Home FILM Belajar Islam Yang [Memang] Memanusiakan Manusia

Belajar Islam Yang [Memang] Memanusiakan Manusia

Film Pesantren [2019]

8
0
SHARE
Belajar Islam Yang [Memang] Memanusiakan Manusia

Tahun 2006. Saya baru setahun merantau di Jakarta dan diajak bertualang ke pesantren melalui program JIFFest Travelling.

Jakarta International Film Festival atau JIFFest punya peran penting dalam hidup saya. JIFFest lah yang menyebabkan saya jatuh cinta lagi dengan dunia film dan akhirnya menetapkan hati untuk fokus di dunia tersebut. Salah satu program JIFFest adalah JIFFest Travelling yang bertualang ke beberapa kota dan di tahun 2006 kami mengunjungi sejumlah pesantren.

Disini untuk pertama kalinya saya bersentuhan langsung dengan dunia pesantren. Saya yang tak pernah mengenyam pendidikan agama secara formal [kecuali melalui mata pelajaran Agama Islam di sekolah] akhirnya bisa melihat langsung bagaimana sebenar-benarnya pesantren menjalankan rutinitasnya.

Lebih dari 10 tahun setelahnya, saya diundang menjadi pembicara di seminar film yang diadakan Pesantren Gontor Putri Ngawi. Meski sebelumnya sudah pernah bersentuhan dengan dunia pesantren, saya terkejut karena diundang oleh pesantren khusus perempuan. Dan kejutan-kejutan lain menanti saya ketika menginjakkan kaki dan berinteraksi dengan para santriwati di sana.

Pesantren Gontor Putri Ngawi adalah dunia yang aktif. Dari jam 4 pagi semuanya sudah terbangun dari mimpi indahnya dan bersiap melakukan aktifitas seharian penuh. Jangan berpikir bahwa aktifitas yang dilakukan cuma mengaji, shalat dan semacam kajian saja. Saya melihat langsung betapa banyak sekali kegiatan dilakukan santriwati bahkan hingga jelang dinihari. Dan semua dilakukan dengan penuh semangat dan energi yang positif.

Dan sejak itu pandangan saya tentang pesantren berubah. Sebagaimana dunia bergerak cepat, begitupula perubahan terjadi di pesantren. Adaptasi dilakukan agar pesantren selalu bisa mengikuti jaman. Perubahan diikuti sepanjang masih berada di koridor Al Qur’an dan Hadist. Dan Pesantren memperlihatkan itu semua sepanjang 105 menit durasinya. 

Shalahuddin Siregar memakai pendekatan observasional sehingga kita bisa mendapatkan gambaran yang cukup lengkap sekaligus intim dan dekat tentang apa yang sesungguhnya terjadi di Pondok Kebun Jambu Al-Islamy. Kita diajak masuk hingga ke ruang tidur para santri untuk melihat bagaimana keseharian mereka, kegelisahan mereka dan apa yang ada di benak mereka.

Pondok Kebun Jambu Al-Islamy yang terletak di Cirebon ini punya sejarah yang menarik. Salah satunya karena dipimpin oleh seorang ulama perempuan. Salah duanya karena menjadi tempat penyelenggaraan Kongres Ulama Perempuan Indonesia pertama pada tahun 2017. Sejarah yang menarik ini berpilin dengan bagaimana Al Qur’an dan Hadist dikaji secara mendalam, ditelaah tak saja secara tekstual namun juga dipelajari sebab musababnya dan bagaimana para guru mereka dengan pemikiran terbuka memberikan pandangan menarik seputar kajian jender kepada para santrinya.

Banyak sekali pemikiran menarik yang terlontar sepanjang film. Salah satu guru, Kyai Husein Muhammad, mencoba menawarkan perspektif jender melalui kajian atas QS An-Nisa 34: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita).” Tak kurang banyak yang membaca ayat ini sebagai “keunggulan laki-laki atas perempuan dari segi apapun” tapi tak memperhatikan kata “sebahagian”. Namun sang guru dengan bijak menafsirkannya bahwa bisa jadi sebagian laki-laki memang lebih unggul dari perempuan namun bisa saja sebagian perempuan juga lebih unggul dari laki-laki. Ayat ini memang sempat disetir oleh beberapa pihak yang tak menyetujui perempuan sebagai pemimpin di sejumlah sektor.

Di lain kesempatan, di hadapan seorang pengawas santriwati yang menggeluti dunia seni, pimpinan pesantren, Nyai Hj Masriyah Amva, mengutip sebuah hadist: “Sesungguhnya Allah Maha indah dan mencintai keindahan.” Beliau mengaitkan dengan seni yang diajarkan di pesantren termasuk seni angklung dan bahwa seni itu termasuk hal yang indah dan melembutkan hati.

Meski dikemas secara sederhana, Shalahuddin mencoba bereksperimen dengan pengemasan gambar. Dengan pemaparan soal kajian jender di adegan sebelumnya, pemaparan tersebut terasa lebih nyaring bunyinya ketika sutradara menempatkan gambar kemeriahan pentas Kongres Ulama Perempuan Indonesia [yang tentu saja diisi sebagian besar perempuan] berdampingan dengan adegan para laki-laki sedang mencuci piring bekas hajatan acara tersebut. Kajian itu tak sekedar diucapkan namun langsung dipraktikkan.

Dan yang paling penting kita melihat para guru menawarkan pemikiran terbuka kepada para santri bahwa siapa saja boleh berpendapat dan siapa saja juga boleh tak setuju dengan suatu pendapat. Namun bukan berarti ketidaksetujuan adalah tanda permusuhan. Karena sesungguhnya hal ini sekedar memperlihatkan bahwa Al Qur’an dan Hadist tak sekedar dibaca namun juga dikaji secara mendalam.

Saya pulang dari menonton Pesantren di bioskop dengan hati membuncah. Bahwa Islam sedang dikembalikan ke khittah-nya sebagai agama yang memanusiakan manusia. Bahwa Islam tak seperti yang digambarkan melalui pemahaman media Barat. Bahwa Islam sesungguhnya progresif dan lentur. Dan terutama, Islam adalah rahmat bagi semesta, bukan bagi suatu kaum saja.

 

PESANTREN

Produser: Shalahuddin Siregar

Sutradara: Shalahuddin Siregar

Penulis Skenario: Shalahuddin Siregar

Pemain: Diding, Bibah, Kyai Husein Muhammad, Nyai Hj Masriyah Amva

Video Terkait: