Home FILM Biopik Terbaik dan Idealisme Yang Diperjuangkan

Biopik Terbaik dan Idealisme Yang Diperjuangkan

Film Tjoet Nja Chien [1988] - Tayang di Netflix

14
0
SHARE
Biopik Terbaik dan Idealisme Yang Diperjuangkan

Tahun 1988. RCTI melakukan siaran percobaan perdana di daerah Jabodetabek dan sekitarnya. Dan di tahun yang sama, Festival Film Indonesia untuk pertama kalinya memutar film Tjoet Nja Dhien untuk publik.

Saya masih kelas 3 SD di tahun 1988. Dan sewaktu film tersebut beredar, karena tinggal di kota kecil, Polewali [kini Sulawesi Barat], akses terhadap film masih cukup terbatas. Saya akhirnya menyaksikan film tersebut bertahun-tahun kemudian ketika diputar di TVRI. Dan “berkenalan” pertama kalinya dengan Christine Hakim dan menjadi pengagumnya seterusnya.

Tjoet Nja Dhien adalah salah satu film Indonesia yang dibuat sangat serius. Eros Djarot membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan film ini dan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk melakukan pengambilan gambar. Segala aspek yang ada di film tersebut dibuat untuk melemparkan kita ke jaman dimana pahlawan wanita asal Aceh itu keluar masuk hutan dan berjuang melawan Belanda. Dan Christine menjadi cahaya yang menerangi film dengan durasi 150 menit itu.

Membuat film biopik di Indonesia adalah sebuah pilihan sunyi dan beresiko. Tak cukup banyak orang yang berani mempertaruhkan sebagian hidupnya untuk mereka ulang sosok hebat yang pernah ada. Tak cukup banyak orang yang berani menghabiskan waktu bertahun-tahun melakukan riset agar sejarah tetap berjalan di jalurnya. Tak cukup banyak orang yang berani mempertaruhkan modal dalam jumlah besar untuk menghasilkan film yang kelak mungkin tak menarik minat jutaan orang untuk menontonnya.

Tapi kenapa masih ada saja yang membuat film biopik di Indonesia? Tentu saja karena ada alasan mulia untuk menceritakan kembali sosok para pahlawan, para pejuang dan para pionir ke generasi sekarang. Sebanyak apapun buku dibuat untuk mencatat perjuangan para tokoh tak akan bisa mengalahkan sebuah film yang dibuat dengan serius, dengan pertaruhan sedemikian besar dan dengan niat mulia agar generasi sekarang tahu darimana bangsa dan negara ini bermula. 

Dari Tjoet Nja Dhien yang kembali diputar di Netflix, kita belajar soal kegigihan. Bagaimana perempuan yang hampir buta dan sakit-sakitan itu tak kenal menyerah untuk membebaskan negeri ini dari penjajahan Belanda. Dari Tjoet Nja Dhien, kita belajar soal keteguhan. Bahwa apapun rintangan yang dihadapi, niat yang sudah dicetuskan sejak awal hendaknya dipegang teguh. Dari Tjoet Nja Dhien kita juga belajar tentang idealisme. Bahwa masih ada sineas di Indonesia seperti Eros Djarot yang gigih dan teguh memperjuangkan idealismenya untuk memperkenalkan bagaimana sosok perempuan tangguh di abad ke-19 menjadi pemimpin bagi ribuan pengikutnya.

Masih adakah sosok sineas seperti Eros Djarot di masa sekarang? Saya tak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Idealisme hari ini adalah barang mahal. Idealisme menuntut kita untuk memperjuangkan yang kita yakini. Idealisme menginginkan kita untuk melahirkan karya yang sejatinya akan dikenang berpuluh tahun setelahnya. Dan di hari ini, masih adakah sineas yang menjunjung tinggi idealisme dalam prosesnya melahirkan karya?

Saya menulis tulisan ini di Hari Film Nasional 30 Maret 2023. Tjoet Nja Dhien menjadi pilihan tepat untuk melakukan introspeksi. Melihat lagi apa yang sudah kita lakukan untuk film Indonesia. Mengkaji ulang apa yang akan kita lakukan untuk film Indonesia ke depannya. Dan betul-betul menimbang langkah untuk kelak bisa memperjuangkan idealisme seperti Eros Djarot yang bisa menghasilkan karya semonumental Tjoet Nja Dhien.

Bisa jadi selain Tjoet Nja Dhien, hanya Gie [2004] dari Riri Riza, Sang Pencerah [2010] dari Hanung Bramantyo dan Guru Bangsa Tjokroaminoto [2015] dari Garin Nugroho yang saya anggap setara dalam idealisme dan bagaimana memperjuangkannya. Ketiga film yang selayaknya selalu diputar setiap tahun untuk mengingatkan kembali betapa kita pernah besar di jamannya. Ketika politik kotor belum terlampau mencemari Indonesia seperti sekarang. Ketika harta dan uang tak menjadi ukuran kesuksesan bagi sebagian warga negeri ini. Ketika kita masih mempercayai bahwa idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda seperti kata Tan Malaka.

Dan hari ini saya kembali mengingat perjuangan saya untuk membuat biopik tentang pahlawan sepakbola asal Makassar, Ramang. Sebuah perjuangan yang sudah dimulai sejak lebih dari 10 tahun lalu. Sebuah langkah yang saya tahu akan panjang, berat dan melelahkan. Tapi saya percaya idealisme ini selain adalah sebuah kemewahan, juga menjadi sesuatu yang patut diperjuangkan. Di tengah iklim sepakbola nasional yang diracuni politik kotor, saya percaya melihat kembali Ramang di bioskop akan kembali membuat kita percaya bahwa negara dan bangsa ini akan kembali berjaya kelak. Entah kapan.

Video Terkait: