Home FILM Makna Rumah Sebenar-Benarnya

Makna Rumah Sebenar-Benarnya

Film House of Sand and Fog [2003]

18
0
SHARE
Makna Rumah Sebenar-Benarnya

Ternyata, rumah tak sekedar tempat tinggal. Rumah adalah simbolisasi berbagai elemen kehidupan yang melingkupi. Rumah bisa jadi simbol status, kenangan masa lalu, eksistensi sebuah keluarga hingga pertaruhan nyawa. Sekompleks itukah makna rumah yang sebenar–benarnya?

Bagi Andrew Dubus III, seperti itulah. Dalam novelnya yang lantas dilayarperakkan oleh Vadim Perelman, rumah bermakna seribu satu bahasa. House of Sand & Fog dibungkus oleh nuansa thriller yang mencekam sepanjang film, menebarkan benih–benih interpretasi beragam sepanjang 126 menit durasinya. Bagi Kathy (Jennifer Connelly), rumah tak hanya tempatnya berdiam, melepaskan diri dari berbagai kepenatan yang menghinggapinya. Rumah yang ditinggalinya merupakan tempat dimana kenangan masa lalu akan perjuangan ayahnya bermuara.

Maka Kathy sungguh mencak–mencak ketika mendapati rumahnya dilelang akibat kewajiban pajak yang tak dilunasinya. Ironis memang karena Kathy justru tak merasa menunggak apapun, bahkan tak punya kewajiban melunasi pajak usaha, karena dirinya tak mengelola usaha. Ia hanya seorang istri kesepian yang ditinggal pergi suaminya, entah sampai kapan.

House of Sand & Fog makin menajamkan masalah dengan memperkenalkan karakter baru bernama Kolonel Massoud Behrani (Ben Kingsley). Behrani yang imigran asal Iran, berniat membeli rumah milik Kathy. Rumah yang ditempatinya dikontrak dengan sewa super mahal, membuatnya tak sanggup untuk meneruskannya. Semula istrinya Nadi (Shohreh Aghdashloo) menolak. Namun setelah tahu alasan suaminya, ia pun patuh dengan keputusan suaminya, meninggalkan rumah mewah yang telah ditempatinya bertahun–tahun.

Setelahnya, Perelman makin pintar menyetir suasana, mendorongnya dengan masalah–masalah baru, menabrakkannya dengan isu kewarganegaraan, hingga persoalan kejamnya hidup. Sedikit berlebihan, terasa ekstrim oleh sebagian orang mungkin, tapi itulah yang menjadi nyawa novel Dubus yang mulus ditransfer menjadi bahasa gambar oleh Perelman. Berbagai kejutan terjadi, berbelok–belok ke arah yang tak terduga dan membuat House of Sand & Fog tak bisa diremehkan sebagai tontonan thriller. Siapa yang tak merinding mendapati kenyataan bahwa persengketaan sebuah rumah bisa berujung pada beragam masalah, bahkan hingga ke kematian?

Rasa merinding yang merendengi sepanjang film juga ditunjang penuh oleh pameran akting maha dahsyat dari aktor sekelas Ben Kingsley, Jennifer Connelly, dan Shohreh Aghdashloo. Kingsley, seperti halnya Robert De Niro, nyaris tak pernah bermain buruk dalam setiap filmnya. Bedanya dengan De Niro, Kingsley terkenal sangat selektif memilih peran. Bukannya De Niro tak selektif, tapi Kingsley bena–benar hanya bermain dalam sebuah film yang menuntutnya bermain total. Rasanya susah membayangkan Kingsley memainkan peran yang dimainkan De Niro dalam komedi Meet The Parents (2000) misalnya. Sementara Connelly harus diacungi jempol berkat kepandaiannya memilih peran. Jika seorang aktris justru meredup sinarnya setelah mendapat Oscar, maka Connelly sebaliknya. Nama–nama seperti Gwyneth Paltrow atau Helen Hunt tak terdengar lagi kabarnya setelah merenggut penghargaan prestisius itu bertahun–tahun silam. Halle Berry justru banting setir menjadi bintang film action di X-Men dan Catwoman setelah kemenangannya dalam drama Monster’s Ball (2001). Tapi Connelly yang dianugerahi Oscar lewat A Beautiful Mind (2001) masih mampu mencuri perhatian kritikus berkat penampilannya dalam film ini.

House of Sand & Fog menawarkan perspektif dalam memaknai rumah yang sebenar–benarnya. Betulkah rumah yang kita tinggali hanya sekedar benda, tak bernyawa, dan tak punya kekuatan apapun dalam mewarnai hidup? Di House of Sand & Fog, premis ini diobrak–abrik dan berhasil tepat ke sasaran.

Video Terkait: