Berbagai belahan dunia di Asia saat ini tengah menunjukkan gelagat untuk menggeliat, bangkit, dan bertarung di kancah internasional. Korea dan Thailand adalah salah satu garda terdepan yang menunjukkan kecemerlangan Asia dewasa ini. Singapura, negeri tetangga kita pun mulai bergerak untuk turut dalam gerbong kebangkitan sinema Asia itu. Dan mereka melakukannya tidak dengan film yang dibuat dengan bujet luar biasa besar, tak gila–gilaan dalam menyewa pemain mahal atau menyodorkan cerita fantastis. Jack Neo yang jadi sutradara I Not Stupid hanya ingin bercerita hal–hal sehari-hari yang mungkin luput dalam pengamatan kita. Yang lebih menyenangkan, ia memotretnya dari sudut pandang anak–anak yang polos. Maka I Not Stupid hadir sebagai tontonan yang sebenarnya punya banyak muatan, namun dikemas sedemikian rupa oleh Neo sehingga terasa seperti komedi ringan semata.
Lantas cerita disilang dengan kisah kehidupan ketiga keluarga yang menyertainya. Yang menarik, Neo pandai betul menata cerita sehingga make sense, ada sebab-akibat yang jelas yang membuat film ini harus diacungi jempol berkat efektifitas komunikasi yang dipergunakannya. Neo juga pandai mengemas akting para pemainnya yang sangat komikal, penggunaan musik yang mendukung nyawa adegan, dan cara pengambilan gambarnya yang efektif membantu menciptakan nuansa penuh tawa. Dengan kombinasi tiga unsur penting ini, sungguh sulit untuk tak tertawa menyaksikan film berdurasi 105 menit ini. Maka tawa terus-menerus sepanjang film adalah hal yang biasa mengiringi I Not Stupid. Tapi di beberapa bagian, Neo pandai pula mengaduk–aduk perasaan penonton dengan memunculkan beberapa adegan sedih yang tak terkesan tempelan demi mendramatisasi keadaan.
Dan siapa sangka kalo ternyata komedi yang disangka ringan ini adalah alegori keadaan politik negeri Singapura saat ini. Tanpa sadar, ketika masyarakat Singapura tertawa menikmati I Not Stupid, sebenarnya mereka menertawakan pula diri sendiri. Dan Neo dengan cerdik menyampaikannya tidak dengan berceramah lantang, justru dibangun dari suasana yang diciptakan sedemikian rupa.
Neo menyadarkan kita untuk lebih memperhatikan sekeliling -lingkungan yang paling dekat dengan kita-, karena di situlah sumber cerita sebenarnya yang tak habis–habisnya bisa dieksplorasi. Tinggal bagaimana mengemasnya dan membuatnya berbicara jujur kepada penonton. Dengan formula seperti ini, rasanya penonton akan gampang jatuh hati, karena seperti bercermin ke diri dan keluarga yang melingkupinya. Begitu pula dalam I Not Stupid. Situasi yang terjadi sangat alamiah, sangat wajar menimpa siapa saja, dengan kisah yang diupayakan se-universal mungkin agar bisa diterima banyak pihak.
Yang terpenting, film seperti ini ternyata bisa mencetak duit banyak di Singapura. Suatu hal yang patut ditiru oleh sineas yang mungkin baru saja mau memulai karir di film secara profesional, namun memilih menelurkan karya yang ruwet karena ingin dianggap jempolan. Neo membuktikan bahwa hal remeh-temeh ternyata bisa dipakainya sebagai tameng untuk melancarkan kritik pedas terhadap keadaan Singapura terkini. Dan karena disampaikan dengan halus, siapapun tak akan merasa tersinggung secara langsung. Bukankah ini menarik?






LEAVE A REPLY