Home FILM Urip Iku Urup

Urip Iku Urup

Film Kembang Api [2023]

8
0
SHARE
Urip Iku Urup

Tahun 1991. Di suatu subuh, saya dan adik saya dibangunkan oleh Mami. Beliau menasehati saya agar selalu menjaga adik saya. Beberapa jam setelahnya, di sekolah saya mendapat kabar buruk. Mami saya meninggal seketika karena kecelakaan mobil.

Dunia saya runtuh saat itu juga. Gairah saya untuk menikmati hidup hilang seketika. Sekitar 2 mingguan Papi saya membiarkan saya berduka. Dan saya bersyukur karena diberi waktu untuk meratap dan menangis. Sehingga kelak saya tak mengalami kejadian yang mirip dengan yang dialami Sukma.

Tahun 2005. Saya memutuskan merantau ke Jakarta, meninggalkan mimpi menjadi dokter begitu saja. Selama bertahun-tahun saya merasa tersiksa menjalani pilihan orangtua dan akhirnya merasa terbebaskan. Sehingga kelak saya tak mengalami kejadian yang mirip dengan yang dialami Raga.

Tahun 2016. Saya memberanikan diri memproduksi film panjang pertama di bawah bendera rumah produksi saya, Indonesia Sinema Persada. Meski skema produksi telah diperhitungkan matang, penambahan 4 hari syuting membuat saya tiba-tiba harus “berutang” 400 juta. Untungnya kelak saya tak mengalami kejadian yang mirip dengan yang dialami Fahmi.

Tak ada film Indonesia yang terasa sangat relevan dengan saya selain “Kembang Api” garapan sutradara Herwin Novianto. Saya mengalami apa yang dialami ketiga tokoh utamanya. Namun menariknya pendekatan sutradara dan skenario adaptasi dari Alim Sudio tak membuat film ini over-sentimental dan over-dramatik dan membuatnya justru lebih terasa mengena di hati.

Ketika mengalami penderitaan demi penderitaan tak berkesudahan, apakah kita akan menyerah pada hidup? Ketika melihat seseorang yang mengalami derita berkepanjangan dan ingin menyerah pada hidup, apakah kita akan menghakimi keputusannya? Ketika melihat seseorang menderita karena sebuah masalah yang tak pernah ditampakkannya, apakah kita akan mengulurkan tangan untuk membantunya?

Menyerah pada hidup jelas adalah pilihan terakhir. Ketika kita merasa sedang berhadapan dengan tembok tinggi dan tak bisa memanjatnya. Ketika kita terperosok ke dalam lubang yang terlalu dalam dan tak bisa lagi melihat cahaya. Bagaimana kita akan membiarkan cahaya hidup kita perlahan-lahan mati?

“Urip iku urup”. Hidup harus menyala. Kalimat pendek dan filosofis berbahsa Jawa kuno dan ditulis pada bola kembang api raksasa oleh Fahmi ketika dirinya, Raga, Sukma dan Anggun justru ingin mematikan cahaya itu. Dan berpisah dengan hidup untuk selama-lamanya. Dan filosofi ini menjadi pengingat sekaligus kutukan bagi keempatnya. Dari awalnya bersemangat menyala untuk mati namun terus ditaklukkan oleh sebuah keanehan bahwa rencana mereka terus menerus gagal. Hidup seperti tak membiarkan mereka untuk mati. Hidup terasa memberi mereka kesempatan kedua untuk kembali menyala.

“Urip iku urup.” Hidup itu selalu bertukar. Dalam menjalani kehidupan, posisi kita senantiasa berubah-ubah sewaktu-waktu. Hari ini kita dielu-elukan, besok kita dicaci maki. Hari ini kita beruntung, besok kita mengalami kesialan. Dan karenanya kita diminta untuk berusaha memahami posisi sulit yang dialami seseorang. Bayangkan jika kamu berada di posisi Fahmi, Raga, Sukma dan Anggun. Bagaimana rasanya berhutang 1,3 milyar? Bagaimana rasanya tak bergairah lagi menjalani profesi sebagai dokter? Bagaimana rasanya merasa hidup tak berarti ketika ditinggal putra tercinta? Dan bagaimana rasanya jika hari demi hari dilalui dengan caci maki dan ejekan dari teman sekolah?

“Urip iku urup”. Bahwa hidup harus memberi manfaat pada sekitar. Persis dengan ajaran Islam bahwa alasan manusia berada di bumi tak lain untuk memberi manfaat pada sesamanya. Bahwa Fahmi, Raga, Sukma dan Anggun masih bisa meneruskan hidupnya dan dengan pengalaman pahit yang telah mereka jalani bisa jadi mereka bisa menolong orang lain yang mengalami hal serupa.

Sebagian dari kita beruntung karena tak pernah mengalami apa yang dialami Fahmi, Raga, Sukma dan Anggun. Tapi bukan berarti kita tak bisa berempati. Bukan berarti kita tak bisa mengulurkan tangan untuk menolong. Sehingga seseorang tak merasa menabrak tembok tinggi dan terperosok ke lubang dalam. Dan dengan demikian kita menjalani laku “urip iku urup”.

Dan sebagian diantara dari kita juga beruntung karena meski pernah ingin bunuh diri namun masih melihat seberkas cahaya. Termasuk saya. Dan setelahnya cara pandang kita tentang hidup tak akan sama lagi. Kita merasa beruntung karena masih diberi kekuatan untuk berjuang. Kita merasa beruntung karena masih dituntun oleh cahaya menuju jalan keluar. Meski tertatih-tatih dan terseok-seok namun kita tak berhenti berusaha.

“Kembang Api” adalah surat penuh cinta untuk para penyintas bunuh diri. Bahwa berani untuk kembali menatap hidup adalah sebuah keberanian. Bahwa berani untuk bangkit kembali adalah sebuah kekuatan. Dan bahwa nyala api dalam diri kita masih tetap berkobar untuk juga menyalakan api-api kehidupan di sekitar kita.

 

KEMBANG API

Produser: Frederica

Sutradara: Herwin Novianto

Penulis Skenario: Alim Sudio

Pemain: Donny Damara, Ringgo Agus Rahman, Marsha Timothy

Video Terkait: