Home FILM Melawan Diri Sendiri dan Menjadi Pahlawan

Melawan Diri Sendiri dan Menjadi Pahlawan

Film Virgo and the Sparklings [2023] - Tayang di Disney Plus

13
0
SHARE
Melawan Diri Sendiri dan Menjadi Pahlawan

Tahun 1973. Majalah Bobo dan Gadis diterbitkan pertama kali dan komikus Jan Mintaraga memperkenalkan karakter adiwira Virgo ke publik.

Karakter Virgo pertama kali diperkenalkan melalui serial Kapten Halilintar: Ghorghonpada tahun 1973 terbitan Sastra Kumala. Dan dibutuhkan waktu hingga 50 tahun untuk mewujudkan Virgo sebagai karakter adiwira di jagat sinema tanah air.

“Virgo and the Sparklings” menjadi percobaan ketiga dari jagat Bumilangit yang didukung penuh oleh Screenplay. Percobaan pertama, “Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot” yang dirilis pada tahun 2019 dinilai cukup berhasil berkat perolehan penonton melebihi 1,7 juta orang. Sayangnya percobaan kedua, “Sri Asih”, ditanggapi pasar tak sebaik “Gundala” dan gagal mencapai target box office 1 juta penonton. Dan “Virgo and the Sparklings” menjadi percobaan paling mutakhir dari jagat Bumilangit yang terlihat serius membangun semesta adiwira Indonesia.

Jan Mintagara menggambarkan Virgo dalam wujud remaja perempuan bernama Riani sebagai “seorang mahasiswi yang terlahir sebagai seorang Sinestesia. Ia bisa melihat suara dan mendengar warna. Kemampuan ini membuatnya amat lihai bermain musik. Seiring waktu, kemampuannya berkembang. Riani bisa mengubah cahaya menjadi percikan api hingga kobaran api, dan memanipulasi cahaya sehingga ia bisa tampak tak kasat mata.”

Semasa kecil kekuatan Riani selalu diterimanya sebagai kelemahan. Ia selalu dianggap biang onar karena “kegemarannya” membakar berbagai hal yang membuat orangtuanya selalu mengungsikannya dari satu sekolah ke sekolah lain. Dan remaja perempuan berusia belasan sepertinya selayaknya tertekan. Ia tak tahu apa yang terjadi dengan dirinya, ia tak paham bagaimana mengendalikan apapun yang dipunyainya dan ia merasa tak seorangpun bisa mengerti apa yang terjadi padanya. Bahkan tidak orangtuanya.

Masa kecil Riani jauh lebih gelap dari Peter Parker yang sayangnya justru tidak dieksplorasi lebih dalam oleh skenario garapan Rafki Hidayat dan Johanna Wattimena untuk memberinya karakter yang lebih kompleks. Padahal secara teori, semakin kompleks karakter utama maka akan semakin menarik konflik demi konflik tersaji dalam sebuah film.

Tapi itu adalah sebuah pilihan yang diambil Ody C Harahap yang duduk di bangku sutradara. Dan itu adalah pilihan yang diambil secara sadar sepenuhnya. Kita memang tahu bahwa Riani butuh waktu untuk tak lagi melawan dirinya sendiri tapi kita tak diberi ruang untuk memahami lebih baik apa yang terjadi pada dirinya dan bagaimana ia bergulat dengan semua itu dan akhirnya memilih berdamai dengannya. Tahu-tahu Riani dipertemukan dengan trio remaja perempuan penggemar musik dan tanpa banyak cingcong keempatnya langsung cocok begitu saja dan bergabung dalam sebuah band.

Dan tahu-tahu Riani merasa perlu menggunakan kekuatannya dan menjadi pahlawan. Di titik ini, skenario masih memperlihatkan urgensi dari Riani ketika melihat akibat dari wabah kemarahan yang melanda anak-anak muda di kotanya dan menyebabkan kedua orangtuanya diamuk oleh pemuda tak dikenal. Di sini kita bisa memahami alasan Riani memutuskan melawan dirinya sendiri yang menjadi lemah karena terus menerus menggunakan kekuatannya. Tapi kita tahu suatu saat ia akan berhadapan dengan ketakutan terbesarnya: mengkonfrontasi orangtuanya tentang kekuatannya dan tentang apa yang dilakukannya saat ini.

Di sisi ini pula lah “Virgo and the Sparklings” menjadi relevan buat remaja SMP/SMA yang butuh perhatian dan butuh dukungan dari sekeliling. Ody memberi ruang besar pada bagaimana kisah film ini juga tentang hubungan orangtua dan anak yang saling memahami namun tak kunjung berani untuk saling mengungkapkan. Tentang anak yang merasa menderita sendirian semasa kecilnya dan dibiarkan begitu saja oleh orangtuanya. Tentang orangtua yang ketakutan karena tahu bahwa anaknya punya kekuatan besar dan kelak justru akan membuatnya lemah.

Dengan lagu-lagu yang dirancang sebagai corong perasaan bagi Riani and the gank membuat “Virgo and the Sparklings” tak sekedar menjadi film yang menghibur namun juga bisa menjadi cermin bagi anak-anak seusia mereka. Bahwa setiap anak punya kekuatan/keistimewaan yang seharusnya perlu didukung dan diberi ruang untuk bertumbuh dengan baik. Bahwa setiap anak juga punya suara yang penting untuk didengar sehingga tak merasa sepi. Bahwa mereka kadang ingin menjadi biasa saja, tak ingin menjadi beda agar bisa “terlihat”.

Sayup-sayup dari pelantam suara terdengar Spotify memainkan lagu Sahabat Angin. Dengan liriknya sederhana dan mengena dan membuat kita paham bahwa Riani hanya ingin menjadi dirinya sendiri dan tak pernah berniat menjadi pahlawan.

Tiap sudut sudah aku cari
Siapa tau kubisa bersembunyi
Dari sepi

Saat banyak orang ingin beda
Aku hanya ingin jadi biasa
Biasa aja

Kan nggak mungkin aku terus berlari selamanya
Pegal hati lebih sakit dari kaki

Di manakah
Ada yang bisa trima
Aku yang selalu bawa masalah
Ke sekelilingku

Oh haruskah
Kuterima saja lah takdir-Nya
Ciptakan sahabat dari angin
Yang bernyanyi bersamaku

 

VIRGO AND THE SPARKLINGS

Produser: Wicky V Olindo, Joko Anwar, Bismarka Kurniawan

Sutradara: Ody C Harahap

Penulis Skenario: Rafki Hidayat, Johanna Wattimena

Pemain: Adhisty Zara, Bryan Domani, Mawar DeJongh

Video Terkait: