Tahun 1999. Saya yang mulai stres bergulat dengan mata kuliah sulit di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin jatuh cinta lagi pada Julia Roberts.
Dunia terpukau pada Julia Roberts pada tahun 1990. Termasuk saya. Dan saya sama sekali mengacuhkan fakta bahwa Julia berperan sebagai pelacur di “Pretty Woman”. Ia menjajakan tubuhnya demi uang. Tapi saya tak peduli itu. Mungkin karena Julia membuat peran Vivian Ward menjadi manusia dan kita sebagai penonton melihatnya.
Dan 9 tahun kemudian. Saya kembali jatuh cinta padanya. Kali ini Julia sudah menjadi bintang populer Hollywood. Ia terbang ke Inggris untuk menghadiri pemutaran perdana filmnya di sana. Dan tak sengaja masuk ke toko buku dan bertemu seorang pria ganteng nan kikuk. Dan sisanya adalah sejarah.
“Notting Hill” mungkin disukai pria biasa seperti saya yang menjalani kehidupan biasa saja seperti William Thacker. Mungkin juga “Notting Hill” disukai karena ia membungkus impian pria biasa seperti saya yang berharap dijatuhi cinta dari seorang perempuan cantik dan populer.
Dan mimpi itu kembali berulang ketika saya menyaksikan “Marry Me”. William Thacker, si pria biasa pemilik toko buku, kini beralih wujud menjadi Charlie Gilbert, seorang pria biasa, duda beranak satu sekaligus guru matematika SMP. Dan Julia Roberts kini digantikan oleh Jennifer Lopez sebagai Kat Valdez, penyanyi populer yang punya segalanya. Kehidupan Kat terus dibuntuti kamera dan dijadikan konten untuk dikonsumsi oleh penggemarnya. Bahkan urusan pernikahan pun, Kat setuju saja menjadikannya sebagai konten. Dan Kat tersadar bahwa ia bisa saja mengatur seluruh aspek hidupnya namun ia tak bisa sepenuhnya mengendalikannya.
Idenya brilian. Menghadirkan Kat dan Bastian, dua superstar pop, tak sekedar berduet di atas panggung yang dihadiri ribuan penonton dan ditunggu dua puluhan juta pasang mata. Membuat keduanya meresmikan pernikahan mereka di atas panggung dan menjadi konten yang akan menjadi viral sepanjang minggu. Apartemen Kat mulai dibanjiri hadiah dari sponsor dan penggemar. Tapi sesuatu terjadi. Tepat sebelum Kat naik panggung mengucap janji suci, video skandal Bastian mencium asisten Kat menjadi viral. Apa yang harus dilakukan Kat untuk menyelamatkan muka?
Saya tak bisa membayangkan rasanya menjadi Kat. Rasanya tak ada seorang perempuan di dunia ini yang mau berada di posisi Kat saat itu. Berada di hadapan ribuan penggemarnya yang menatapnya lekat. Tatapan tanda tanya bercampur kasihan. Tapi Kat adalah seorang penghibur sejati. Bertahun-tahun ia berada di industri dan tahu bahwa industri hiburan bisa membunuhnya seketika. Selalu bisa menjatuhkannya kapan saja. Dan ia menolak menjadi korban.
Kat melakukan sebuah spontanitas. Bukan demi konten. Mungkin demi menyelamatkan harga dirinya. Ia menunjuk seorang pria dari tengah kerumunan penonton dan menanyakan apakah ia bersedia menikahinya. Laki-laki itu adalah Charlie Gilbert.
“Marry Me” yang tayang di HBO Go bersandar pada premis menarik. Apa yang kamu lakukan jika seorang bintang populer memintamu menikahinya di atas panggung? Dengan bersandar pada genre komedi romantis, kita bisa memaafkan segala cheesy dan segala formula. Dan kita melihat bagaimana Kat melakukan apa yang dilakukan ayah-ibu dan kakek-nenek kita. Menikah dulu untuk lantas jatuh cinta. Kat sudah menikah 3 kali sebelumnya, karenanya kali ini ia merasa perlu melakukan sesuatu yang berbeda.
Dunia Kat dan Charlie seperti langit dan bumi. Kat selalu dibuntuti kamera, Charlie justru tak ingin mengekspos kehidupan pribadinya via media sosial. Kat dengan jadwal yang luar biasa ketat sementara Charlie hanya mengajar di SMP setiap hari dan setelahnya punya banyak waktu luang.
Tapi dunia yang berubah mungkin memang membutuhkan spontanitas. Kita terbiasa melihat segala sesuatu serba diatur. Kebahagiaan yang tampak diatur untuk dipajang di social media. Bahkan kejujuran terkadang terasa terlalu diatur untuk ditampakkan di media. Mungkin kita sesekali bisa seperti Kat yang ingin mencelat dari keteraturan dan menghindari dari rutinitas. Seperti kata Einstein, adalah gila jika kita menginginkan hasil yang berbeda dengan cara melakukan hal-hal yang sama.
Dan bagaimana mungkin kita tak jatuh hati pada Charlie dengan segala keluguan dan kejujurannya? Dan bagaimana bisa kita tak jatuh cinta pada Kat dengan segala optimismenya soal cinta? Mungkin kita bisa percaya kembali bahwa tak apa menikah dulu untuk jatuh cinta kemudian. Seperti yang berhasil dilakukan ayah-ibu dan kakek-nenek kita dahulu.






LEAVE A REPLY