Home FILM Sebuah Perjalanan Menyusuri Masa Lalu

Sebuah Perjalanan Menyusuri Masa Lalu

Film Banyu Biru [2005]

15
0
SHARE
Sebuah Perjalanan Menyusuri Masa Lalu

Tahun 2005. Transparency International Indonesia mengumumkan Jakarta sebagai kota paling korup di Indonesia dan film Banyu Biru dirilis.

Banyu Biru punya banyak kenangan manis dan personal buat saya. Pertama kalinya saya berjumpa dengan Dian Sastrowardoyo secara langsung setelah mengidolakannya pasca sukses Ada Apa dengan Cinta?. Pertemuan itu terjadi karena saya diminta membantu promosi Banyu Biru di Makassar. Dan beberapa bulan kemudian, saya akhirnya hijrah ke Jakarta.

Menonton kembali Banyu Biru di Netflix tepat di Hari Film Nasional membuat saya seperti kembali melalui perjalanan ke masa lalu. Dan entah kenapa, menontonnya kali ini terasa sangat menyegarkan. Di tengah dominasi film Indonesia berkualitas buruk yang tayang di bioskop saat ini, menonton Banyu Biru seperti oase di tengah padang pasir. Menyegarkan dan memuaskan dahaga akan film lokal yang dibuat dengan passion dan keinginan untuk menghasilkan karya berkualitas.

Teddy Soeriaatmadja mengajak kita kembali melintasi masa lalu, mengingat-ingat pengalaman menyenangkan semasa kecil. Ketika hidup masih sederhana, dengan ayah dan ibu saling mencintai, seorang gadis tetangga nan cantik yang suka mengintip dan dengan semua kenyamanan di dalamnya. Tapi semakin dewasa kita pun tersadar bahwa hidup tak akan pernah lagi sesederhana itu. Peristiwa demi peristiwa terjadi, tragedi datang dan menghantui sepanjang hidup. Banyu yang riang dan ceria bertemu tragedi tak terelakkan yang kelak akan membayangi sekujur usianya: adiknya meninggal tenggelam di kolam renang, ibunya terjatuh sakit dan tak pernah normal kembali dan sosok ayah yang dilihatnya hanya sibuk mengurusi pekerjaannya.

Tragedi itu pun melahirkan luka yang kelak menjadi trauma. Banyu menyimpan dendam pada ayahnya. Ia lantas pergi dari rumah, meninggalkan semua kenangan manis itu. Ia ingin pergi dari hidup yang tak lagi sederhana dan nyaman itu. Hubungan Banyu dan ayahnya menjadi begitu rumit setelah bertahun-tahun mereka tak lagi bertegur sapa.

Saya pernah menjadi Banyu. Ketika memutuskan hijrah diam-diam ke Jakarta di akhir 2005, hubungan saya dengan ayah saya sempat memburuk. Saya pernah menyalahkan ayah saya atas keputusannya memaksakan saya berkuliah di Fakultas Kedokteran. Sebuah sikap yang kelak akan saya sesali bertahun-tahun setelahnya. 

Saya pernah di posisi Banyu. Karena pergi dari Makassar diam-diam membuat ayah saya berang. Komunikasi terputus dan ketegangan di antara kami terbangun pelan-pelan. Hingga akhirnya saya dikaruniai anak dan membuat hubungan saya dengan ayah saya kembali mencair, bahkan bertahun-tahun setelahnya justru lebih baik dari sebelum saya meninggalkan Makassar.

Hal paling mudah atas kegagalan yang kita alami dalam hidup adalah menyalahkan orang lain. Padahal tak ada yang bertanggung jawab atas hidup kita selain diri kita sendiri melebihi siapapun. Kita sesungguhnya selalu punya hak untuk menolak. Tapi kadang situasi membuat kita tak berdaya. Dan daripada menyalahkan diri sendiri atas ketakberdayaan kita, kita memilih untuk menyalahkan orang lain.

Tapi hidup memang tak melulu diisi dengan kegagalan, kesalahan dan penyesalan. Seringkali setelah melewati rentetan peristiwa hingga tragedi kita akan menemukan hikmah. There’s a silver lining in any events. Selalu ada hikmah di balik peristiwa. Dan kita juga selalu bisa belajar darinya.

Dan Banyu Biru mengajak kita kembali menyusuri masa lalu. Menjadi teman Banyu yang melakukan perjalanan panjang mencari ayahnya. Untuk mengkonfrontasi beberapa hal yang selama ini selalu menganggunya. Terutama dengan anggapan yang terbentuk di benaknya selama bertahun-tahun bahwa ayahnya lah penyebab semua kesialan yang dirasakan menimpanya.

Dan perjalanan ini juga membuat kita sadar bahwa Tora Sudiro adalah seorang aktor yang hebat. Ia bisa memainkan peran sesurealis ini tanpa canggung. Dan Dian Sastrowardoyo tampak begitu magnetik di film ini dalam tampilan layar yang dikelir sewarna senja. Dan Teddy Soeriatmadja adalah seorang sutradara yang cakap mengarahkan tema surealis dan bisa membumikannya dengan indah.

Dan kita terbangun dari mimpi seperti Banyu. Kita sudah berada di tahun 2023, 15 tahun berselang dari tahun 2005. Begitu banyak hal yang sudah terjadi dalam hidup kita. Apakah semuanya nyata atau sebagian diantaranya adalah mimpi?

“Tapi terkadang kita hanya ingin melihat apa yang kita inginkan, apa artinya menemukan jawaban di sebuah mimpi?”

Video Terkait: