”I’ll never make it to 50,’ ujar Milk sembari tersenyum pada Scott yang berbaring di sampingnya. Kemudian Milk pun mati diterjang timah panas di usia 48 tahun.
Dunia menghujat Prancis. Presiden Nicolas Sarkozy jadi sasaran. Jilbab pokok permasalahannya. Dalam perkara ini, sesungguhnya tak hanya agama yang disentuh, namun juga problema eksistensi: terkait menjadi ‘berbeda’. Ada stigma yang sekejap muncul sebagai reaksi. Dengan mengenakan jilbab, identitas penggunanya langsung tampak dan membedakannya dengan yang lain. ‘Berbeda’ ini berubah menakutkan bagi sebagian orang, sehingga kata ‘berbeda’ yang sesungguhnya positif berubah jadi ‘kelainan’ yang berkonotasi negatif.
Erving Goffman dalam sebuah pemikirannya yang termahsyur mengemukakan bahwa ‘seorang pribadi dengan sebuah stigma, tak sepenuhnya manusiawi’. Dalam kondisi ini kita membentuk banyak diskriminasi untuk mengurangi peluang hidup orang lain secara efektif, sengaja atau tidak. Kita menyusun teori stigma, ideologi yang menjelaskan inferioritas pihak lain, dan menjadi bukti bahaya orang yang distigmatisasi itu.’
Di tiap era, selalu muncul stigma baru. Amerika tahun 1970-an adalah sebuah negara yang mengecam keras preferensi seksual berupa homoseksualitas. ‘Kelainan’ itu hanya disembunyikan dalam kamar mandi atau di bawah bantal, hingga datangnya Harvey Milk (Sean Penn). Dengan terang-terangan ia mengaku diri sebagai gay, tak jengah berciuman dengan kekasihnya, Scott (James Franco) di pinggir jalan. Sebab dibalik itu, ia paham betul hak-haknya sebagai manusia dan juga sebagai warga negara. Mulailah ia melawan dengan lembut, tetap menjaga sikap sopan. Karena itulah publik jatuh hati padanya.
Sosok Milk menjadi anomali sukses di era itu. Ia menjadi inspirator bagi ribuan pemuda yang selama ini menyembunyikan dirinya ‘berbeda’. Ia mencoba mengenyahkan stigma yang dilekatkan masyarakat pada kaumnya. Ia berjuang tanpa kenal lelah hingga membuahkan hasil.
Sebagai sutradara yang sepertinya mengagumi sosok Milk, Gus Van Sant tak terjebak sedikitpun untuk membuat filmnya begitu mengagungkan keluarbiasaan Milk. Van Sant membiarkan dirinya di pinggir layar dan membiarkan Milk menceritakan sendiri kisah hidupnya via Sean Penn. Tindakan Van Sant ini yang membuat Milk bertutur jujur, tak pretensius, dan pada akhirnya membuat penonton mengagumi sosok Harvey Milk sebagai seorang manusia yang memperjuangkan hak-haknya. Skenario yang dikreasikan Dustin Lance Black juga brilian memotret episode demi episode hidup Milk dengan efektif via refleksi Milk ketika berulang-tahun yang ke-48. Dari refleksi itulah cerita bergulir ke pertemuan Milk dan Scott pada saat usianya yang memasuki 40 tahun. ”I’ll never make it to 50,” ujar Milk sembari tersenyum pada Scott yang berbaring di sampingnya.
Terlihat jelas bahwa Black tahu betul apa esensi kisah yang hendak disampaikannya. Ia pandai memilah apa yang sebaiknya dikedepankan dan apa yang seharusnya dipinggirkan dari kisah hidup Milk. Maka rasanya tak ada adegan yang terbuang percuma, semuanya berpadu mengkonstruksikan bangunan kokoh yang tengah dibuat Van Sant.
Sean Penn adalah salah satu pondasi dari bangunan kokoh yang dibangun Van Sant. Makin bertambah usianya, terasa Penn makin cemerlang aktingnya. Ia pun sudah melampaui taraf ‘berakting’, ia sampai di tahap ‘menjadi’. Yang terlihat di layar bukan lagi Penn, namun Milk seorang. Energi luar biasa Penn menyeret sejumlah pemain muda yang berada di sekelilingnya untuk juga tampil maksimal. Lihatlah bagaimana James Franco, Emile Hirsch, dan Diego Luna menanggalkan segala atribut kebintangannya dan menjadi pribadi yang berbeda di sini.
Melihat Milk, kita perlu merenungkan pemikiran Goffman. Kenapa selalu takut menjadi ‘berbeda’? Atau kenapa harus takut bersentuhan dengan ‘berbeda’? Karena Milk, sesungguhnya tak ada bedanya dengan manusia lain di samping preferensi seksualnya. Ia pun sukses memperlihatkan bahwa ia sama berharganya dengan yang ‘normal’.






LEAVE A REPLY