“When the screenplay has been written
and the dialogue has been added, we're ready to shoot.”
(Alfred Hitchcock)
Sebagai sutradara, nama Robert Altman punya tempat sendiri di benak moviegoers sedunia. Dia salah satu sutradara yang punya gaya khas. Jika Martin Scorsese sangat pandai mengolah sisi gelap kehidupan manusia atau John Cassavetes yang terkenal dengan penggambaran romantiknya yang self-indulgent yang liris dan emosional, maka Altman dikenang dengan dialog yang saling bertubrukan, kental dengan unsur eksperimental dan pekat dengan nuansa humor. Dan satu lagi, anti kemapanan. Ini sebenarnya sifat Altman, tapi ternyata terlihat jelas di berbagai film–filmnya (kabarnya, Altman sering syuting tanpa skenario di tangan alias lebih sering mengandalkan spontanitas!). Tak pernah sekalipun Altman ikut dalam arus besar perfilman dunia, buktinya karya–karya Altman selalu tampil dengan gayanya yang individual, khas Altman seorang.
Ciri itu jugalah yang dipamerkannya di Gosford Park dan beroleh tepukan meriah di Oscar 2001. Well, ini memang bukan tawaran menarik bagi para penonton yang terbiasa memirsa film–film hiburan. Tapi cobalah untuk menikmatinya sejenak, maka akan ketahuan citarasa khas yang ditawarkan Altman.
Sejak layar tersibak, penonton sudah diperkenalkan pada beragam karakter. Ada Lady Trentham (Maggie Smith), bibi dari Lady Sylvia (Kristin Scott Thomas). Kebetulan, Lady Sylvia menjadi tuan rumah kunjungan sejumlah tamu untuk berburu. Tentu saja, semuanya dari kalangan atas. Mereka berasal dari kelas bangsawan, hingga selebritis seperti Ivor Novello (Jeremy Northam). Semua tamu membawa pelayan masing–masing. Disinilah titik tolak humor pekat ala Altman. Disini, bagian rumah seperti dibagi menjadi dua: upstairs dan downstairs. Upstairs dihuni para tamu dan Downstairs diperuntukkan bagi pelayan. Ada kelas–kelas sosial dalam sebuah rumah yang megah luar biasa. Belum lagi dengan konflik yang melingkupi kalangan bangsawan tersebut --hingga kebiasaan menggosip para pelayan-- semuanya dituturkan dengan lancar.
Semuanya berjalan lancar–lancar saja hingga suatu saat, Sir William McCordle (Michael Gambon) dibunuh. Tentu tak asyik jika diumbar di sini perihal latar belakang kejadian mengenaskan ini. Yang perlu dicermati adalah kelihaian Altman membuka rahasia–rahasia yang lama tertutup dari para karakternya. Tentu ini didukung skenario ‘cerdas’ buatan Julian Fellowes. Barulah setelah peristiwa mengenaskan, semuanya terkuak satu demi satu. Tapi bagi penonton yang cermat, bisa jadi sudah bisa menebak motif dibalik pembunuhan tersebut. Terlebih Altman sudah mencoba menebar jejak awal sejak pertengahan film.
Masih sama seperti karya–karya sebelumnya, Altman memperlihatkan keterampilannya membesut adegan dengan dialog tumpang tindih. Mungkin akan memusingkan bagi penonton mainstream, tapi harus diakui, butuh pengalaman dan keterampilan tertentu untuk sampai pada tahapan tersebut. Altman pun masih merekrut puluhan aktor dengan beragam karakter dengan porsi yang nyaris sama antara satu dan lainnya. Prediksi Altman tentulah, dengan cara sedemikian tak akan ada aktor yang tampil dominan. Tapi Altman tak bisa ‘mencegah’ seorang aktor atau aktris untuk ‘mencuri perhatian’. Dan disini yang berhak atas julukan scene stealer tak lain adalah Maggie Smith. Peranannya sebagai Lady Trentham yang nyinyir dan sinis memang tak mudah dilupakan. Berkat penjiwaan yang baik, Smith bisa diidentifikasi penonton benar–benar sebagai bangsawan dengan sikap yang sok aristokrat dan serba ingin dilayani. Jangan lupa, juga menyebalkan dan banyak maunya!
Altman pun masih memasang sebaris aktor tak konvensional, tapi dengan kualitas akting yang tak perlu dipertanyakan. Yakni Emily Watson, Helen Mirren, Kristin Scott Thomas, dan Clive Owen. Tapi Gosford Park punya ‘pembeda’ dengan karya Altman lainnya: ‘berani’ mengobrolkan kemunafikan kalangan aristokrat Inggris di tahun 30-an. Jadinya Gosford Park masih akan dikenang sebagai salah satu film Altman yang personal.






LEAVE A REPLY