Home FILM Bermula Dengan Menolak

Bermula Dengan Menolak

Film Kick Ass [2010]

19
0
SHARE
Bermula Dengan Menolak

Dari mana sebenarnya superhero berawal? Apa yang melatarbelakangi kemunculan mereka? Dan bagaimana proses yang menyebabkan mereka memutuskan jadi superhero? Ternyata semuanya berawal dari menolak. Menolak tirani yang mencengkeram dari bentuknya yang paling sederhana: menolak terus-menerus dijadikan ‘alas kaki’ oleh mereka yang merasa diri lebih kuat.

Dave Lizewski (Aaron Johnson) tahu rasanya menjadi ‘alas kaki’. Ia tanpa perlawanan harus menyerahkan apapun yang dipunyainya kepada preman lokal. Pada satu titik tertentu, akhirnya ia menolak. Ia pun menolak orang lain diperlakukan serupa. Tanpa berbekal apapun, ia memutuskan jadi superhero. Dengan memproklamirkan diri sebagai Kick-Ass (lengkap dengan website dan halaman Myspace), ia merasa sanggup menolong orang lain.

Premis cerita Kick-Ass memang sudah menggelitik sejak awal. Ia seperti menjungkirbalikkan konvensi yang selama ini dikenal masyarakat akan konsep superhero sebagaimana yang terlihat di puluhan film. Dibanding Iron Man dan Robin Hood, Kick-Ass jelas tak punya apapun. Ia hanya punya niat tulus: menolong sesama yang membutuhkan pertolongan. Kick-Ass menolak menjadi penonton ketika orang lain digebuki beramai-ramai. Itulah sebenarnya inti film Kick-Ass yang disampaikan secara satir tentang bagaimana manusia modern seperti kehilangan rasa kemanusiaannya dan hanya peduli pada diri sendiri.

Kemunculan Kick-Ass menginspirasi munculnya superhero lain. Termasuk duo dahsyat ayah-anak, Big Daddy (Nicolas Cage) dan Hit-Girl (Chloe Moretz). Dibanding Kick-Ass, duo ini sangat terlatih. Sang anak yang masih berusia 11 tahun sudah dibekali kemampuan beladiri tingkat tinggi dan keahlian mengoperasikan beragam senjata. Maka Kick-Ass yang sebenarnya hanya punya niat dan keberanian, ditunjang duo ini kemudian menjadi kekuatan yang dahsyat. Kehadiran mereka membuat dunia bawah tanah gentar. Para penjahat merasa terganggu dan mencari cara untuk menumpas sosok superhero nyata itu.

Matthew Vaughn yang duduk di kursi sutradara mencoba berhitung dengan segala aspek sebelum menyajikan Kick-Ass kepada khalayak. Ia tahu ia sedang melawan konvensi dan itu sesungguhnya tak main-main. Penonton pun tahu Vaughn sedang mencoba memparodikan sosok superhero. Maka ia memutuskannya untuk membawa Kick Ass jauh dari kesan serius. Bumbu humor ditebarkannya di sana-sini. Sampai di bagian ini Kick Ass tak ada masalah. Tapi apa yang terjadi saat mencoba melawan konvensi akan superhero,  tapi hanya memparodikan saja tanpa memberi pemahaman baru via visual? Vaughn pun mendorong skenarionya ke titik maksimal. Apa boleh buat, sajian aksi tak boleh disajikan setengah-setengah. Dan jadilah Kick-Ass sebagai film aksi yang mencengangkan, komedi yang berhasil dan parodi yang sungguh layak diapresiasi.

Jelas ini bukan pekerjaan mudah. Vaughn tahu ia memang harus bekerja ekstra keras. Skenario jelas menjadi perhatiannya. Ia memang memberi ruang gerak untuk memperdalam karakterisasi dan memperbaiki dinamisasi cerita. Penyutradaraannya yang asyik dimungkinkan, karena ia menulis sendiri skenarionya bersama Jane Goldman. Vaughn tahu dari awal apa yang harus ditonjolkan dan apa yang sesungguhnya hanya perlu menjadi latar dari cerita. Yang juga patut menjadi catatan adalah pemilihan jajaran aktornya yang nyaris tanpa cela. Semua bermain dalam porsi yang tepat. Padahal nyaris tak ada nama populer di Kick Ass, selain Nicolas Cage.

Kick Ass menjadi simbol penolakan atas ketidakadilan yang dialaminya sehari-hari. Ia hanya punya keberanian yang kadang tampak konyol dengan kemampuan beladirinya yang terbatas. Tapi ia tak menyerah untuk menolak dengan melawan.

Video Terkait: