Home FILM Pahit Getir Hidup di Amerika

Pahit Getir Hidup di Amerika

Film In America [2002]

18
0
SHARE
Pahit Getir Hidup di Amerika

Amerika punya segudang daya tarik. Tak heran jika imigran gelap maupun legal dengan berbagai tujuan, beramai–ramai menyambangi Amerika. Ada yang bermimpi bisa meniti karir di Amerika, tapi banyak yang tak siap dengan keras kehidupan di sana.

Seperti halnya keluarga Sullivan. Johnny (Paddy Considine) dan Sarah (Samantha Morton), pasangan suami istri dengan dua gadis cilik, Christy (Sarah Bolger) dan Ariel (Emma Bolger). Berempat mereka bermimpi bisa hidup lebih layak dari yang mereka jalani semasa masih di Irlandia. Di tempat tinggal mereka yang baru, sebuah rumah kost kumuh, mereka menjalani hari demi hari. Mereka berjuang mengatasi berbagai hal, mulai dari yang sepele seperti udara yang sangat panas hingga yang berat seperti mencari nafkah. Begitupun, toh mereka berusaha mengatasi semuanya dengan baik. Disini pula, Christy dan Ariel menjalin hubungan persahabatan yang unik dengan Mateo (Djimon Hounsou), seorang pria kulit hitam yang gemar mengisolasi diri. Mateo yang telah lama kesepian seperti mendapat energi baru dengan hadirnya 2 gadis cilik yang segera menjadi teman akrabnya.

In America berangkat dari pengalaman pribadi Jim Sheridan yang duduk di kursi sutradara. Dalam penulisan naskahnya, Jim malah dibantu dua putrinya, Naomi dan Kirsten. Jadinya, In America terasa sangat manis, apalagi karena mengambil sudut pandang Christy. Karya kesekian Sheridan setelah sukses dengan film seperti My Left Foot (1989), The Boxer (1997) dan In The Name of The Father(1993) ini terasa sangat menyegarkan, di beberapa segi bahkan terasa sangat polos, cenderung ‘kekanak – kanakan’. Mungkin juga karena kepolosan akting Bolger bersaudara yang sungguh alamiah. Susah rasanya tak jatuh hati pada sosok Ariel yang ceriwis dan baik hati, juga pada Christy yang dewasa di usia belia. Anak–anak inilah yang mencerahkan layar sepanjang film berlangsung.

Penonton dibawa memasuki dunia ‘kecil’ keluarga Sullivan yang sesekali beriak, akibat duka yang belum juga pudar setelah kematian putra pertama mereka, Frankie. Yang disayangkan hanyalah skenario terasa terlampau mulus untuk mencoba menyajikan pahit getirnya hidup di Amerika. Di beberapa segi, karakterisasi juga cenderung tak jelas. Tokoh Mateo yang sangat berpeluang jadi scene stealer pun tak dieksplorasi betul latar belakangnya. Maka penonton hanya terharu tanpa bisa merasakan sepinya hidup Mateo ketika kamera menyorot wajahnya yang berlinang air mata ketika dikunjungi Ariel dan Christy untuk pertama kali. Ariel pun terlihat terlalu gampang ‘jatuh hati’ pada Mateo, padahal sosok Mateo bukan tidak mungkin bakal ditakuti anak–anak berkat perawakannya yang tinggi besar berbalut kulit legam.

Secara kualitas, In America boleh disejajarkan dengan The Sweet Hereafter (1997) yang menyajikan problematika serupa. Namun masing–masing tentu punya kelemahan dan kelebihan. In America lemah dari segi penceritaan yang terlampau konstan. Di beberapa bagian nyaris mirip opera sabun. Penonton pun rasanya sulit diyakinkan akan kerasnya hidup di Amerika dengan cerita semanis itu. Jadinya sebagian penonton mungkin menganggap In America pointless semata. Yang sangat boleh jadi dikenang hanya kealamiahan para pemainnya. Sepertinya inilah jualan utama In America. Dengan sebarisan pemain berkarakter, kita seperti tak menyaksikan film yang direkayasa, melainkan sebuah kenyataan hidup. Bukan sekedar pengalaman hidup yang difilmkan. 

Video Terkait: