Home SERIAL Masih Adakah Tempat Untuk Cerita Tentang Poligami?

Masih Adakah Tempat Untuk Cerita Tentang Poligami?

Serial Sanyo Sakato [2020] - Tayang di Netflix

12
0
SHARE
Masih Adakah Tempat Untuk Cerita Tentang Poligami?

Tahun 2006. Nia Dinata yang baru saja mengagetkan dengan “Arisan” 3 tahun sebelumnya kembali datang dengan “Berbagi Suami”. Dan kita kembali kaget dengan keberaniannya mengangkat isu poligami.

Sampai hari ini, di tahun 2023, poligami masih menjadi isu yang sensitif. Pasca “Berbagi Suami”, beberapa film mengangkatnya dari sisi religi sehingga terasa kehilangan sisi humanismenya. Berbeda dengan “Berbagi Suami” sebagai pelopor yang berani memperlihatkan apa yang memang kita lihat sehari-hari tentang poligami. Kita diperlihatkan kisah seorang dokter yang awalnya tak ikhlas ketika tahu suaminya menikah lagi, kita masuk ke dalam dunia seorang supir rumah produksi beristri tiga dalam satu rumah yang sama dan kita melihat seorang laki-laki yang sedang puber kedua dan ngebet ingin menikah lagi.

Lalu film dan terutama sinetron mendramatisasi isu poligami hingga terasa overrated. Tak ada upaya melihat poligami dari sudut pandang yang menarik. Hanya selalu mengkonfrontasi soal istri pertama dan istri kedua tapi tidak melihat keduanya sebagai manusia biasa.

“Saiyo Sakato” melakukan yang jarang dilakukan oleh sinetron-sinetron tersebut. Isu poligami diletakkan sebagai pusat bagi cerita dan mendorong konflik yang seakan tak ada habisnya. Dalam serial 10 episode yang kembali ditayangkan di Netflix tersebut, istri kedua tak melulu perlu disalahkan dan istri pertama pun tak melulu selalu benar. Sekali lagi, keduanya manusia biasa.

Gina S Noer selaku kreator membawa kita bertemu dengan dua tokoh penggerak cerita: Mar [Cut Mini] dan Nita [Nirina Zubir]. Keduanya bertemu dalam sebuah situasi ajaib. Zul [Lukman Sardi], suami keduanya, meninggal tiba-tiba. Kita tak paham alasan meninggalnya dan juga memang tak perlu penjelasan lebih panjang. Selama hidupnya Zul mendedikasikan diri mengembangkan kecintaannya pada dunia kuliner melalui rumah makan Padang yang diberinya nama Saiyo Sakato. Dalam bahasa Indonesia, Saiyo Sakato artinya seiya sekata. Bisa jadi doa bagi Zul untuk keluarganya agar selalu seiya sekata dalam menjalani hidup. Tapi ketika ia meninggal, keluarganya justru terbelah dan tak seiya sekata lagi.

Mar tak pernah tahu keberadaan Nita sebelumnya yang dinikahi secara sah oleh Zul dan telah melahirkan seorang putra yang lucu bernama Budi. Bagi Mar, hidupnya seketika hancur berantakan. Bukan saja ia kehilangan seorang yang dikasihinya seumur hidup, ia juga menemukan fakta bahwa suaminya telah membohonginya selama 8 tahun.

Seperti yang selalu kita bayangkan tentang istri pertama, maka begitulah sosok Mar. Merasa superior atas Nita dan dengan gampang menginjak-injak harga diri Nita. Dan membuat Nita marah besar dan mengumumkan perang. Nita mendirikan rumah makan bernama sama tepat di seberang rumah makan yang sudah dikelola Zul dan Mar selama puluhan tahun.

Nita justru bukan tipe istri kedua sebagaimana yang banyak digambarkan di sinetron. Ia tak hidup dari belas kasihan suaminya. Ia menempa dirinya menjadi perempuan mandiri. Maka ketika suaminya meninggal, ia masih bisa melanjutkan hidup. Tak memperebutkan harta warisan. Hanya satu yang ia perjuangkan: harga dirinya melalui nama Saiyo Sakato itu.

Dan kita seperti melihat kondisi Indonesia versi mini dalam serial berdurasi sekitar 30 menit tiap episode itu. Konflik-konflik yang tersaji didalamnya adalah konflik yang dengan mudah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, karakter-karakter didalamnya juga bisa saja adalah kita dalam kehidupan nyata. Mungkin saja ibu kita adalah Mar atau Nita dan mungkin saja kita adalah Zaenal dan Nisa yang selaku anak Zul diharapkan meneruskan usaha rumah makan keluarga. Dan seperti belum lengkap, drama demi drama itu tak melulu berkutat di keluarga inti namun juga menyisir adik, paman, bibi hingga sosok nenek yang sekilas otoriter. Saya tak terlalu paham budaya Minang namun setahu saya budaya Minang memang menganut sistem matrilineal sehingga sosok ibu sangat berpengaruh dalam kehidupan keluarga. Dan semua tersaji dalam porsi yang pas dalam “Saiyo Sakato”.

Lantas kita sadar bahwa sebenarnya bukan isu poligami yang overratedmelainkan cara kreator untuk mengulik sisi-sisi menarik yang masih banyak belum diceritakan. Seringkali memang kita hanya tergoda dengan isu yang sekilas “seksi” seperti poligami namun kita tak mau bekerja lebih keras menyajikan perspektif yang berbeda dari yang sudah pernah disajikan sebelumnya. Gina sebagai seorang perempuan mencoba bersikap netral melihat sosok dua perempuan dalam “Saiyo Sakato”. Dan ia pun tak berusaha lebih jauh “menghakimi” Zul sebagai laki-laki yang telah membohongi keluarganya.

Dengan semakin banyaknya layanan streaming, kita perlu melihat lebih banyak wajah Indonesia, tak cuma Jakarta atau Jawa saja, tapi juga Padang, seperti di “Saiyo Sakato”. Di lain waktu, penonton juga menginginkan melihat bagaimana suku Batak atau Bugis Makassar dalam sebuah serial. Dan kita punya stok cerita berlimpah ruah untuk mengeksplorasi Indonesia yang beragam. Karena kita juga ingin melihat representasi kita masing-masing dalam sebuah tontonan.

Dan hari ini setelah menghabiskan 2 hari menonton serial “Saiyo Sakato”, saya memutuskan akan berbuka puasa dengan hidangan khas dari Padang seperti Itiak Lado Mudo dan Rendang Paru.

 

SAIYO SAKATO

Produser: Rini Atmodjo, Amelya Oktavia, Sigit Pratama

Sutradara: Aditya Ahmad, Arief Malinmudo, Gina S Noer

Penulis Skenario: Jaka Ady, Diva Apresya, Cassandra P. Cameron, Aggi Dilimanto, Gina S Noer, Hanan Novianti, Rino Sarjono, Arief Ash Siddiq, Yayu Yuliani

Pemain: Cut Mini, Nirina Zubir, Chicco Kurniawan

Video Terkait: