Tahun 1995. Saya masih duduk di kelas 2 SMA dan Ron Howard menggemparkan Hollywood dengan Apollo 13.
Sesuai judulnya, film tersebut terinspirasi dari kisah nyata yang dialami Jim Lovell dkk di tahun 1970-an. Ron mendasarkan filmnya pada buku Lost Moon: The Perilous Voyage of Apollo 13 yang ditulis Jim dan Jeffry Kluger. Ia membangun filmnya beserta semestanya dengan menyertakan penonton ke dalam drama, teror dan harapan. Dan kita tersedot ke dalam sebuah situasi dimana kita lupa bahwa ada dramatisasi yang tentu saja diperlukan dalam film tersebut.
Dan sejak itu, saya memperhatikan karya-karya Ron Howard. Ia terampil mengolah badai yang terjadi di sekeliling sekelompok manusia sebagaimana yang terjadi di Apollo 13. Ia cakap melibatkan emosi-emosi minor yang sering luput oleh pembuat film lainnya dan yang paling penting Ron tahu bagaimana menerbitkan harapan di tengah situasi serba tak pasti.
Ketika Thirteen Lives dirilis di Prime Video, tentu saja keingintahuan saya sangat besar. Saya mengikuti apa yang terjadi pada kisah aslinya yang dimuat secara besar-besaran di media di seluruh dunia. Ketika 12 remaja plus 1 pelatihnya terjebak dalam gua selama berhari-hari tanpa makanan di Thailand. Dan drama itu terlalu menegangkan untuk tak diikuti. Kita awalnya berpikir bahwa mudah saja untuk menyelamatkan kesemuanya. Tapi ternyata hambatan demi hambatan menghampiri. Tingkat kesulitan untuk menyelamatkan semakin tinggi ketika segala badai menderu-deru di tengah peristiwa luar biasa itu. Hujan menderu-deru yang menguarkan air ribuan galon, menembus celah gua dan menyulitkan aksi penyelamatan, juga kondisi lemah dari ke-13 orang itu tanpa makanan sama sekali.
Dan Ron membawanya ke dalam film yang terasa betul unsur realismenya. Tak ada satu pahlawan tunggal di film ini, semua orang yang terlibat adalah pahlawan. Tak ada karakter antagonis di film itu, yang menjadi hambatannya bagaimana bisa mengakali segala yang terjadi dan melakukan apapun yang dibutuhkan demi bisa menyelamatkan ketigabelas nyawa. Ron melakukan kembali apa yang dilakukannya di Apollo 13 namun kali ini dengan lebih banyak hambatan, lebih banyak karakter, lebih banyak drama dan aksi. Dan meski kita tahu ending filmnya seperti apa, tetap saja kita berharap semua anak dan pelatihnya akan selamat.
Dalam kisah aslinya, tragedi ini menjadi showcase bagaimana kemanusiaan menaklukkan lintas batas. Ratusan orang dari seluruh dunia datang ke Thailand dan menawarkan bantuan. Padahal ketigabelas orang yang terjebak di dalam gua itu bukanlah siapa-siapa. Tapi dunia melihat ada tiga belas nyawa yang butuh pertolongan dan ada 13 nyawa yang pantas mendapatkan pertolongan itu tanpa memandang agama, suku, ras hingga bahasa.
Kita melihat bahwa pada dasarnya manusia itu baik. Situasi yang mungkin membuatnya menjadi jahat. Pada dasarnya manusia itu suka menolong dan situasi yang mungkin sering membuat mereka enggan menolong. Ada rasa kepahlawanan terbangun dalam diri tiap manusia yang menunggu untuk bergerak, menunggu untuk dibangunkan dari tidurnya pada saat-saat kritis. Dan tragedi sebesar yang terjadi di Thailand itu memperlihatkannya. Bahwa kita bisa bersatu padu bersama-sama membantu tanpa pamrih sedikitpun. Bahwa kita bisa bersatu padu bersama-sama membantu tanpa perlu ada kamera yang mengikuti kita.
Dalam setiap tragedi selalu muncul harapan. Dalam format yang berbeda-beda. Berwujud dalam aksi yang beragam. Harapan bahwa semua akan baik-baik saja, harapan bahwa badai segera berlalu setelah dihadapi dengan gagah, juga harapan bahwa optimisme bisa membawa kita pada kesuksesan. Dalam Thirteen Lives Ron menguarkan perasaan itu ke penonton. Ia tak perlu pengadeganan yang njelimet, ia tak perlu editing yang sok stylish, ia juga tak perlu musik yang sengaja mengobarkan rasa haru. Ia hanya perlu menghamparkan realisme itu ke mata dan hati penonton.
Pada akhirnya mungkin kita ikut menangis terharu karena melihat bahwa kita masih bisa tolong menolong setulus itu. Pada akhirnya mungkin kita ikut menangis terharu karena melihat rasa kemanusiaan mengalahkan apapun. Dengan segala rasa benci yang berkecamuk di udara dunia beberapa tahun terakhir, sekali lagi kita tahu bahwa kemanusiaan lah yang menjadi pemenangnya.
THIRTEEN LIVES
Produser: William M. Connor, Brian Grazer, Ron Howard, Karen Lunder, Gabrielle Tana, PJ van Sandwijck
Sutradara: Ron Howard
Penulis Skenario: William Nicholson
Pemain: Viggo Mortensen, Colin Farrell, Joel Edgerton






LEAVE A REPLY