Home FILM Perang Saudara di Tanah Prancis

Perang Saudara di Tanah Prancis

Film Athena [2022] - Tayang di Netflix

1
0
SHARE
Perang Saudara di Tanah Prancis

Tahun 1962. Ayah saya baru berusia 12 tahun dan Aljazair akhirnya mengakhiri perang yang melelahkan.

Konflik bersenjata itu ganas, melelahkan dan berlarut-larut. Terjadi selama hampir 8 tahun. Setelah menguasai Aljazair selama 132 tahun, Prancis yang marah dan bertahan membabi buta akhirnya menyerah.

Tapi dalam perang, semuanya kalah. Sekitar 1,5 juta orang warga Aljazair menjadi korban perang sementara sebanyak 29 ribu tentara Prancis harus meregang nyawa di medan laga. Dan kita kembali membaca karya sastra Prancis terkenal, La Guerre D’Algerie, yang ditulis Jules Roy. Kita kembali terdiam dan hening ketika membaca gabungan memoar dan pernyataan politik itu.

Perang bisa saja terjadi karena kesalahpahaman. Berselang 60 tahun setelahnya, “Athena” mengangkat perang ala “The Battle of Algiers”. Konflik yang dipicu oleh kematian bocah 13 tahun, Idir, yang diduga dihabisi oleh sekawanan polisi. Karim, kakaknya, geram mendengar berita itu dan serta merta memutuskan untuk menyerang polisi tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu.

Padahal Abdel, kakak Karim dan Idir, juga adalah seorang polisi. Tapi Karim yang dibakar amarah tak mendengar apapun. Ia menutup kupingnya rapat-rapat. Kematian Idir menyulut kemarahan terpendam warga keturunan Aljazair di kompleks pemukiman bernama Athena itu. Dan perang saudara pun berkobar.

Dalam peperangan, kita sulit mendengar suara yang jernih. Karena kita dikuasai amarah, otak dan hati kita sudah tak bisa berfungsi dengan baik. Dan dalam kondisi terdesak, kita akan melihat watak manusia sebenarnya. Seperti Moktar, kakak tertua Abdel, Karim dan Idir, yang cuma hirau dengan stok narkotikanya ketika pemukiman dilanda kekacauan. Ia jelas tak ingin melibatkan diri, ia hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri. Dan Abdel dan Karim berada di tengah kekacauan itu.

Kita lantas melihat “Athena” yang seperti direka ulang dalam skala kecil dari film “The Battle of Algiers” produksi tahun 1966. Polisi yang mewakili Prancis dan warga yang mewakili Aljazair dan kebenaran yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Ketika terjadi kekacauan, kita tak lagi hirau mencari kebenaran. Kita hanya sibuk mencari kambing hitam. Harus ada seseorang yang disalahkan, tak peduli ia benar atau salah.

Tapi perang selalu punya dua sisi mata uang. Ia tak hitam putih. Polisi tak selamanya sejahat yang kita kira dan warga pun tak selamanya sebersih yang kita bayangkan. Yang jadi korban adalah warga tak bersalah. Mereka harus dievakuasi, pergi dari rumah yang memberi kedamaian selama bertahun-tahun. Padahal sesungguhnya banyak diantara mereka yang bahkan tak mengerti mengapa perang itu harus terjadi.

Meski punya cerita sederhana, sutradara Romain Gavras memberi pengalaman sinematik menakjubkan. Ia merekam banyak adegan dalam sekali pengambilan [one-shot], termasuk adegan pembuka yang durasinya hingga 11 menit itu. Intensitas pun terjaga, suasana chaos terekam dengan cemerlang dan terutama Romain memberi penonton sebuah pengalaman menyaksikan apa yang terjadi dalam konflik dari dekat.

“Athena” pun jadinya terasa dekat yang menjadikannya mengerikan, juga terasa dekat yang menjadikannya membingungkan. Dalam perang, kita seringkali kehilangan arah dan kebingungan. Kita tak tahu kemana hendak berpihak dan pada akhirnya yang terpikirkan adalah bagaimana mengurus diri sendiri. 

Saya membayangkan diri saya adalah Idir yang jadi asal muasal dari perang ini. Saya membayangkan bocah itu akan menangis ketika melihat kematiannya menjadi api bagi dendam yang dipelihara sejak lama. Saya membayangkan Idir akan menyesali dirinya yang harus mati dengan cara seperti itu. Alih-alih kematiannya direnungi dengan khidmat malah berakhir sebagai perang saudara di tanah kelahirannya.

Dan dalam perang, yang hilang dari kita adalah kemanusiaan. Kita melihat manusia yang tak setuju dengan kita sebagai musuh yang harus dibasmi. Kita memaksakan kehendak kita kepada orang lain yang tak setuju dengan kita. Dan di titik ini, kita berhenti untuk memahami. Kita berhenti untuk berempati. Dan kita berhenti menjadi manusia.

Pada Februari 2005, Hubert Colin de Verdière, duta besar Prancis untuk Aljazair, secara resmi meminta maaf atas perang Aljazair dan menyebutnya sebagai “tragedi yang tidak bisa dimaafkan”.

Video Terkait: