dari langit sajak
terjun ke dalam Komunisme
sebab
tanpa itu
aku tak merasakan cinta
TETRIS
Produser: Gillian Berrie, Len Blavatnik, Gregor Cameron, Claudia Schiffer, Matthew Vaughn
Sutradara: John S Baird
Penulis Skenario: Noah Pink
Pemain: Taron Egerton, Nikita Efremov, Akemi Rogers






LEAVE A REPLY