Tahun 582. Umar bin Khattab dilahirkan dan segera menjadi tak sekedar sahabat Nabi Muhammad SAW namun juga menjadi seorang pembela Islam yang terkenal dengan julukan “singa padang pasir”.
Umar diberi gelar itu karena pembawaannya yang berani dan tak kenal takut. Ia berani menghadapi situasi mengancam nyawa namun di saat bersamaan bisa terlihat cerdas dan mendamaian kabilah yang tengah berselisih.
Saat Kaouther Ben Hania, sutradara film The Voice of Hind Rajab, menenggelamkan saya dalam sebuah situasi tak terbayangkan, sebuah suara itu terngiang-ngiang terus di telinga saya. Ucapan dari seorang ibu untuk anak perempuannya yang masih kecil dan terperangkap dalam mobil di tengah pertempuran sengit di Gaza. Ucapan yang dilontarkan melalui jaringan telepon kepada Hind Rajab, si gadis kecil itu, seperti memberi kekuatan untuk terus bertahan. “Jadilah pemberani seperti singa, “ ujar ibunya yang berada jauh dari Hind Rajab yang mungkin menahan tangis sekuat tenaga namun ingin agar putrinya terus berjuang hingga akhir hayat. Dan sepanjang durasi film selama 89 menit, kita tahu betapa Hind Rajab telah menjelma serupa Umar bin Khattab di tengah peperangan dan terus meredam rasa takutnya dengan tetap melakukan komunikasi via telepon agar ia bisa ditolong sesegera mungkin.
Rekaman suara Hind Rajab terdengar pilu ke seluruh dunia. “Datang dan selamatkan saya” yang diucapkannya lirih namun tak panik dan mencoba setenang mungkin di tengah berondongan senjata dan bom yang bisa meledak sewaktu-waktu. Rekaman suara ini menjadi alasan utama yang terasa urgensinya bagi Kaouther untuk menjadikannya sebagai basis dari film ini. Maka selama 89 menit kita pun menahan napas, bergidik dan merasakan nyeri di ulu hati dan berusaha menahan tangi walau berkali-kali jebol.
The Voice of Hind Rajab memusatkan ceritanya di sebuah ruangan pengendali yang menerima panggilan telepon darurat dari mereka yang berada di tengah peperangan. Melalui seorang pamannya yang berada di luar negeri, Hind Rajab tersambung dengan seorang petugas, Omar, yang segera tahu betapa daruratnya kondisi yang dialami si gadis kecil itu. Seiring film berjalan kita tahu eskalasi masalah semakin runyam dan Hind harus segera ditolong. Namun sejumlah hambatan terutama terkait regulasi dan keselamatan tim pengamanan membuat Omar gemas dan marah besar ke atasannya, Mahdi. Tapi kita tahu Mahdi pun ingin menolong Hind sesegera mungkin namun ia tak bisa bertindak tanpa kalkulasi risiko yang jelas. Peperangan itu sudah menelan cukup banyak korban dari tim pengamanan. Sudah berapa banyak istri dan anak-anak yang harus kehilangan ayah mereka yang menyabung nyawa demi menyelamatkan nyawa orang lain.
Tapi di ujung telepon itu Hind mengiba. Dan kita tak tahan mendengarnya terutama bagi saya yang punya dua orang anak perempuan. Ia berkali-kali meminta didatangi dan diselamatkan. Harapan satu-satunya pada Omar. Maka Omar pun mesti bertengkar hebat dengan Mahdi yang juga berusaha keras mencari jalan agar Hind bisa diselamatkan.
Lantas Rana datang dan mencoba menghibur Hind. Kedua perempuan dengan usia terpaut jauh itu berusaha saling menenangkan. Bahkan Rana mencoba berdoa bersama Hind agar membuat situasinya tenang. Tapi kita melihat Rana melakukannya dengan penuh linangan airmata seperti kita yang menontonnya di bioskop. Ini adalah sebuah situasi intens, tak terbayangkan dan mengoyak hati. Di saat yang sama Rana dituntut untuk tenang dan profesional. Namun di saat yang sama pula ia sepertinya tahu apa yang akan terjadi pada Hind. Hingga panggilan telepon dari ibu Hind datang dan berujar lembut mencoba menenangkan hati putrinya. “Jadilah pemberani seperti singa.”
Dalam situasi hidup dan mati seperti yang dialami Hind, apa yang kira-kira akan kita lakukan? Apakah kita tetap bisa setenang dia? Apakah kita tetap bisa sepercaya dia bahwa tim pengamanan akan segera datang dan menyelamatkannya? Dan bagaimana kita akan menghadapi detik-detik kematian yang mengintai kita di depan mata?
The Voice of Hind Rajab akhirnya berbunyi lantang ke seluruh dunia bukan sekedar karena ujaran “datang dan selamatkan saya” dan “jadilah pemberani seperti singa”. Ia berbunyi lantang ke seantero jagat mengingatkan kita bahwa peperangan tak sekedar menghancurkan apa yang sudah kita bangun di masa lalu dan di hari ini namun juga memporakporandakan masa depan ketika anak-anak tak berdosa ikut mati di tengahnya.
Gadis kecil bernama Hind Rajab itu tak berhenti sekedar sebagai simbol keberanian. Ia menjelma sebagai suara dari hari ini yang akan terdengar hingga bertahun-tahun ke depan. Sebuah suara jernih yang patut untuk selalu kita renungkan. Dunia macam apa yang dibangun di tengah peperangan yang tak hanya menghancurkan masa depan namun juga peradaban? Dan kita tak bisa lagi menghindar dari kenyataan bahwa kita semua warga dunia ikut bertanggung jawab agar tak ada lagi suara lirih dari ujung telepon yang meminta pertolongan.
Semoga anak-anak perempuan kita juga menjadi pemberani seperti singa. Menjadi pemberani seperti Hind Rajab.
THE VOICE OF HIND RAJAB
Produser: Nadim Cheikhrouha, Odessa Rae, James Wilson
Sutradara: Kaouther Ben Hania
Penulis Skenario: Kaouther Ben Hania
Pemain: Saja Kilani, Motaz Malhees, Amer Hlehel






LEAVE A REPLY