Home FILM Park Chan-wook dan Kritiknya Terhadap Kapitalisme Yang Dingin

Park Chan-wook dan Kritiknya Terhadap Kapitalisme Yang Dingin

Film No Other Choice [2025]

13
0
SHARE
Park Chan-wook dan Kritiknya Terhadap Kapitalisme Yang Dingin

27 Januari 2025. Pukul 03.30 WIB. Di sebuah dinihari yang sepi, seorang perempuan di Sidoarjo melompat dari lantai 2 rumah pamannya. Perempuan berinisial YD itu ingin mengakhiri hidupnya karena depresi usai di-PHK. Dan kita tahu YD tak sendiri di tengah ekonomi semrawut negeri ini dalam 2 tahun terakhir.

Kementerian Ketenagakerjaan mencatat setidaknya ada 88.519 orang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia sepanjang tahun 2025. Angka ini meningkat lebih dari 10 ribu orang dibandingkan 2024, didominasi oleh sektor manufaktur akibat penurunan pesanan. Dan kita paham betapa dekat dan eratnya korelasi antara faktor ekonomi dan kesehatan mental yang sayangnya tak pernah dianggap serius oleh pemerintah.

Untunglah YD masih bisa diselamatkan dan untungnya Man-su, karakter utama dalam film No Other Choice, tak mengambil tindakan putus asa itu setelah ia diberhentikan dari pekerjaan yang sudah dijalaninya puluhan tahun. Tapi kita tahu ada masalah besar yang mengintai kita semua di tengah resesi dan Park Chan-wook menggunakan platform yang dikuasainya untuk melancarkan kritiknya terhadap sistem kapitalisme yang dingin.

Sineas-sineas Korea dalam sepuluh tahun terakhir tak sekedar terus meningkatkan craftmanship mereka dalam hal filmmaking tapi mereka juga terus mengasah sensibilitas mereka melihat isu-isu yang ada di tengah masyarakat dan meresponnya dalam cara paling kreatif yang pernah dibayangkan. No Other Choice merujuk pada frasa ketika seseorang merasa tak punya pilihan lain [padahal sesungguhnya ada jika ingin berusaha lebih keras]. Saat diberhentikan oleh bosnya, ia mendengar frasa itu bahwa bosnya tak ada pilihan lain. Dan frasa yang sama terus didengungkan oleh sutradara melalui Man-su yang menganggap apa yang akan dilakukannya juga atas dasar “tak ada pilihan” lain itu.

Berbeda dengan YD yang kalut dan mencoba bunuh diri, Man-su justru ingin menyingkirkan para kompetitornya ketika hendak melamar ke sebuah pekerjaan di pabrik kertas yang baru dibuka. Man-su melihat dirinya dengan usianya yang sebentar lagi memasuki usia senja tak punya banyak pilihan terlebih harus berganti karir. Maka lowongan pekerjaan di perusahaan kertas baru itu adalah impiannya dan ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya.

Di sinilah letak keusilan dan keliaran ide sang sutradara dieksplorasi maksimal. Kita melihat komedi dan thriller bisa dipadukan dengan cerdik dan terasa stylish. Kita melihat Man-su yang digambarkan sebagai ayah yang penyayang dan suami yang setia sesungguhnya tak punya insting sebagai pembunuh namun ia merasa harus melakukannya. Kita melihat bagaimana gerak-gerik Man-su yang canggung berpadu dengan gerak kamera yang seringkali mengejutkan. Dan plot cerita yang dipilin memang direkayasa agar bisa terus menerus mengecoh penonton, membuat penonton betah menyaksikan di kursi bioskop dan ingin tahu apa yang terjadi setelah Man-su tuntas melakukan apa yang menurutnya harus dilakukannya karena tak ada pilihan lain.

Park Chan-wook mengkritik tak hanya sistem kapitalisme yang dingin, ia juga ingin memperlihatkan ketatnya kompetisi beroleh pekerjaan sekaligus memperlihatkan dampak dari revolusi industri/otomatisasi yang membuat banyak pekerjaan yang sebelumnya diisi oleh manusia kini bisa dilakukan oleh robot yang super efisien. Tentu saja sutradara juga masih menyelipkan kesadaran kelas sosial yang membuat kita sekilas merasa terganggu. Ada rasa yang mirip seperti ketika kita menyaksikan Parasite beberapa tahun lalu.

Skenario yang tak sekedar brilyan namun juga ketat memungkinkan kita melihat lapisan-lapisan masalah dikupas perlahan oleh sutradara tanpa tergesa. Semua diberi waktu untuk diurai, semua diberi ruang untuk dicerna. Skenario dan pengarahan asyik dari Park Chan-wook juga membuat kita sebagai penonton mencoba memahami tindakan yang diambil Man-su semengerikan apapun itu. Kita tak membenarkannya namun mencoba melihat diri kita jika berada di situasi yang sama. Bisakah kita melihat pilihan lain jika terasa tak ada lagi pilihan yang tersedia? Bersediakah kita bekerja lebih keras untuk mencari pilihan lain itu dibanding harus menyingkirkan orang lain yang juga punya kebutuhan yang sama?

Meski berlatar Korea Selatan, film No Other Choice beresonansi dengan apa yang terjadi di negeri kita akhir-akhir ini. Ketika PHK terus terjadi dan pemerintah sepertinya lepas tangan untuk mencari solusi. Ketika PHK terus terjadi dan banyak keluarga kalangan bawah menjerit, respon cepat apa yang dilakukan oleh pemerintah? Dan jika PHK terus terjadi di negeri ini, bagaimana pemerintah melindungi masyarakat agar tak seorang pun melakukan tindakan yang dilakukan oleh Man-su atau mencoba bunuh diri seperti yang dilakukan YD?

 

NO OTHER CHOICE

Produser: Jisun Back, Park Chan-wook, Alexandre Gavras, Michele Ray-Gavras

Sutradara: Park Chan-wook

Penulis Skenario: Park Chan-wook, Lee Kyoung-mi, Don McKellar, Jahye Lee

Pemain: Lee Byung-hun, Son Ye-jin, Woo Seung Kim

Video Terkait: