Facebook menjadi buah bibir dunia dalam 5 tahun terakhir. Pertumbuhannya begitu masif dan kini bahkan kalangan bawah pun ikut mencoba mencicipi ‘nikmatnya’ situs jejaring sosial itu. Teknologi sesungguhnya diciptakan untuk sebuah tujuan mulia, namun manusia pula yang membelokkannya ke arah yang sesat. Sebuah fenomena yang tak dapat dihindari pada jaman dimana ruang dan waktu menjadi tak berbatas.
Maka wajar saja jika Facebook lantas menyita perhatian Alberthiene Endah. Perempuan yang terutama dikenal karena kepiawaiannya menulis biografi artis itu pun menuangkannya ke dalam sebuah skenario. Genre drama pun dipilih. Dalam perjalanan pengembangannya, dimasukkan bumbu komedi juga thriller. Dan hasilnya menjadi sebuah kombinasi yang menarik.
I Know What You Did on Facebook juga menjadi comeback bagi Awi Suryadi setelah berkubang dengan sejumlah film yang tak memperlihatkan kehandalannya sebagai sutradara. Padahal Awi pernah menyedot perhatian ketika berhasil membesut sebuah komedi romantis nan memikat di tahun 2008. Oleh sejumlah kritikus, film itu, Claudia/Jasmine, diacungi jempol sebagai salah satu komedi romantis kontemporer yang patut diberi catatan tersendiri.
Disini Awi seperti menemukan padang maha luas, dimana dirinya bisa bermain-main dengan berbagai elemen. Eksperimen pun dilakukan, termasuk di dalamnya mengubah arah cerita dari total drama menjadi dark comedy thriller. Memang tak mudah, namun sebagai anak muda masa kini, Awi yang ikut menulis skenarionya tahu betul apa yang hendak disampaikannya. Ini problem yang terlihat betul dikuasainya. Ia mengembangkan plot utama berupa cinta segitiga yang diimbuhi cat fight (perkelahian sesama perempuan) yang super seru, plus sub-plot yang tak kalah menarik berupa istri yang tersia-siakan oleh sang suami, hingga isu homoseksualitas.
Cinta segitiga itu antara Luna (Fanny Fabriana), Reno (Edo Borne) ,dan Via (Kimmy Jayanti). Awalnya adalah sebuah keisengan. Luna yang sudah menjalin hubungan selama 3 tahun dengan Reno merasa hubungannya berjalan di tempat dan tak jelas arahnya. Via yang dikenalnya sejak SMP juga merasakan hal yang sama dengan kekasihnya. Kedua perempuan yang memiliki karakter bertolak belakang ini pun akhirnya saling curhat satu sama lain. Curhat yang berbuah ide gila. Via menawarkan untuk saling menggoda pasangan masing-masing via Facebook. Only on Facebook! Awalnya Luna ragu, namun akhirnya menerima. Via yang menelurkan ide rupanya tak tahan hanya bersua di dunia maya. Ia ingin bertemu Reno di dunia nyata. Dan hasilnya, Via jatuh cinta setengah mati pada Reno!
Materi cerita yang sesungguhnya tak orisinal ini dan bisa terjadi dalam era apapun itu (tentu saja dengan mengindahkan medium Facebook sebagai penanda jaman) bisa disilangkan dengan sub-plot yang juga berkembang baik. Antara lain, cara bersinergi dengan plot utama dan tak mengganggu keberadaannya. Kredit perlu diberikan pada pemilihan pemain yang tepat. Luna yang anggun dan settle sungguh pas di tangan Fanny (yang bermain cemerlang dalam Hari Untuk Amanda) sementara Via yang berangasan dan ‘berani bermain api’ tampak pas secara fisik di tubuh Kimmy Jayanti.
Eksplorasi Awi tak hanya berhenti di segi cerita semata. Ia juga memanfaatkan elemen sinematografi dan editing untuk memperkuat eksperimentasinya kali ini. Shot demi shot yang dihasilkan Roby Herbi meski sesungguhnya terasa banyak mencomot ide dari film luar, namun terasa menyegarkan bagi penonton awam. Tak hanya terlihat artistik, namun juga menarik secara visual. Sementara editing juga terlihat lincah. Ramatyo Wicaksono berani keluar dari pakem konvensional dan bisa membagi layar menjadi 3 bagian dan lantas menyatukannya kembali. Ide yang juga sebenarnya tak baru (karena pernah dipakai dalam video klip Destiny's Child berjudul Emotions ataupun dwilogi Kill Bill besutan Tarantino) namun tetap harus dipujikan karena keberanian menyajikan pendekatan non konvensional.
Meski dengan sederet kelebihan yang ada, I Know What You Did On Facebook tetap harus ditempatkan pada posisinya sebagai film hiburan. Well, ini film hiburan yang bisa dieksekusi dengan baik. Dan harapannya tentu saja juga bisa diapresiasi penonton dengan baik pula. Semoga!






LEAVE A REPLY