Tahun 2021. Selama beberapa waktu saya tak bergairah menatap hidup. Saya hanya ingin menikmati tidur yang panjang. Dan tak apa jika tak perlu bangun lagi.
COVID-19 memunculkan sebuah hal dari dalam diri saya yang tak pernah saya duga: sesuatu yang bernama depresi. Ada beberapa hari dimana saya tak ingin beranjak dari tempat tidur. Beberapa hari lainnya saya merasa dunia saya seketika gulap gulita. Dan ada beberapa dimana saya merasa hanya ingin meninggalkan dunia.
Tapi akhirnya saya melihat cahaya di ujung jalan. Sepenggal pengalaman hidup itu akhirnya saya masukkan di skenario miniseri yang saya tulis berjudul “Klub Bunuh Diri”. Skenario ini akhirnya diterbitkan sebagai novel dan disambut sejumlah kalangan yang pernah menghadapi hari-hari tanpa harapan seperti saya.
Dan tentu saja banyak yang mengalaminya. Termasuk Selena Gomez. Dalam dokumenternya yang diputar di Apple TV, Selena membuka dirinya kepada orang-orang terdekat, kepada penggemarnya dan kepada penonton seperti kita melalui kamera. Ia berbicara tentang hal-hal yang selama ini sering membuatnya gusar, sebagian karena ia tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya.
Saya tak seberani Selena. Selama beberapa waktu, saya menyimpan rapat-rapat pengalaman buruk itu. Hingga akhirnya saya melihat pengakuan terbuka di Twitter dari salah satu jurnalis yang saya kagumi. Sebuah pengakuan tentang bagaimana ia menghadapi masa-masa sulit saat pandemi, bagaimana merasa tak berguna dan terutama hari dimana ia ingin mengakhiri hidupnya begitu saja. Dan perasaan saya pun menjadi lega karena apa yang saya alami dan tak pernah bisa saya ceritakan ke siapapun itu akhirnya bisa saya buka via social media.
Depresi adalah seburuk-buruknya pengalaman yang pernah dialami seseorang. Apalagi seseorang seperti Selena. Jangan lihat stasus sosialnya sebagai superstar tapi sebagai manusia biasa yang bergelut dengan banyak masalah nan pelik. Ia mengidap lupus, mengalami cangkok ginjal, divonis bipolar dan kini depresi. Mungkin rasanya seperti dijatuhkan berkali-kali dari sebuah gedung pencakar langit. Tapi seperti saya, kita hanya ingin terlihat baik-baik saja di mata siapapun. Kita tak ingin membuat siapapun khawatir dengan apa yang kita alami. Dan sampai hari ini, kedua anak perempuan saya tak pernah tahu bahwa Papam-nya sempat mengalami depresi dan ingin bunuh diri.
Dan merasa berguna bisa jadi adalah salah satu obat terbaik. Bagi Selena, seperti yang diperlihatkan dalam dokumenternya, ia merasa berguna ketika terlibat kegiatan kemanusiaan di Kenya. Selama beberapa lama ia disana, ia merasa bahagia dan seperti menemukan dirinya kembali. Bisa jadi karena ia kembali merasakan koneksi manusia.
Koneksi. Interaksi. Sesuatu yang kita pikir bisa kita jangkau hanya melalui social media. Padahal yang kita butuhkan mungkin memang bukan emoji hati tapi pelukan hangat, yang kita butuhkan bisa jadi bukan sekedar kata-kata “it’s okay not to be okay” tapi seseorang mendengarkan kita bercerita tanpa menghakimi. Selama pandemi kita dilarang bersentuhan satu sama lain dan seketika terasa ada yang hilang dari diri kita. Padahal kita mungkin hanya butuh jabat erat dari seseorang yang kita sayangi.
Berada di industri hiburan memang mempertaruhkan banyak hal. Salah satunya adalah keinginan untuk menjadi sempurna. Mengerjakan sesuatu tanpa cela. Memproduksi sesuatu yang mesti selalu lebih baik dari sebelumnya. Namun bersamaan dengan itu, kita juga mempertaruhkan kesehatan mental kita. Kita menekan banyak hal dalam dada kita hanya agar kita tampak sempurna di mata orang lain. Tapi apakah tampak sempurna lebih penting dibanding kebahagian sebenarnya?
Saya mengagumi Selena yang menggunakan popularitasnya untuk hal-hal baik terutama membicarakan isu sepenting kesehatan mental. Kita tak perlu mengalaminya untuk menjadi peduli. Dan kita tak perlu orang-orang di sekitar kita perlu mengalaminya terlebih dahulu agar kita peduli. Yang kita butuhkan adalah empati bahwa harapan selalu ada di ujung jalan. Cahaya itu bisa muncul setelah gelap gulita. Dan setelahnya semuanya akan berangsur baik-baik saja.
“My Mind & Me” menjadi terapi bagi saya dan Selena, juga mereka yang pernah mengalami depresi. Film dokumenter ini menjadi refleksi untuk lebih berani membicarakan hal-hal yang kita anggap memalukan bagi kita namun sesungguhnya penting untuk kita obrolkan.
Wanna hear a part to my story?
I tried to hide in the glory
And sweep it under the table
So you would never know
MY MIND & ME
Produser: Michelle An, Caitlyn Daley, Aleen Keshishian, Alek Keshishian, Katherine LeBlond, Stephanie Meurer, Zack Morgenroth
Sutradara: Alek Keshishian
Penulis Skenario: Alek Keshishian, Paul Marchand
Pemain: Selena Gomez, Raquelle Stevens






LEAVE A REPLY