Home FILM Kasih Ibu Sepanjang Jalan

Kasih Ibu Sepanjang Jalan

Film Missing [2023] - Tayang di Netflix

7
0
SHARE
Kasih Ibu Sepanjang Jalan

Tahun 2018. Saya sedang mempersiapkan jadwal rilis 3 film sekaligus dan dikagetkan dengan rilisnya “Searching” ke seluruh dunia.

Sebelumnya kita tak pernah membayangkan bahwa seluruh adegan film bisa dituturkan melalui layar ponsel/laptop. Tapi Aneesh Chaganty melakukannya dan berhasil dengan gemilang. Di film “Searching”, Aneesh bercerita soal ayah yang mencari putrinya yang menghilang secara misterius. Tapi yang membuatnya istimewa karena Aneesh menuturkan keseluruhannya melalui layar laptop/ponsel.

Dan kita melihat sebuah revolusi terjadi. Sebuah bentuk bertutur baru terungkap. Sebuah cara untuk menyikapi jaman dimana hampir seluruh aspek kehidupan kita bisa terlihat dari layar ponsel/laptop. Semuanya bisa dipantau melalui teknologi. Dan Aneesh dengan inventif memperlihatkan kepada kita bahwa film bisa diproduksi dengan biaya murah dengan ide “semahal” itu.

“Searching” berbiaya kurang dari 1 juta dollar, jauh lebih murah dari film ulang buat, “Balada Si Roy”. Tapi film ini bisa mendatangkan keuntungan hingga lebih dari 75 kali lipat. Dan kita akan selalu mengingat “Searching” sebagai film yang inventif, berbiaya murah dan ternyata bisa sangat menguntungkan.

Dan tentu saja saya menunggu “Missing” dengan deg-degan. Dengan pencapaian di “Searching”, saya berpikir apalagi kebaruan yang akan ditawarkan dengan bentuk penceritaan seperti ini? Dan ternyata, baik sebagai pembuat film maupun sebagai penonton film, saya terpuaskan. Duet Nicholas D Johnson dan Will Merrick yang duduk di kursi sutradara tahu bagaimana tak mengecewakan penonton “Searching”.

Jika “Searching” mengungkap bagaimana seorang ayah mencari putrinya, maka di “Missing”, kita melihat bagaimana gigihnya seorang anak mencari ibunya. June yang sejak kecil ditinggal ayahnya dibesarkan seorang ibu tunggal yang perhatian dan super cerewet. Seperti sebagian besar remaja, kecerewetan ibu masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Tapi kecerewetan itu menjadi sesuatu yang dirindukan ketika suatu hari sang ibu, Grace, menghilang secara misterius ketika berlibur bersama kekasihnya.

Tentu saja June kelabakan. Ia tak siap jika ditinggal sang ibu. Tapi ia tak mau menyerah begitu saja. Maka ia gigih menjadi “detektif online” mencari keberadaan sang ibu. Ia melacaknya melalui ponsel dan komputer hingga ke Kolombia, tempat sang ibu dan kekasihnya berlibur. Ia bahkan meminta bantuan orang asing yang dikenalnya via aplikasi. Semua dilakukannya dari rumah, dengan intens dan tak kenal lelah. Dan kita pun menatap layar bioskop dengan gugup ketika pencarian demi pencarian yang dilakukan June hampir selalu menemui jalan buntu.

Dan kisah sang ibu ternyata tak seterang seperti yang kita lihat di awal film. Ada bagian tertentu dari hidupnya yang sudah dikuburnya dalam-dalam. Dan ia melakukannya untuk membuka lembaran baru untuknya dan untuk putrinya, June. Dialog “seorang ibu akan melakukan apapun untuk anaknya” menjadi kunci bagi kita sebagai penonton untuk menjumpai kisah ini lebih terang benderang kelak.

“Missing” berusaha menemukan kesegaran dalam segi penceritaan. Skenario memberi ruang bagi kelokan demi kelokan yang membuat penonton gugup, terkaget, bersorak dan akhirnya lega. Dan kelokan-kelokan cerita itu yang membuat kita mengapresiasi keuletan “Missing” untuk terus berupaya menyenangkan penonton seperti saya yang bosan dengan cerita dari film/serial/miniseri lokal yang begitu-begitu saja.

Dunia film/serial Indonesia saat ini tengah dijangkiti wabah “miskin ide”. Sebagian besar rumah produksi/layanan streaming besar membuat film adaptasi/remake yang memberi pernyataan seolah kita kekurangan ide cerita. Padahal ide cerita orisinal yang menarik berserakan dan hanya menunggu jodohnya untuk bertemu. Tapi rumah produksi/layanan streaming tersebut tak mau mengambil resiko. Dan sebagai hasil langsungnya, kita melihat 3 film remake gagal di pasaran dalam waktu hampir bersamaan: “Balada Si Roy”, “Bayi Ajaib” dan “Gita Cinta Dari SMA”.

“Searching” yang lantas diikuti “Missing” memperlihatkan kegigihan pembuat film untuk terus berusaha menyajikan hal-hal baru bagi penonton. Karena pada dasarnya pembuat film juga adalah penonton film yang selalu ingin menemukan kejutan demi kejutan ketika menyaksikan sebuah film. Bukan sekedar disodorkan film dengan formula usang dan basi dan lama kelamaan membuat kita muak.

Sepuluh tahun mendatang bisa jadi anak-anak muda di masa itu terkejut ketika menyaksikan dasar cerita yang sebenarnya standar seperti “Searching” dan “Missing” masih bisa diolah dengan menarik dan menjadi semakin menarik ketika dituturkan dengan cara baru. Dan di masa itu mungkin kita akan kembali terkejut mengingat betapa semakin jarangnya pembuat film mencoba cara-cara inventif seperti yang dilakukan Anesh Chaganty. Dan kita akan selalu mengapresiasinya karena keberaniannya itu.

 

MISSING

Produser: Aneesh Chaganty, Sev Ohanian, Natalie Qasabian

Sutradara: Nicholas D Johnson, Will Merrick

Penulis Skenario: Nicholas D Johnson, Will Merrick

Pemain: Storm Reid, Nia Long, Daniel Henney

 

Video Terkait: