Ini jaman edan. Jaman ketika menjadi wakil rakyat tak lagi dianggap sebagai amanah, melainkan sebagai jalan untuk meraih popularitas, juga menggelembungkan pundi-pundi. Akibatnya banyak selebriti kagetan. Kehidupan sehari-hari pun menjadi panggung. Tempat beroleh sorotan dan tepuk tangan yang bisa membuat dada terbusung. Padahal banyak dari wakil rakyat itu yang tak berhitung dengan kapabilitasnya sendiri. Banyak diantara mereka yang tak bermodal cukup, sehingga mampu menghayati tugasnya dengan baik.
Seperti halnya menjadi wakil rakyat, menjadi sutradara sesungguhnya juga bukan persoalan remeh. Sutradara adalah Tuhan dalam film. Ia punya hak maha luas untuk menentukan segalanya. Dan disadari atau tidak, menjadi sutradara juga bukan hanya pada persoalan ‘ada hal yang harus disampaikan sendiri karena dikhawatirkan jika ditangani orang lain, maka misi tersebut tak tersampaikan dengan baik’. Sutradara ibarat komandan di medan laga. Ia mesti menguasai segala aspek peperangan, mengerti persenjataan, dan tahu bagaimana berdiplomasi dengan pihak musuh.
Sayang karena kita hidup di jaman edan, maka segalanya bisa sangat digampangkan. Cukup banyak mereka yang (sebenarnya) tak punya kemampuan yang memadai yang nekat menjadi sutradara. Banyak yang berhasil, namun tak sedikit yang gagal. Dalam I Hate Valentine's Day, Nia Vardalos terlihat menginginkan segalanya. Mengontrol segala aspek dalam film tersebut. Ia menjadi sutradara merangkap penulis skenario merangkap pemain utama. Tiga pekerjaan besar di pundak seseorang dengan jam terbang yang belum lagi tinggi. Maka sudah bisa dibayangkan apa hasilnya. Sebuah malapetaka!
Premis ceritanya saja sebenarnya sudah membuat kening berkerut. Apa jadinya jika seorang perempuan yang membenci hubungan dan membuat aturan untuk melalui kencan hanya dalam 5 kali tarikan? Bisa dibayangkan jika perempuan seperti itu benar-benar ada dalam kehidupan sehari-hari. Dan aturan yang dibuatnya pun terdengar menggelikan. Kenapa harus 5 kali? Jika tak ingin hubungan, kenapa tak menjalaninya sekali saja, tak perlu sampai 5 kali kan?
Itulah Genevieve (Nia Vardalos), sosok perempuan ‘ajaib’ yang menyukai bunga dan punya toko bunga sendiri. Ia menerapkan aturan itu dengan keras bagi dirinya sendiri. Dan ia mencoba menyebarkan aturannya itu kepada orang lain. Formula itu diyakininya berhasil dan bisa membuatnya menjalani hidupnya dengan baik tanpa sakit hati. Hingga suatu ketika ia bertemu Greg (John Corbett).
Nia dan John yang digilai penonton dalam My Big Fat Greek Wedding mendadak seperti memerlukan pertolongan Mak Erot dalam film ini. Nia terlihat aneh dengan senyum yang terus menerus terpajang di wajahnya yang sebenarnya menarik. Sementara John pun terlihat aneh karena karakterisasi perannya yang tak jelas. Karakter yang aneh dan tak jelas dan reaksi kimiawi yang 'tak jalan' antara Nia dan John membuat komedi romantis ini sudah kehilangan poin besarnya. Ditambah skenario buatan Nia yang rasanya ditulis dengan mengedepankan egoisme Nia sebagai sutradara dan pemain membuat semuanya menjadi blunder. Plus berkat dukungan penyutradaraan Nia yang mentah sama sekali membuat I Hate Valentine's Day menjelma disaster. Musibah bagi karir Nia, juga bagi penonton yang memirsanya.
Di situlah letak kesalahan film ini. Jika saja Nia lebih fokus dalam membangun struktur cerita sehingga terasa lebih rasional dan mengalir, dan membiarkan orang lain mengolahnya menjadi bahasa audio visual, maka mungkin I Hate Valentine's Day tak akan begitu dibenci penonton. Ini pelajaran bagi Nia Vardalos untuk kembali melihat ulang kemampuannya dan semoga di kesempatan mendatang mampu kembali melahirkan karya semenarik My Big Fat Greek Wedding.






LEAVE A REPLY