Tahun 1997. Saya memasuki tahun kedua di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin dan James Cameron datang meluluhlantakkan hati penonton bioskop dengan Titanic.
Saya salah satu orang yang gemar sekali menonton film terutama di bioskop. Menonton ke bioskop terasa seperti ritual yang perlu dilakukan dengan khusyuk. Biasanya saya menyediakan waktu khusus nonton 1-2 film per minggu di bioskop. Dan sebelum menonton, saya melakukan beberapa hal agar tak terganggu menikmati keajaiban sinema di layar lebar.
Dan di tahun 1997, seluruh dunia dibuat terpukau oleh Titanic. Kisah tenggelamnya kapal pesiar mewah dengan 1001 cerita dibaliknya itu digubah oleh James Cameron menjadi kisah tentang perbedaan kasta, pergulatan menghadapi bencana dan pengorbanan berujung kematian. Titanic menjadi film pertama yang diproduksi dengan biaya super jumbo mencapai 200 ratus juta dollar dan masih memegang rekor sebagai salah satu film terlaris sepanjang masa dengan perolehan 1,8 milyar dollar.
James adalah salah satu sutradara yang percaya penuh dengan visinya, meski visi itu belum ditopang oleh teknologi mumpuni. Avatar yang dirilis tahun 2009 membuktikan betapa tekun dan sabarnya ia menunggu teknologi bisa mencapai visual yang diinginkannya. Avatar: The Way of Water perlu 13 tahun untuk diwujudkan agar bisa memuaskan James.
Tapi Avatar dan Avatar: The Way of Water bukan sekedar film dengan teknologi canggih tak tertandingi. Film ini adalah sebuah protes keras dari James atas ulah manusia terhadap kerusakan lingkungan. Bumi baik-baik saja tanpa manusia namun manusia menghancurkan bumi sedikit demi sedikit hingga bumi tak baik-baik saja.
Sebagai sesama sutradara, saya mengagumi betul bagaimana James memasukkan visinya soal lingkungan ke dalam film. Sementara saya baru di tahap selesai menamatkan buku yang ditulis Bill Gates, How to Avoid a Climate Disaster. Ia perlu waktu 13 tahun dan biaya lebih dari 300 juta dollar untuk menyampaikan pesannya ke seluruh dunia melalui medium yang paling dikuasainya.
Avatar: The Way of Water tak hanya bercerita soal lingkungan namun juga nilai-nilai keluarga. Sama seperti James, setelah memiliki anak yang cukup kritis, kami berpikir bagaimana cara mengintegrasikan pekerjaan kami dengan pesan-pesan baik untuk anak-anak kami kelak. Dan saya kira James melakukan pekerjaan yang luar biasa.
Jake dan Neytiri kini sudah punya 4 anak dan hidup bahagia di Pandora. Mereka menjalani hidup yang tenteram hingga suatu hari kebahagiaan itu dirusak oleh nafsu dendam. Jake yang menghindari konflik memilih memboyong keluarganya bermigrasi dari hutan ke laut.
Dan tak mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan yang sama sekali baru. Jake dan keluarga menghadapi tantangan hebat. Bukan saja masalah kebiasaan tapi terutama soal bagaimana menjalani hidup. Dengan dua anak laki-laki yang beranjak remaja, terbayang betapa Jake mirip seperti James, saya atau kebanyakan bapak-bapak lainnya. Bagaimana mendidik mereka agar tak mencari masalah di tempat baru dan berbaur dengan harmonis. Dan Jake harus memperlihatkan teladan terlebih dahulu kepada anak-anaknya.
Dengan cerita sesederhana ini, penonton memang bisa dengan mudah terpukau pada visualisasi menakjubkan yang bisa dicapai oleh James dan tim. Tapi visual hanya bisa dilihat dan ceritalah yang akan sampai ke hati. Dan Avatar: The Way of Water menunaikan tugasnya dengan baik. Inilah jenis film yang bisa ditonton sekeluarga dan bisa didiskusikan setelahnya.
Banyak hal yang berubah setelah kita memiliki anak dan membesarkannya. Sedikit banyak akan berpengaruh pada karya apapun yang kita buat. Saya membuat film/serial/miniseri yang kelak bisa dinikmati anak-anak saya dan bisa mereka diskusikan secara terbuka dengan saya. Dan saya kira di Avatar: The Way of Water, James juga akan melakukannya dengan anak-anaknya.
Setelah Titanic dan setelah Avatar, James ternyata masih bisa mengejutkan dunia dengan pencapaian teknis yang luar biasa. Dan ia akan terus melakukannya lagi dan lagi!
AVATAR: THE WAY OF WATER
Produser: James Cameron, Jon Landau
Sutradara: James Cameron
Penulis Skenario: James Cameron, Rick Jaffa, Amanda Silver
Pemain: Sam Worthington, Zoe Saldana, Sigourney Weaver






LEAVE A REPLY