Home FILM Sajian Khusus Untuk Keluarga

Sajian Khusus Untuk Keluarga

Film Untuk Rena [2005]

11
0
SHARE
Sajian Khusus Untuk Keluarga

Ketika mengenang masa kanak–kanak, sebagian besar orang mengingatnya dengan mata berbinar. Masa kanak–kanak memang masa paling indah, tempat kepolosan dan warna–warni hidup belum terjamah. Karena itu, banyak orang yang terinspirasi karenanya. J.M Barrie salah satunya. Di tahun 1904, Barrie membuat karya yang menjadikannya sangat terkenal, Peter Pan. Sebuah kisah tentang anak lelaki yang tak ingin jadi dewasa. Begitu dahsyatnya masa kecil yang indah, membuat seorang Riri Riza pun tak keberatan membuat film anak–anak hingga dua kali.

Ketika tahu Riri sedang membuat Untuk Rena, kita akan mahfum jika banyak yang akan mengaitkannya dengan Petualangan Sherina (2000) yang meroketkan namanya. Sekilas mungkin tampak serupa mengingat keduanya mengincar target penonton yang sama, tapi Petualangan Sherina dan Untuk Rena adalah dua produk yang sungguh berbeda. Jika Petualangan Sherina dikemas dengan nuansa adventure, action, dan komedi, Untuk Rena ‘hanya’ film yang sederhana. Sebuah film yang ‘hanya’ mengangkat nilai–nilai kebersamaan, perasaan kehilangan, dan keinginan untuk saling memaafkan. Namun dibalik kesederhanaannya, Untuk Rena tampil memikat. Dibandingkan dengan Gie (2005) sekalipun, saya tetap memilih Untuk Rena sebagai karya terbaik Riri setelah Eliana Eliana (2002).

Untuk Rena mudah membuat penonton jatuh hati berkat kepolosan dan tingkah laku 5 anak penghuni Rumah Matahari. Mereka adalah si ‘bungsu’ Hamdani (Raja Khalil Gibran), Topan (Aldy Zulfikar), Sri (Afifah Isykarima), Kenny (Sally Ann Gething), dan Rena (Maudy Ayunda). Sebagai anak paling besar, Rena yang melindungi ‘adik–adiknya’, sekaligus mengomandoi segelintir perbuatan kocak ketika para calon orang tua angkat datang. Rena cs yang tak ingin salah satu dari mereka ‘diangkat’ anak. Ini membuat Ibu Tia (Karlina Inawati) geleng–geleng kepala. Tapi kita bisa mengerti alasan Rena berbuat demikian. Itu karena  kehangatan Rumah Matahari takkan tergantikan oleh apapun. Riri dibantu Key Mangusnong menyusun skenario, membuat kehangatan itu terasa menyesap di dada. Seperti kesejukan hawa Cipanas yang tiba–tiba merasuk di kalbu berkat lansekap–lansekap indah dengan nuansa hijau yang menyegarkan karya Ipung Rahmat Syaiful.

Kehangatan itu hampir terkoyak karena kehadiran Oom Yudha (Surya Saputra). Pria muda ini awalnya sangat disenangi Rena cs. Namun suatu ketika sebuah fakta tersibak. Fakta ini menyenangkan bagi Hamdani, Kenny, Sri dan Topan, tapi terasa getir bagi Rena. Yudha ternyata adalah ayah kandung Rena yang tak menjenguknya selama bertahun–tahun. Amat perih bagi seorang gadis cilik seusia Rena mengetahui bahwa ayah yang pernah mencampakkannya datang kembali. Inilah inti film Untuk Rena yang sungguh tepat diputar di bulan puasa. Untuk Rena kembali menyadarkan kita agar membuka pintu maaf selebar–lebarnya.

Durasi yang cukup panjang tak membuat film ini monoton dan membosankan. Karena Key punya sejumlah tokoh ciptaan dalam porsi tak terlampau besar, tapi mampu menarik perhatian. Ada Ichiki (Nobuyuki Suzuki), pria Jepang yang menghargai betul kebersamaan dalam keluarga. Dan ada Pak Sutan dari Aceh, keluarganya tercerai berai akibat bencana. Riri juga sangat telaten mengatur ritme sehingga cerita sesederhana ini masih bisa dibengkok–bengkokkan.

Jadinya memang sulit mencari ‘kelemahan’ Untuk Rena. Kasting yang memikat, ilustrasi musik mengkilap garapan Djaduk Ferianto, dan soundtrack dari Mocca yang membuai menjadi nilai plus film ini. Salahnya mungkin hanya film ini kurang ‘renyah’ dicerna anak–anak, karena ada sisipan problem orang dewasa di dalamnya. Problem ini mungkin tak dimengerti oleh anak-anak. Selebihnya, Untuk Rena adalah salah satu film Indonesia terbaik pada masanya.

Video Terkait: