Kebuntuan melanda banyak sektor. Tak terkecuali industri kreatif semisal audio-visual. Dari waktu ke waktu, film juga mengalami stagnansi. Terjadi pengulangan demi pengulangan yang tak dapat dihindari, karena makin susah mencari ide segar. Genre film yang cukup popular, yaitu komedi romantis juga tak kurang mengalami hal yang sama. Susah sekali rasanya mencari komedi dengan citarasa yang layak dikategorikan sebagai orisinal. Terakhir kita terperangah ketika menonton When Harry Met Sally lebih dari 20 tahun silam. Kita terkejut ketika mendapati Nora Ephron yang mampu mengolah kisah yang berangkat dari premis ‘bisakah lelaki berteman (tanpa harus tertarik) dengan perempuan atraktif?’ Hasilnya selain meroketkan popularitas Billy Crystal dan Meg Ryan, When Harry Met Sally akhirnya menjadi klasik.
Sekian lama menunggu komedi romantis bergizi, kini ada Ira & Abby. Ditulis sangat baik oleh Jennifer Westfeldt (yang juga menjadi pemeran utamanya), kisah ini juga menarik oleh karakter utamanya yang hadir dengan kepribadian ‘menonjol’. Mari kita berkenalan dengan Ira (Chris Messina) terlebih dahulu. Ia seorang psikolog. Ia muda, tak jelek dan punya kehidupan yang berkecukupan. Tapi, seperti kata ibunya, ia neurotik, dan seperti kata dirinya sendiri, ia punya problem dengan ‘menyelesaikan sesuatu’. Artinya ia susah menyelesaikan sesuatu yang sudah dimulainya. Satu lagi, Ira mudah khawatir terhadap segala sesuatu. Kepribadiannya yang menarik secara filmis, namun tak mudah disukai dalam kehidupan nyata itu digambarkan dengan kocak di awal film, ketika sang analis yang menanganinya selama 12 tahun akhirnya memutuskan menyerah padanya. Di sini kita tahu bahwa Ira jelas sekali bukan sosok lelaki kebanyakan.
Dan Ira berbeda 180 derajat dengan Abby (Jennifer Westfeldt). Mari ulurkan tangan pada perempuan ramah ini. Dengan empatinya yang luar biasa, Abby dengan gampang membuat siapapun jatuh hati padanya. Karena ia tulus, sederhana, dan tak macam-macam. Ia bahkan tak punya cita-cita.
Singkat cerita, takdir mempertemukan mereka di sebuah pusat kebugaran. Abby adalah staf pemasaran di sana dan Ira berniat untuk menjadi anggotanya. Melihat Ira, Abby langsung terpikat. Dan dengan gampang Ira pun dibuat bertekuk lutut dibuatnya. Mohon jangan bayangkan Abby seperti seorang perempuan penakluk. Sama sekali bukan. Ia tak punya tampang sebagai perempuan penggoda. Ia hanya kharismatik. Keduanya hanya saling mengenal selama 6 jam, mereka langsung memutuskan menikah.
Well, jika tak ditulis dengan keterampilan yang baik, cerita seperti ini bisa ditinggalkan penonton, karena penonton bisa jadi susah mempercayainya. Tapi di Ira & Abby, keajaiban terjadi dan penonton percaya dengan apa yang tersaji di layar. Itulah daya magis skenario jempolan. Dan justru dari pernikahan spontan mereka berdua inilah Ira & Abby mengalirkan kisahnya.
Jika berharap film ini hanya komedi romantis biasa, maka hal tersebut perlu dikoreksi. Karena ternyata Ira & Abby menyajikan lebih dari itu. Film ini bicara banyak hal tentang hidup, terutama seputar cinta dan perkawinan. Film ini menjadi layak ditempatkan sebagai film komedi romantis terbaik setelah When Harry Met Sally justru karena ia mengobrolkan hal-hal sederhana dalam hidup namun dari sudut pandang berbeda.
Dengan tagline "First comes love. Then comes marriage. Then comes therapy" menjadi penanda bahwa cinta dan pernikahan kadang memang tak bisa disatukan. Dua hal yang sesungguhnya dekat namun bisa teramat berbeda. Ira dan Abby membuktikannya. Ira yang selalu tak yakin akan besarnya cinta Abby kepadanya, justru berkali-kali harus tertumbuk pada sebuah dinding tinggi. Dirinya sendiri.
Jika kita mengenang When Harry Met Sally salah satunya berkat adegan telepon yang memorable antara Harry dan Sally kepada masing-masing sahabatnya (yang juga suami istri), maka Ira & Abby juga punya adegan memikat ketika editing dengan cerdik menempatkan Ira, Abby berikut kedua orang tua mereka mendatangi analis yang berbeda-beda. Dengan gambar yang berpindah-pindah cepat dengan menyorot nama analis yang beda-beda, pelan-pelan tahulah kita bahwa mereka semua ternyata mencoba mendatangi analis untuk curhat.
Banyak berseliweran dialog-dialog jenial yang dituturkan dengan intonasi yang oleh pemerannya. Ya, Ira & Abby juga mendapatkan momentumnya berkat kasting yang tepat. Messina dan Westfeldt adalah kandidat yang sungguh cocok sebagai pasangan. Susah jadinya membayangkan jika mereka berdua diperankan oleh orang lain. Terutama Westfeldt yang tahu betul memainkan karakter kharismatik dan manis seperti Abby. Dan tak bisa dilupakan dukungan pemain pembantu, -semisal kedua orang tua Ira dan Abby yang semuanya bermain cemerlang-, yang menjadikan film ini makin susah dilewatkan begitu saja.
Namun sayang memang (dan kenyataannya) film ini terlewat begitu saja oleh banyak orang. Nyaris tak kedengaran gaungnya di bioskop, bahkan di negara asalnya sekalipun.






LEAVE A REPLY