Tahun 2017. Saya tengah menjalani proses pasca produksi film “SILARIANG: Cinta Yang [Tak] Direstui” dan dunia berkenalan pertama kalinya dengan Anna Delvey.
Setiap orang tahu bahwa saat ini uang tak sekedar sebagai simbol transaksi. Uang juga menjadi alat tukar ampuh untuk membeli kepercayaan seseorang. Di sebuah hotel mewah di Soho, New York, Anna “membeli” kepercayaan itu dari salah satu pegawai hotel, Neffatari Davis, berupa uang tip sebesar 100 dollar. Dan semuanya menjadi gegap gempita dari sini.
Anna lantas masuk dengan mudahnya ke kehidupan jetset New York/Manhattan, meyakinkan banyak orang bahwa dirinya adalah putri dari seorang bangsawan Eropa dan pada akhirnya menipu banyak orang dengan ratusan ribu dollar. Kisah Anna lantas diadaptasi menjadi serial yang menarik perhatian di Netflix berjudul “Inventing Anna”.
Dan masih di lingkaran Manhattan, bertahun-tahun setelahnya, kita bertemu dengan Madeline, perempuan setengah baya yang cantik dan elegan. Ia tengah dimabuk cinta dengan milyarder, Richard Hobbes. Sekilas cinta itu terasa tulus, sekilas cinta itu terasa menghanyutkan. Tapi kita lantas tahu bahwa Madeline tak lebih baik dari Anna.
Di tangan sutradara Benjamin Caron, “Sharper” bekerja dengan beragam rasa dan dengan bab-bab unik yang mencoba membongkar sisik melik karakter-karakter utamanya. Pertama kali filmnya akan terasa sebagai romansa antara dua anak muda yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Tom, putra satu-satunya sang milyarder sekaligus pemilik toko buku, terkesima melihat seorang gadis cantik bernama Sandra. Dan Tom semakin terkesan ketika tahu Sandra sedang mengambil kuliah S2 di New York University dan menyukai novel Jane Eyre. Cinta membutakan mata Tom hingga ia tak sadar bahwa ia ditipu oleh si gadis yang membawa kabur uangnya sebesar 35 ribu dollar.
Di tiap bab, kita akan melihat satu karakter diberi porsi lebih besar dan berkelindan dengan karakter-karakter lainnya. Dan dengan skema penceritaan ini ternyata efektif untuk membuat film bertema penipuan ini menjadi lebih segar dari film-film pendahulunya. Setelah Tom dan Sandra, kita lantas bertemu Max, laki-laki ganteng dan necis yang juga tak lebih baik dari Anna.
Max mendedikasikan hidupnya untuk menipu orang lain. Ia memiliki metode yang memerlukan latihan dengan sabar selama beberapa lama. Ia memiliki jaringan yang membantunya memudahkannya beroperasi. Dan ia selalu membutuhkan para pendatang baru yang masih hijau dan mudah diperdaya seperti Sandra.
Dan tahulah kita betapa penampilan seringkali menipu. Anna dengan balutan busana dari Marc Jacobs, menggunakan sepatu bertumit dari Chanel dan mengenakan kacamata dari Celine membuat mereka yang melihatnya berasumsi bahwa ia berasal dari kalangan atas. Padahal ia menggunakan merek dan uang sebagai senjata untuk menguras uang lebih banyak lagi. Seperti Anna, Max juga beroperasi dengan modus operandi yang mirip. Ia bisa menjadi kekasih, kadang bisa pula menjadi anak dari seorang janda yang tengah memacari milyarder sakit-sakitan.
Tapi dengan banyaknya kisah-kisah nyata yang jauh lebih rumit dan menarik dari kisah dalam film/serial/miniseri membuat kita waspada saat menyaksikan “Sharper”. Saya membayangkan diri saya sebagai Richard yang terlena dengan cinta hingga tak sadar berada dalam kepungan para serigala lapar. Dan mereka siap menerkam kapan saja. Yang paling mengerikan dari hal ini adalah mereka melakukannya tanpa melanggar hukum apapun.
Harta. Tahta. Wanita. Dan semakin mendekati penghujung film kita disadarkan bahwa semuanya telah dipersiapkan sejak lama. Dengan sangat hati-hati. Dengan kesabaran tingkat tinggi. Tapi para pelakunya mungkin tak sadar bahwa sepandai-pandai tupai melompat akan masuk ke lubang juga.
Dan di tengah belantara New York, Alicia Keys mengumandangkan lagunya yang menyiratkan New York dan segala pesonanya ibarat gula yang akan terus didatangi semut yang merubung. Dengan segala pesonanya, ia akan menghipnotis seseorang untuk melakukan cara apapun untuk mendapatkan keinginannya.
In New York,
Concrete jungle where dreams are made of
There's nothin' you can't do
Now you're in New York
These streets will make you feel brand new
Big lights will inspire you
Let's hear it for New York, New York, New York
SHARPER
Produser: Erik Feig, Bart Freundlich, Brian Gatewood, Julianne Moore, Jessica Switch, Alessandro Tanaka
Sutradara: Benjamin Caron
Penulis Skenario: Brian Gatewood, Alessandro Tanaka
Pemain: Julianne Moore, Sebastian Stan, Justice Smith






LEAVE A REPLY