Tahun 2016. Karir profesional saya sebagai produser film sudah berjalan 5 tahun. Sudah 5 film panjang dihasilkan. Dan saya memutuskan untuk “pulang”.
Bagi para perantau, pulang adalah sebuah kemewahan. Pulang tak lagi sesederhana ketika kita baru meninggalkan kampung halaman. Setelah bertahun-tahun berjuang, kita tahu suatu saat kita akan pulang untuk berkarya.
Di tahun itu, saya memilih untuk pulang ke Makassar dan menyusuri cerita-cerita yang familiar buat saya. Saya memilih isu kawin lari untuk berbicara 2 hal yang menurut saya penting: soal adat dan keluarga. Maka jadilah SILARIANG: Cinta Yang [Tak] Direstui bukan sebagai kisah yang sudah dipahami sebagian besar orang tapi juga tentang hubungan orangtua dan anak, dan juga tentang bagaimana seharusnya adat memanusiakan manusia.
Di film itu, kita bertemu dengan Yusuf yang dengan gagah berani menantang adat. Dan situasi ini banyak terjadi di beragam suku lainnya. Karakter Yusuf sekilas tampak seperti Domu yang tak ingin terkungkung dalam adat Batak dan menikahi gadis Sunda. Jika Yusuf menantang secara terang-terangan, Domu memilih jalan senyap. Karena ia tahu ayahnya akan menentang dan menantangnya habis-habisan.
Domu ada di semua lapisan suku di Indonesia. Dibesarkan di kampung halaman, merantau sedari muda dan akhirnya berbaur dengan lapisan masyarakat lainnya. Domu yang Batak kini menjelma menjadi Domu yang Indonesia yang tak lagi sempit melihat kesukuan.
Domu punya masalah komunikasi dengan ayahnya. Sama seperti yang dialami banyak anak laki-laki termasuk saya. Sebelum merantau, hubungan saya dengan ayah saya tak terlalu baik. Saya bahkan merantau diam-diam, tak meminta ijin ke beliau karena tahu tak bakal diijinkan. Dan sosok Bapak di Ngeri-Ngeri Sedap adalah representasi para ayah dari generasi X.
Yang banyak dari kita baru tahu kemudian adalah diam-diam para bapak dengan para anak yang merantau itu juga merindukan diam-diam. Perlahan hubungan saya dengan ayah saya membaik justru setelah saya meninggalkan kampung halaman. Kami bisa berbicara lebih terbuka soal apapun dari ke hati. Ketika bertemu, kami pun tak sekaku sebelumnya.
Mau Batak atau Makassar, sosok Bapak dari generasi X mungkin memang sebagian besar sekaku itu. Maka trenyuhlah kita ketika Domu curhat ke adik perempuan satu-satunya, “kami tak pernah diperlihatkan oleh Bapak bagaimana cara berkomunikasi sesama laki-laki.” Maka Domu, Gabe dan Sahat pun hampir sekaku ayah mereka ketika berada di satu ruangan yang sama. Mereka tak punya role model sosok laki-laki yang bisa bersikap cair kepada anak-anaknya.
Menarik sekali melihat bagaimana sosok Bapak diperlihatkan sehitam putih itu ke penonton. Dan yang lebih menarik adalah penggambaran itu terasa tak menghakimi. Hanya mengajak penonton untuk melihat tanpa menyalahkan, hanya mengajak penonton untuk mendengarkan tanpa membenarkan. Mungkin sekilas Bapak terasa seperti sosok dua dimensi tapi di tangan aktor sehebat Arswendi Nasution, sosok yang susah sekali untuk disukai ini bisa menjelma seperti Bapak yang saya temui di rumah. Bapak yang mungkin pernah kita benci tapi akan selalu kita sayangi sepenuh hati. Dengan sorot mata dan lenturnya olah tubuh, kita tahu Bapak adalah sosok ayah yang diam-diam merindukan anak-anaknya untuk pulang. Tapi gengsinya terlalu berlebihan mengalahkan rindunya. Bapak adalah sosok yang tak ingin disalahkan tapi juga bisa kok untuk belajar dari kesalahan-kesalahan yang dilakukannya. Bapak adalah sesungguh-sungguhnya manusia tempatnya keliru.
Bertahun-tahun di rantau, bahkan setelah saya punya 2 anak sekalipun, ayah saya tetap menjadi sosok yang selalu mengingatkan untuk tak terlalu capek, untuk selalu ingat shalat dan mendoakan ibu dan adik saya. Dan saya sudah melupakan sosoknya yang dulu pernah hanya memberi saya 2 pilihan kuliah: Teknik atau Kedokteran. Di cerita Ngeri-Ngeri Sedap saya juga menjadi Gabe dengan pilihan profesi yang tak disukai ayahnya. Gabe menjadi komedian, saya menjadi pembuat film. Tapi waktu menyembuhkan, pelan-pelan ayah saya menghargai pilihan-pilihan yang saya ambil secara sadar dalam hidup.
Bagi Bene Dion, mungkin ini kerinduannya untuk selalu pulang. Sekali lagi, pulang bagi perantau adalah kemewahan. Tapi kita pun belajar bahwa rumah adalah tempat dimana hati kita merasa nyaman. Betapapun kita akan terus mencari jalan untuk pulang.
NGERI-NGERI SEDAP
Produser: Dipa Andika Nurprasetyo
Sutradara: Bene Dion Rajagukguk
Penulis Skenario: Bene Dion Rajagukguk
Pemain: Arswendy Bening Swara, Tika Panggabean, Boris Bokir






LEAVE A REPLY